Berita

saleh daulay/net

Politik

Bila Penyelenggara Netral, yang Menang Bijaksana, yang Kalah Ksatria

RABU, 09 JULI 2014 | 06:10 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Pemilihan presiden dan wakil presiden adalah titik kulminasi pesta demokrasi lima tahunan yang dilaksanakan Indonesia. Karena itu, seluruh penyelenggara pemilu, khususnya KPU dan Bawaslu, diminta untuk mengawal agar demokrasi yang kita bangun semakin berkualitas.

Dalam konteks itu, KPU dan Bawaslu diminta untuk memberikan perhatian khusus dan serius pada daerah-daerah yang rawan terjadinya kecurangan. Hal ini diperlukan agar kasus-kasus yang terjadi pada pileg yang lalu tidak terulang lagi pada pilpres hari ini.

Demikian pendapat Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN) DR. Saleh Partaonan Daulay yang disampaikan dalam pembicaraan dengan redaksi beberapa saat lalu (Rabu pagi, 9/7).


“KPU dan Bawaslu sudah pasti punya data semua daerah rawan itu. Karena itu, tidak ada alasan kecurangan-kecurangan yang sama terulang kembali. Saya yakin, semua orang mendambakan pemilu yang damai, aman, tertib, dan bermartabat,” ujarnya.

Selain itu, penyelenggara pemilu juga diminta untuk menjadi wasit yang baik. Sikap netral dan imparsial harus betul-betul dijaga. Sering sekali kericuhan terjadi disulut karena sikap keberpihakan penyelenggara. Karena itu, netralitas harus tetap terjaga hingga hasil pilpres diumumkan secara resmi.

“Kalau di tingkat pusat dan provinsi, saya melihat KPU dan Bawaslu sudah bekerja dengan baik. Andaikata hal itu bisa diturunkan secara kolektif ke tingkat KPUD, PPK, PPS, dan KPPS dan seluruh panwas yang ada, pilpres diyakini akan berlangsung baik sesuai dengan yang diharapkan,” kata dia lagi.

Profesionalitas penyelenggara pemilu, masih menurut Saleh, menjadi suatu keharusan untuk melindungi kedua pasangan capres/cawapres. Jika penyelenggaranya profesional, baik yang menang maupun kalah diyakini sama-sama menerima.

Bagi yang menang tentu akan menyikapinya secara bijaksana, dan bagi yang kalah akan menerimanya secara ksatria. [dem]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

UPDATE

Membaca Manuver Gibran Terima Mahasiswa Pendemo

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:23

Bamus Betawi Siapkan Program Strategis Menuju Lima Abad Jakarta

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:18

BEM Bersatu Ungkap Tiyo Ardianto Dekat dengan Jaringan PDIP dan Eks Timses Ganjar

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:08

Nasabah BRImo Bisa Beli Reksa Dana USD Batavia

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:04

BEM Bersatu: Mobil Tiyo Ardianto Diduga Milik Besan Andhika Perkasa

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:01

Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:30

Haikal Hassan Dianugerahi Gelar Profesor Kehormatan dari Silla University Korsel

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:14

Rp35 Triliun Anggaran MBG Berubah Jadi Sampah

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:00

Kemensos Genjot Sentra Terpadu jadi Pusat Pemberdayaan Masyarakat

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:57

Pola Kenaikan Tidak Biasa Kekayaan Menko Pangan Zulkifli Hasan

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:43

Selengkapnya