Berita

pilpres 2014

Politik

Waspada, Potensi Politik Uang dalam Pilpres Begitu Besar

SELASA, 08 JULI 2014 | 09:07 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Potensi praktek politik uang menjelang pencoblosan dalam Pilpres 2014 begitu besar. Sementara asumsi vote buying di pilpres akan lebih kecil karena melibatkan dana yang sangat besar semakin tidak terbukti.

Demikian analisa pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Mada Sukmajati. Karena itu, ungkap Mada, potensi ini harus diantisipasi secara serius, dan apalagi kemampuan serta kewenangan penyelenggara pemilu juga sangat terbatas. Di saat yang sama, peran relawan dan masyarakat untuk meminimalisir praktik ini pun menjadi sangat penting.

Mada menganalisa, praktik politik uang dalam pemilu legislatif lalu lebih bersifat lokal karena dilakukan oleh calon legislatif yang menggandeng tokoh-tokoh setempat. Namun potensi politik uang di pilpres melibatkan jaringan birokrasi sipil dan militer. Polanya pun bukan lagi sekadar membeli suara pemilih, tetapi membeli suara dari penyelenggara pemilu atau vote trading.


Karena itu, lanjutnya, politik uang di pilpres ini  akan melibatkan pemodal besar. Imbasnya, jika pihak yang melakukan politik uang sampai berkuasa maka pemerintahan yang terbentuk menjadi pragmatis dan proses pembuatan kebijakan publik selalu bersifat transaksional.

"Ujungnya adalah semakin jauhnya kebijakan publik dengan kebutuhan rakyat. Di sinilah kegagalan bekerjanya demokrasi perwakilan sebagaimana menjadi cita-cita reformasi," sambungnya.

Namun demikian Mada masih punya percaya politik uang itu bisa tumbang oleh kesukarelawanan. Gerakan relawan adalah energi baru dalam perkembangan demokrasi di Indonesia.

"Gerakan sosial ini akan menjadi antitesa dari model politik oligarki yang digerakan para pemodal. Ini akan dibuktikan lagi tanggal 9 Juli besok," demikian Mada. [rus]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

OJK Catat Penyaluran Kredit Tembus Rp 8.659 Triliun, Sektor UMKM Mulai Tunjukkan Perbaikan

Rabu, 06 Mei 2026 | 08:14

Trump Mendadak Hentikan Operasi Project Freedom di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:52

Harga Emas Rebound Saat Pasar Pantau Geopolitik dan Data Tenaga Kerja

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:23

Sektor Teknologi Eropa Bangkit dari Keterpurukan, STOXX 600 Menghijau

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:05

Kemenag Fasilitasi Kepindahan Santri Ponpes Ndolo Kusumo

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:45

Dana Wakaf Baitul Asyi untuk Jemaah Haji Aceh Diusulkan Naik

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:32

Rudy Mas’ud di Ujung Tanduk

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:09

Rakyat Antipati dengan PSI

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:38

10 Orang Jadi Korban Penyiraman Air Keras Kurir Ekspedisi

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:19

Kapal Supertanker Iran Masuk RI Bukan Dagang Biasa

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:08

Selengkapnya