Berita

foto:net

Politik

PILPRES 2014

Ironi Bila Memang Ada Hitung Cepat yang Gadaikan Ilmu Demi Kepentingan Politik

KAMIS, 10 JULI 2014 | 18:32 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Rakyat Indonesia harus mengawal dan mengawasi terus hasil pilpres agar tidak dirampok dan diambil dari rakyat sebagai pemegang kedaulatan.

"Penyelenggara pemilu, pengawas dan aparatur kepolisian harus berani dan tegas menindak semua upaya penyelewengan hasil pilpres," kata pengamat politik dari Universitas Nusa Cendana Kupang, Rudi Rohi, beberapa waktu lalu (Kamis, 10/7).

Rudi pun menyayangkan lembaga survei yang tega mengorbankan rakyat dalam konflik melalui publikasi quick count yang tak jelas metodologi dan rekam jejaknya. Padahal seharusnya quick count tak menciptakan turbulensi politik apalagi sampai menuju bencana demokrasi.


Menurut Rudi, ada dua tanggung jawab lembaga survei yang melaksanakan quick count . Pertama, tanggung jawab ilmiah agar eksistensi kebenaran dan kredibilitas ilmu pengetahuan bisa dipertahankan. Kedua, tanggung jawab politik dengan tidak semata-mata mengejar kepentingan politik dan kekuasaan, tetapi perlu menjaga agar demokrasi tetap pada tracknya menuju demokrasi terkonsolidasi.

Dalam penilaian Rudi, faktanya ada sejumlah lembaga yang tak punya rekam jejak dan memiliki kredibilitas. Beberapa diantaranya bisa dikatakan sebagai lembaga abal-abal, yang dalam banyak momentum politik dan pemilu, hanya bertindak sebagai pemain proyek. Ini tentu saja sangat ironis sebab menggadaikan ilmu demi kepentingan politik.

"Mereka dimanfaatkan untuk kepentingan politik dan kekuasaan semata hingga kebenaran pun dimanipulasi," kata Rudi.

Padahal apapun kebutuhan penggunaan hitung cepat dalam politik dan pilpres ini, mestinya tidak boleh keluar dari jalur pengetahuan dan kebenaran.

"Sekalipun keberpihakan politik itu adalah hak asasi setiap orang, tetapi kredibilitas dan profesionalisme lembaga penelitian beserta orang-orangnya tidak boleh digadai hanya demi kepentingan pribadi dan golongan," ucap Rudi. [rus]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

OJK Catat Penyaluran Kredit Tembus Rp 8.659 Triliun, Sektor UMKM Mulai Tunjukkan Perbaikan

Rabu, 06 Mei 2026 | 08:14

Trump Mendadak Hentikan Operasi Project Freedom di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:52

Harga Emas Rebound Saat Pasar Pantau Geopolitik dan Data Tenaga Kerja

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:23

Sektor Teknologi Eropa Bangkit dari Keterpurukan, STOXX 600 Menghijau

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:05

Kemenag Fasilitasi Kepindahan Santri Ponpes Ndolo Kusumo

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:45

Dana Wakaf Baitul Asyi untuk Jemaah Haji Aceh Diusulkan Naik

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:32

Rudy Mas’ud di Ujung Tanduk

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:09

Rakyat Antipati dengan PSI

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:38

10 Orang Jadi Korban Penyiraman Air Keras Kurir Ekspedisi

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:19

Kapal Supertanker Iran Masuk RI Bukan Dagang Biasa

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:08

Selengkapnya