Berita

rri

Politik

Besok, KPI Panggil RRI

SENIN, 14 JULI 2014 | 01:23 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dijadwalkan memanggil pihak Radio Republik Indonesia (RRI) terkait siaran politik, Senin (14/7).

"Banyak reaksi terhadap pernyataan saya tentang RRI. Sebagai info Senin besok KPI akan undang Direksi RRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik soal siaran politik," ujar Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq, Minggu malam (13/7). Sebelumnya Komisi I juga berencana memanggil jajaran direksi RRI.

Jelas Mahfudz, KPI akan klarifikasi LPP RRI terkait banyaknya aduan soal kesan ketidaknetralan dalam siaran politik tentang Pilpres 2014, bukan semata soal quick count.


"Saya bicara sebagai Ketua Komisi I DPR dimana LPP RRI adalah mitra kerja. Tugas pengawasan harus dilakukan jika ada indikasi kesalahan tupoksi. Respon sinis bisa saya maklumi, karena datang dari para pihak yang juga punya afiliasi politik terhadap capres. Kita punya tanggung jawab menjaga RRI sebagai LPP," terangnya.

Menurutnya, dalam siaran politik LPP RRI dan juga LPP TVRI harus berhati-hati karena menggunakan yang negara. Berbeda dengan lembaga survei swasta. Kehati-hatian LPP RRI lebih mendesak ketika dalam pilpres terjadi polarisasi. "Jangan sampai ada politik siaran yang dipersepsi memihak," tegas politisi PKS ini.

Klarifikasi terhadap LPP RRI oleh KPI dan Komisi I didasarkan banyaknya aduan, bukan respon subyektif kelembagaan, apalagi personal. Pada waktu LPP RRI lakukan quick count untuk pileg, sambung Mahfudz, Komisi I DPR mengingatkan agar menjaga netralitas. Dan itu dilaksanakan dengan baik.

"Jadi sekali lagi saya jelaskan, bahwa RRI dan TVRI adalah Lembaga Penyiaran Publik yang dibiayai oleh APBN. Harus berdiri di atas semuanya," ungkapnya.

"KPI telah berikan teguran ke beberapa TV swasta, termasuk Metro TV dan TV One. Komisi I mendukung sikap tegas KPI. Begitupun terhadap LPP RRI/TVRI," demikian Mahfudz. [rus]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Bos Exxon Prediksi Harga Minyak Bakal Lebih Meledak

Sabtu, 02 Mei 2026 | 14:21

SSMS Bagikan Dividen Rp800 Miliar dari Laba 2025

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:51

Postidar Kecam Video Diduga Pernyataan Amien Rais soal Sekkab Teddy

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:18

Bank Dunia Proyeksikan Harga Emas dan Perak Turun pada 2027

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:00

Hardiknas 2026, Komisi X DPR Ingin Pendidikan Berkualitas Merata ke Pelosok

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:37

Polda Metro Pulangkan 101 Orang yang Diamankan Saat May Day

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:30

China Minta PBB Tinjau Ulang Rencana Penarikan Pasukan UNIFIL dari Lebanon

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:21

Ratusan Demonstran Ditangkap dalam Aksi Hari Buruh di Turki

Sabtu, 02 Mei 2026 | 11:17

Komisi III DPR: Pemberantasan Narkoba Tak Boleh Kendor!

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:59

Yen Bergolak: Intervensi Jepang Paksa Dolar AS Rasakan Kerugian Mingguan Terburuk

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:41

Selengkapnya