Berita

ilustrasi/net

Dunia

Mesir Serukan Gencatan Senjata Bagi Hamas dan Israel

SELASA, 15 JULI 2014 | 13:06 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Mesir mengusulkan gencatan senjata bagi Israel dan kelompok Hamas di Jalur Gaza yang telah saling melemparkan serangan udara sejak sepekan terakhir.

Rencana gencatan senjata Mesir itu akan diikuti dengan sejumlah pertemuan dengan delegasi dari kedua belah pihak di Kairo dalam waktu dekat ini.

Seruan gencatan senjata ini mucul jelang pertemuan darurat yang akan dilakukan oleh negara-negara yang tegabung dalam Liga Arab di Kairo.


Sebelum gencatan senjata dilakukan, kelompok Hamas meminta agar terlebih dahulu dibuat kesepakatan politik.

"Gencatan senjata tanpa mencapai kesepakatan ditolak. Dalam masa perang, Anda tidak gencatan senjata dan kemudian bernegosiasi," kata juru bicara Hamas Fawzi Barhum seperti dikabarkan BBC.

Lebih lanjut, pemimpin Hamas di Gaza Ismail Haniyeh menyebut bahwa pihaknya bukan hanya mencari akhir dari pertempuran tapi juga menuntut pengurangan blokade Israel yang telah melumpuhkan kehidupan di Gaza.

"Masalahnya adalah realitas Gaza, pengepungan, kelaparan, pengeboman. Pengepungan harus berhenti dan orang-orang di Gaza harus hidup bermartabat," katanya.

Israel diketahui memberlakukan blokade di Gaza ketika Hamas mengambil alih wilayah pada tahun 2007 dan memenangkan pemilu legislatif Palestina pada tahun 2006.

Sementara itu. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan kabinetnya akan mendiskusikan ususlan tersebut hari ini (Selasa, 15/7).
 
Bukan hanya itu, Presiden Amerika Serikat Barack Obama juga menyambut baik usulan Mesir tersebut. Obama menyebut kematian warga sipil Palestina merupakan sebuah tragedi.

"Kami akan terus melakukan segala yang kami bisa untuk memfasilitasi kembali pada gencatan senjata 2012," katanya.

Hingga saat ini, setidaknya 185 warga Palestina di Gaza tewas akibat serangan udara Israel sejak serangan besar-besaran dimulai pada Selasa pekan lalu (8/7). PBB memperkirakan, lebih dari tiga perempat di antaranya merupakan warga sipil. Sementara itu, dari sisi Israel tak ada seorangpun menjadi korban tewas. [mel]

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Bukti cuma Sarjana Muda, Kok Jokowi Bergelar Sarjana Penuh

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:00

RH Singgung Perang Bubat di Balik Sowan Eggi–Damai ke Jokowi

Jumat, 09 Januari 2026 | 20:51

UPDATE

Ngobrol Serius dengan Kapolri

Senin, 19 Januari 2026 | 05:45

Legislator Golkar Tepis Keterlibatan Bahlil soal Sawit Papua

Senin, 19 Januari 2026 | 05:25

Dokter Tifa: Keren Sekali Mobilnya, Bang Eggi!

Senin, 19 Januari 2026 | 04:59

Mahasiswa Harus jadi Subjek Revolusi Digital, Bukan Hanya Penonton

Senin, 19 Januari 2026 | 04:47

Kader Gerindra Papua Barat Daya Wajib Sukseskan Program Pemerintah

Senin, 19 Januari 2026 | 04:27

Perbakin Lampung Incar Banyak Medali di PON 2028

Senin, 19 Januari 2026 | 03:59

Pendidikan Bukan Persekolahan

Senin, 19 Januari 2026 | 03:48

Maruarar Sirait Dicap Warganet sebagai Penyelamat Konglomerat

Senin, 19 Januari 2026 | 03:24

Narasi Bung Karno Lahir di Jombang Harus jadi Perhatian Pemkab

Senin, 19 Januari 2026 | 02:59

Dankodaeral X Cup 2026 Bidik Talenta Pesepak Bola Muda Papua

Senin, 19 Januari 2026 | 02:45

Selengkapnya