Berita

ilustrasi/net

Klaim Hashim Ada Ratusan Ribu Pemilih Fiktif Terkesan Mengada-ada

SELASA, 15 JULI 2014 | 20:51 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Klaim Hashim Djojohadikusumo telah memegang bukti kecurangan penyelenggara pemilihan presiden di Jakarta dan Jawa Tengah dengan manipulasi daftar pemilih terkesan mengada-ada. Apalagi Hashim menyebut ada 250 ribu orang pemilih fiktif yang mencoblos Jokowi-JK pada hari pemungutan suara 9 Juli 2014 lalu.

"Ini politik lempar batu sembunyi tangan, juga menunjukkan sikap yang tidak siap menerima kekalahan," kata Jurubicara Tim Pemenangan Jokowi-JK, Hasto Kristiyanto, beberapa saat lalu (Selasa, 15/7).

Justru, ungkap Hasto, apa yang coba dilakukan Hashim saat berkunjung ke Papua pasca pilpres merupakan sikap yang berlawanan dengan apa yang disampaikannya terkait tuduhan sepihak kepada Jokowi. Hasto juga menilai sebaiknya tokoh seperti Hashim ini bicara dengan data dan menggunakan mekanisme hukum yang tersedia.


"Itu tindakan yang paling fair bagi seorang pemimpin. Termasuk bagaimana Hashim menjelaskan laporan dana kampanye yang diduga selain tidak realistis, juga kurang transparan," kata dia.

Hasto melanjutkan bahwa Hashim harus paham bahwa selama ini justru Jokowi lah yang menjadi korban dari berbagai serangan hitam. Diduga proyek serangan hitam ke Jokowi telah menghabiskan puluhan miliar rupiah dan rakyat tetap mencintai Jokowi.

Lebih jauh, Hasto menilai sebaiknya semua pihak mengawasi proses rekapitulasi perhitungan suara, dimana rakyat dan relawan ikut mengawasi dan menjadikan rekapitulasi sebagai proses transparan dan menjunjung tinggi akuntabilitas. Menurutnya, sikap demikian adalah sikap yang lebih terpuji daripada mengobarkan tuduhan curang.

"Kami sudah paham lah, dimana Jokowi menang, di situ dituduh curang. Sementara apa yang terjadi di Jawa Barat, Hashim diam seribu bahasa. Jangan bodohi rakyat yang dengan tulus telah memberikan suaranya kepada Jokowi. Pernyataan Hashim sama saja menuduh rakyat curang," tegasnya. [ysa]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

OJK Catat Penyaluran Kredit Tembus Rp 8.659 Triliun, Sektor UMKM Mulai Tunjukkan Perbaikan

Rabu, 06 Mei 2026 | 08:14

Trump Mendadak Hentikan Operasi Project Freedom di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:52

Harga Emas Rebound Saat Pasar Pantau Geopolitik dan Data Tenaga Kerja

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:23

Sektor Teknologi Eropa Bangkit dari Keterpurukan, STOXX 600 Menghijau

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:05

Kemenag Fasilitasi Kepindahan Santri Ponpes Ndolo Kusumo

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:45

Dana Wakaf Baitul Asyi untuk Jemaah Haji Aceh Diusulkan Naik

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:32

Rudy Mas’ud di Ujung Tanduk

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:09

Rakyat Antipati dengan PSI

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:38

10 Orang Jadi Korban Penyiraman Air Keras Kurir Ekspedisi

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:19

Kapal Supertanker Iran Masuk RI Bukan Dagang Biasa

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:08

Selengkapnya