Berita

Repdem Minta Komnas HAM Selidiki Pemungutan Suara di Hong Kong

SENIN, 07 JULI 2014 | 07:28 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Kekisruhan dalam penyelenggaraan pilpres di Hong Kong berawal dari ketidaksigapan dan ketidaksiapan penyelenggara maupun pengawas pemilu beserta pemerintah, seperti KPU RI, PPLN, KJRI Hong Kong maupun Bawaslu.

Demikian penilaian Ketua Umum Relawan Pro Demokrasi (Repdem) Masinton Pasaribu dalam keterangan kepada redaksi beberapa saat lalu (Senin pagi, 7/7).

“Jumlah TPS, jumlah bilik suara dan jumlah petugas serta waktu pelaksanaan pencoblosan seharusnya disesuaikan dengan jumlah WNI yang ada di Hongkong. Sehingga tidak ada alasan karena keterbatasan waktu dan biaya sewa tempat,” ujar Masinton.


Peningkatan partisipasi Warga Negara dalam memberikan Hak Pilihnya seharusnya diapresiasi positif dan dilayani baik oleh negara, bukan malah dibatasi, apalagi dianggap membebani. Karena negara sudah menyiapkan anggaran yang cukup untuk pelaksanaan Pilpres.

Peningkatan jumlah pemilih yang signifikan di Hong Kong. Dari 13 TPS yang disediakan KJRI di Victoria Park, jumlah pemilih mencapai 23.863 orang. Angka ini meningkat 3 kali lipat dibandingkan  jumlah pemilih ketika Pileg yang hanya mencapai 6.973 orang.

Menurut Masinton, kejadian ini adalah bentuk pengabaian hak konstitusi dan pelanggaran HAM.

Repdem meminta Komnas HAM menyelidiki kasus kisruh Pilpres 2014 di Hongkong, karena KPU bersama pemerintah telah melakukan pelanggaran Hak Asasi.

“Begitu juga dengan Bawaslu harus memberikan sanksi tegas terhadap siapapun, karena saat pelaksanaan di area TPS ada arahan untuk memilih calon nomor urut satu. Orang yang mengarahkan tersebut mengaku petugas pemilu dari Jakarta,” ujarnya lagi.

Repdem juga mendesak KJRI, PPLN Hong Kong dan KPU untuk segera memfasilitasi WNI yang mayoritas sebagai buruh migran yang belum memilih untuk dapat menggunakan hak konstitusi untuk memilih di Hong Kong. [dem]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Masalah Klasik Tak Boleh Terulang di Musim Haji 2026

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:15

BSI Semakin Diminati, Tabungan Tumbuh Tertinggi di Industri

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:13

Jembatan Rusak di Pandeglang Diperbaiki Usai Tiga Siswa Jatuh

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:05

ATR/BPN Rumuskan Pola Kerja Efektif Berbasis Kewilayahan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:53

Tim Kuasa Hukum Nilai Tuntutan Nadiem Tak Berdasar Fakta Persidangan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:44

Kelantan Siapkan Kota Bharu Jadi Hub Asia, Sasar Direct Flight Bangkok hingga Osaka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:33

PLN Luncurkan Green Future Powered Today

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:30

Riki Sendjaja dan Petrus Halim Dikorek KPK soal Kredit Macet di LPEI

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:27

Juri LCC MPR Harus Minta Maaf Terbuka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:21

Polisi Jaga Ratusan Gereja di Jadetabek

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:14

Selengkapnya