Berita

ilustrasi/net

Dunia

Redam Aksi Militan, Libya Minta Bantuan Militer Internasional

SELASA, 15 JULI 2014 | 11:30 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Bentrokan yang terjadi antar kelompok milisi Libya yang memperebutkan kendali di wilayah bandara internasional Tripoli masih berlangsung hingga hari ini (Selasa, 15/7).

Demi meredam bentrokan, pemerintah sementara Libya mempertimbangkan untuk meminta bantuan militer internasional. Hal itu akan dibahas dalam sidang darurat.

Bantuan militer internasional juga diharapkan mampu memberikan kesempatan untuk membangun pasukan tentara dan kepolisian yang sesuai di negara yang belum stabil sejak tergulingnya pemimpin Moamar Ghadafi tahun 2011 lalu.


Namun, dikabarkan CNN, pemerintah Libya sendiri tidak memiliki kontrol yang kuat untuk meredam aksi para kelompok militan itu. Pasalnya, banyak kelompok bersenjata yang terlibat dalam bentrokan digaji oleh negara. Keadaan tersebut semakin mempersulit situasi.

Pemerintah sendiri hari ini telah menyerukan agar bentrokan segera dihentikan dan semua milisi menarik diri dalam kurun waktu satu minggu. Komandan militer Libya menyebut, setiap serangan terhadap fasilitas sipil termasuk bandara itu sendiri akan dijerat dengan tuduhan pembunuhan.

Akibat bentrokan, pemerintah menyebut gedung bea cukai, gedung pemeliharaan, dan sejumlah pesawat milik departemen keamanan nasional telah hancur.

Bukan hanya itu, setidaknya 90 persen pesawat yang tengah terparkir di bandara juga rusak akibat ulah para militan,

Bentrokan yang telah terjadi sejak akhir pekan lalu itu juga menyebabkan sejumlah jadwal penerbangan ditangguhkan atau dialihkan.

Khawatir akan keadaan yang semakin memanas di Libya, PBB bahkan mengevakuasi sementara sebagian stafnya yang bertugas di Libya.

Untuk diketahui, kelompok militan brigade dari milisi Zintan telah menguasai bandara sejak perang sipil Libya pada tahun 2011. Sejak saat itu, kelompok milisi lain kerap mencoba merebut kendali bandara dari brigade Zintan.

Kendati Libya berhasil menggulingkan kekuasaan 42 tahun Moammar Gadhafi pada tahun 2011, namun negara tersebut belum juga stabil. Tantangan terbesar untuk membagun stabilitas dan demokrasi di Libya adalah banyaknya milisi kelompok milisi bersenjata. [mel]

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Bukti cuma Sarjana Muda, Kok Jokowi Bergelar Sarjana Penuh

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:00

RH Singgung Perang Bubat di Balik Sowan Eggi–Damai ke Jokowi

Jumat, 09 Januari 2026 | 20:51

UPDATE

Ngobrol Serius dengan Kapolri

Senin, 19 Januari 2026 | 05:45

Legislator Golkar Tepis Keterlibatan Bahlil soal Sawit Papua

Senin, 19 Januari 2026 | 05:25

Dokter Tifa: Keren Sekali Mobilnya, Bang Eggi!

Senin, 19 Januari 2026 | 04:59

Mahasiswa Harus jadi Subjek Revolusi Digital, Bukan Hanya Penonton

Senin, 19 Januari 2026 | 04:47

Kader Gerindra Papua Barat Daya Wajib Sukseskan Program Pemerintah

Senin, 19 Januari 2026 | 04:27

Perbakin Lampung Incar Banyak Medali di PON 2028

Senin, 19 Januari 2026 | 03:59

Pendidikan Bukan Persekolahan

Senin, 19 Januari 2026 | 03:48

Maruarar Sirait Dicap Warganet sebagai Penyelamat Konglomerat

Senin, 19 Januari 2026 | 03:24

Narasi Bung Karno Lahir di Jombang Harus jadi Perhatian Pemkab

Senin, 19 Januari 2026 | 02:59

Dankodaeral X Cup 2026 Bidik Talenta Pesepak Bola Muda Papua

Senin, 19 Januari 2026 | 02:45

Selengkapnya