Berita

dradjad wibowo/net

Dradjad H Wibowo: Presiden Mendatang Harus Lebih Intensif Berkomunikasi dengan BRICS

RABU, 16 JULI 2014 | 07:30 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Presiden Indonesia yang akan datang harus berani beda dengan SBY dan membawa Indonesia lebih dekat dengan negara-negara yang bekalangan dikenal sebagai negara-negara BRICS. Negara-negara itu adalah Brazil, Russia, India, China, and South Africa atau Afrika Selatan.

"Dekat dengan BRICS, tanpa harus meninggalkan AS dan G-20. Tapi kerjasama yang sejajar di bidang investasi, perdagangan dan keuangan dengan negara-negara BRICS perlu dilipatgandakan," kata ekonom senior, Dradjad H Wibowo, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Rabu, 16/7).

Pernyataan Dradjad ini merupakan respons atas tatanan ekonomi dunia yang baru. Dalam pertemuan BRICS di Brazil, BRICS sepakat membangun Development Bank dengan modal sebesar 100 miliar dolar AS. Modal dalam kesepakatan yang diumumkan oleh Presiden Brazil, Dilma Rousseff, ini ditanggung rata, dengan Presiden pertama BRICS Bank nanti berasal dari India dan dengan markas bank di Shanghai.


Dengan kedekatan pada negara-negara BRICS ini, lanjut Dradjad, Indonesia harus berani mengurangi ketergantungan terhadap lembaga keuangan internasional seperti IMF dan World Bank. Lebih-lebih kekuatan ekonomi dunia saat ini sudah semakin menyebar, dan tidak lagi unipolar dengan dominasi AS.

Menurut Dradjad, BRICS bank ini, yang didirikan karena tidak sepakat dengan Bank Dunia dan IMF yang tidak memberikan hak suara memadai kepada negara-negara sedang berkembang, akan bisa menandingi Bank Dunia. Apalagi BRICS bank juga akan memberi pinjaman ke negara-negara miskin, khususnya dalam hal pembangunan infrastruktur dan akan memberikan emergency reserve funds dalam "Contingency Reserve Arrangement" sebesar 100 miliar dolar AS untuk membantu negara-negara yang mengalami krisis likuiditas.

Negara-negara BRICS juga, tambah Dradjad, bahkan memiliki banyak orang kaya baru yang sangat likuid, yang sekarang menjadi pemborong properti super mahal di berbagai belahan dunia, termasuk London. Orang-orang kaya baru dari BRICS ini sudah menjadi investor keuangan kelas kakap di dunia.

"Seharusnya Indonesia lebih intensif lagi berkomunikasi dengan BRICS," demikian Dradjad, yang juga Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN). [ysa]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

OJK Catat Penyaluran Kredit Tembus Rp 8.659 Triliun, Sektor UMKM Mulai Tunjukkan Perbaikan

Rabu, 06 Mei 2026 | 08:14

Trump Mendadak Hentikan Operasi Project Freedom di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:52

Harga Emas Rebound Saat Pasar Pantau Geopolitik dan Data Tenaga Kerja

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:23

Sektor Teknologi Eropa Bangkit dari Keterpurukan, STOXX 600 Menghijau

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:05

Kemenag Fasilitasi Kepindahan Santri Ponpes Ndolo Kusumo

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:45

Dana Wakaf Baitul Asyi untuk Jemaah Haji Aceh Diusulkan Naik

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:32

Rudy Mas’ud di Ujung Tanduk

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:09

Rakyat Antipati dengan PSI

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:38

10 Orang Jadi Korban Penyiraman Air Keras Kurir Ekspedisi

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:19

Kapal Supertanker Iran Masuk RI Bukan Dagang Biasa

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:08

Selengkapnya