Berita

jokowi/net

Jokowi Tak Mau Manfaatkan Benih Transgenik karena Bisa Rugikan Petani Indonesia

SABTU, 05 JULI 2014 | 13:36 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Pemanfaatan genetically modified organism (GMO) atau dikenal dengan nama benih transgenik sangat merugikan petani dan rakyat Indonesia.

Paling tidak, kata mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup, Sonny Keraf, ada beberapa hal yang harus disoroti dalam pemanfataan benih transgenik ini. Pertama, kontroversi mengenai dampak benih transgenik terhadap lingkungan dan kesehatan manusia sehingga di banyak negara, khususnya Eropa, benih transgenik ini ditolak.

Kedua, bagi negara Indonesia, benih transgenik hanya akan menimbulkan ketergantungan petani Indonesia karena mereka harus membelinya dari perusahaan benih transgenik, khususnya dari Amerika. Ketiga, sejauh ini masuknya benih transgenik di Indonesia lebih dimungkinkan oleh lobi politik dan pendekatan transaksional yang dilakukan oleh perusahaan multinasional pemilik dengan pejabat di Indonesia.


"Untuk diketahui, pada 2005 lalu, menyeruak kasus dugaan korupsi di Departemen Pertanian soal pelepasan terbatas kapas transgenik milik perusahaan asal AS, Monsanto. Sempat diduga tindakan itu melibatkan 45 orang pejabat Kementerian Pertanian," kata Sonny Keraf beberapa saat lalu (Sabtu, 4/7).

Karena itu juga, ungkap Sonny, Jokowi-JK tidak ingin bencana revolusi hijau yang hingga sekarang diratapi petani akan terulang kembali dengan pemanfaatan benih transgenik di Indonesia. Bencana itu antara lain ketergantungan petani terhadap pupuk kimia dari perusahaan-perusahaan besar yang justru merugikan petani. Dalam hal ini, Jokowi-JK berbeda dengan visi Prabowo-Hatta yang mau memanfaatkan benih transgenik.

Visi misi Jokowi-JK sendiri, katanya, bertitik tolak pada usaha membangun kedaulatan pangan berbasis agribisnis kerakyatan, menyetop impor pangan, melaksanakan reformasi agraria, penanggulangan kemiskinan pertanian, dan regenerasi petani. Karena itu juga, tanpa berpikir impor bibit transgenik, Jokowi justru mencanangkan 1.000 desa berdaulat benih hingga tahun 2019, disertai peningkatan kemampuan organisasi petani dan pelibatan aktif perempuan petani sebagai tulang punggung kedaulatan pangan.

"Lalu Pemerintah akan merehabilitasi jaringan irigasi yang rusak terhadap 3 juta hektar lahan pertanian. Plus dukungan regenerasi petani muda Indonesia," kata Sonny. [ysa]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

OJK Catat Penyaluran Kredit Tembus Rp 8.659 Triliun, Sektor UMKM Mulai Tunjukkan Perbaikan

Rabu, 06 Mei 2026 | 08:14

Trump Mendadak Hentikan Operasi Project Freedom di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:52

Harga Emas Rebound Saat Pasar Pantau Geopolitik dan Data Tenaga Kerja

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:23

Sektor Teknologi Eropa Bangkit dari Keterpurukan, STOXX 600 Menghijau

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:05

Kemenag Fasilitasi Kepindahan Santri Ponpes Ndolo Kusumo

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:45

Dana Wakaf Baitul Asyi untuk Jemaah Haji Aceh Diusulkan Naik

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:32

Rudy Mas’ud di Ujung Tanduk

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:09

Rakyat Antipati dengan PSI

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:38

10 Orang Jadi Korban Penyiraman Air Keras Kurir Ekspedisi

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:19

Kapal Supertanker Iran Masuk RI Bukan Dagang Biasa

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:08

Selengkapnya