Berita

ilustrasi/net

Politik

Sumber Biaya Survei Harus Diumumkan Pada Publik

SELASA, 08 JULI 2014 | 10:31 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

Semua lembaga survei harus mempublikasikan semua hasil survei, termasuk soal hitung cepat, secara transparan kepada publik.

Transparansi ini bukan sekedar dalam hal akuntabilitas metodologinya, namun juga dalam hal sumber pembiayaan. Itu bertujuan agar publik tak terlalu merasa dipaksa untuk menentukan pilihan di pilpres

"Ini juga penting agar masyarakat bisa menilai mana lembaga survei yang kredibel dan dipercaya," kata pengamat politik Universitas Gadjah Mada, Ari Dwipayana, beberapa saat lalu (Selasa, 8/7).


Di saat yang sama, ungkap Ari, publik perlu mencermati lebih jauh mengenai rekam jejak dari lembaga survei. Apakah misalnya punya track record yang cukup panjang dalam melakukan survei atau quick count, ataukah lembaga survei itu lembaga survei musiman dan abal-abal.

"Kehadiran beberapa lembaga survei dadakan di musim pemilu perlu menjelaskan lebih jauh. Bukan hanya soal kredibilitas atau keraguan akan modusnya, namun juga akurasi hasil surveinya," kata dia.

Pernyataan Ari itu untuk menanggapi petarungan sengit antarpasangan capres-cawapres, yang bukan hanya di kantong kantong suara atau media sosial, namun juga nampak dalam proses pembentukan opini melalui rilis survei.

Walaupun berbagai lembaga survei kredibel memperlihatkan masih unggulnya pasangan Jokowi-JK, namun ada beberapa lembaga survei yang memaksakan diri untuk mengangkat tema elektabilitas Prabowo-Hatta telah berhasil menyalip Jokowi-JK.

Kata dia, upaya demikian bisa dipahamin selain sebagi strategi bandwagon effect yang coba mempengaruhi pemilih dalam menentukan pilihannya, namun ini bisa dibaca sebagai strategi untuk mengimbangi efek big push yang dihasilkan oleh gerakan voluntarisme para pendukung Jokowi.

Strategi pengimbang opini ini, lanjutnya, bisa jadi akan berlanjut pada saat quick count. Dengan hadirnya berbagai lembaga survei untuk melakukan quick count maka besar kemungkinan akan muncul rilis yang berbeda dari lembaga survei ini.

Menurut Ari, munculnya kemungkinan adanya variasi hasil quick cont ini tentu saja bagian dari skenario untuk mencegah satu kandidat mengklaim kemenangan dalam perhitungan suara dalam Pilpres. Dengan merilis hasil yang berbeda, maka itu akan digunakan juga untuk mengklaim kemenangan yang sama. [rus]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

OJK Catat Penyaluran Kredit Tembus Rp 8.659 Triliun, Sektor UMKM Mulai Tunjukkan Perbaikan

Rabu, 06 Mei 2026 | 08:14

Trump Mendadak Hentikan Operasi Project Freedom di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:52

Harga Emas Rebound Saat Pasar Pantau Geopolitik dan Data Tenaga Kerja

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:23

Sektor Teknologi Eropa Bangkit dari Keterpurukan, STOXX 600 Menghijau

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:05

Kemenag Fasilitasi Kepindahan Santri Ponpes Ndolo Kusumo

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:45

Dana Wakaf Baitul Asyi untuk Jemaah Haji Aceh Diusulkan Naik

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:32

Rudy Mas’ud di Ujung Tanduk

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:09

Rakyat Antipati dengan PSI

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:38

10 Orang Jadi Korban Penyiraman Air Keras Kurir Ekspedisi

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:19

Kapal Supertanker Iran Masuk RI Bukan Dagang Biasa

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:08

Selengkapnya