Berita

tb hasanuddin/net

Koalisi Permanen Tidak Realistis dan Hanya Jadi Cara Menenangkan Pikiran

SELASA, 15 JULI 2014 | 11:58 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Berdasarkan pengalaman di parlemen dengan sistem dan perundang-undangan yang berlaku saat ini, koalisi permanen ala Prabowo-Hatta tidak akan pernah terjadi.

Demikian disampaikan politisi PDI Perjuangan, Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin. Apalagi, ungkap TB Hasanuddin, bila fatsun dan tujuan partai tetap berbeda. Bila fatsun dan tujuan ini masih berbeda maka tidak akan ada koalisi maupun oposisi, apalagi dengan diembel-embeli kata permanen.

"Ditambah lagi dengan UU MD3 yang baru, yang menyebutkan bahwa seseorang anggota DPR tidak bisa di-PAW oleh partai ketika berbeda pendapat dengan partai," kata TB Hasanuddin kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Selasa, 15/7).


Koalisi ini juga, lanjut TB Hasanuddin, tidak akan pernah terjadi dengan baik bila melihat realitas selama ini dan struktur partai-partai yang ada di dalamnya. Misalnya, tidak mungkin Gerindra akan memimpin koalisi dengan kursi yang minim dibanding Partai Golkar. Sementara bila dilihat dari jumlah kursi, memang Golkar yang otomatis harus memimpin koalisi.

"Pertanyaannya, sebarapa lama lagi ketua umum yang sekarang memimpin Golkar? Apakah ada sejarah Golkar tidak ikut dalam pemerintahan?" ungkap TB Hasanuddin, yang juga Wakil Ketua Komisi I DPR.

Begitu juga, lanjut TB Hasanuddin, dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Di tubuh PPP sendiri muncul pro dan kontra antara pendukung Prabowo dan pendukung Jokowi. Selama ini pendukung Prabowo dikomandoi oleh Ketua Umum Suryadharma Ali, yang kini menjadi tersangka dalam kasus dana haji.

"Seberapa lama lagi juga Suryadharma Ali memimpin PPP?" ungkap TB Hasanuddin.

Karena itu, hemat TB Hasanuddin, deklarasi permanen itu hanya upaya untuk menenangkan pikiran ketika real count semakin menunjukkan Jokowi-JK unggul. Koalisi ini sekedar menenangkan pikiran karena melihat kemenangan Jokowi tinggal menunggu pengumunan saja.
 
"Koalisi permenan itu tidak realitis berdasarkan pengalaman, struktur partai di dalamya, serta aturan perundang-undangan," demikian TB Hasanuddin. [ysa]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

OJK Catat Penyaluran Kredit Tembus Rp 8.659 Triliun, Sektor UMKM Mulai Tunjukkan Perbaikan

Rabu, 06 Mei 2026 | 08:14

Trump Mendadak Hentikan Operasi Project Freedom di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:52

Harga Emas Rebound Saat Pasar Pantau Geopolitik dan Data Tenaga Kerja

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:23

Sektor Teknologi Eropa Bangkit dari Keterpurukan, STOXX 600 Menghijau

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:05

Kemenag Fasilitasi Kepindahan Santri Ponpes Ndolo Kusumo

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:45

Dana Wakaf Baitul Asyi untuk Jemaah Haji Aceh Diusulkan Naik

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:32

Rudy Mas’ud di Ujung Tanduk

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:09

Rakyat Antipati dengan PSI

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:38

10 Orang Jadi Korban Penyiraman Air Keras Kurir Ekspedisi

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:19

Kapal Supertanker Iran Masuk RI Bukan Dagang Biasa

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:08

Selengkapnya