Berita

foto:net

Politik

Asosiasi Lembaga Survei Diminta Atasi Kisruh Quick Count Pilpres

SENIN, 14 JULI 2014 | 19:42 WIB | LAPORAN:

Pernyataan Direktur Eksekutif Lembaga Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi terkait quick count hasil Pilpres 2014 sebenarnya tidak terlalu berlebihan. Pasalnya, jika mengacu pada kaedah-kaedah ilmiah, hasil quick count bisa menjadi ukuran untuk mengetahui pemenang Pemilu.

"Sejak pemilihan langsung yang dimulai dari Pilpres 2004, lalu Pilkada langsung sejak 2005 hingga saat ini, pemenang Pemilu sudah diketahui lebih cepat melalui sistem perhitungan cepat (quick count)," kata Direktur Eksekutif Institute Public Institute (IPI) yang juga analis politik di Indo Survey and Strategy (ISS), Karyono Wibowo di Jakarta, Senin (15/7).

Jika pun berbeda dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU), rata-rata selisihnya kurang dari satu persen atau maksimal satu persen.  


Data quick count, menurut Karyono, bisa dipercaya sejauh dilakukan dengan metode dan prosedur yang benar, tidak partisan dan memanipulasi data. Tetapi masalahnya,  ada empat lembaga survei yang memenangkan pasangan Prabowo-Hatta. Di sisi lain ada delapan lembaga survei di mana Jokowi-JK unggul.

"Inilah yang membuat  rakyat jadi bingung karena adanya hasil quick count yang berbeda," jelasnya.

Karenanya ia terus mendorong agar asosiasi lembaga survei yang ada segera menuntaskan masalah ini. Belakangan ini semakin banyak lembaga survei menurut dia, datanya tidak bisa dipertanggunjawabkan. Ulah lembaga survei tersebut, kata Karyono, sudah menimbulkan keresahan masyarakat terkait dengan perbedaan data quick count yang cukup tinggi disparitasnya. Ia khawatir bila masalah ini tidak segera dituntaskan maka kredibilitas dunia penelitian akan semakin hancur.

Pernyataan senada diungkapkan Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia, Dodi Ambardi. Menurut Dodi, dari pengalaman, perbedaan quick count dengan hitungan KPU memang tipis sekali. Umumnya di bawah satu persen. Bahkan, total  perbedaan pernah 0.07 persen.[wid]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

UPDATE

DPR Dukung Pasutri Gugat Aturan Kuota Internet Hangus ke MK

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:51

Partai Masyumi: Integritas Lemah Suburkan Politik Ijon

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:28

Celios Usulkan Efisiensi Cegah APBN 2026 Babak Belur

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:09

Turkmenistan Legalkan Kripto Demi Sokong Ekonomi

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:39

Indonesia Kehilangan Peradaban

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:18

Presiden Prabowo Diminta Masifkan Pendidikan Anti Suap

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:11

Jalan dan Jembatan Nasional di 3 Provinsi Sumatera Rampung 100 Persen

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:55

Demokrat: Diam Terhadap Fitnah Bisa Dianggap Pembenaran

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:42

China Hentikan One Child Policy, Kini Kejar Angka Kelahiran

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:44

Ide Koalisi Permanen Pernah Gagal di Era Jokowi

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:22

Selengkapnya