Masa kampanye pilpres akan berakhir pada 5 Juni besok. Dan sebelum hari H pencoblosan 9 Juni, 6 sampai 8 Juni adalah masa tenang dari kegiatan kampanye.
Menurut pengamat politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio, di masa injury time atau menit-menit terakhir, masing-masing capres dan cawapres Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK harus kreatif dan kerja keras.
"Misalnya, isu yang menguntungkan harus ditonjolkan. Sementara isu negatif harus diminalisir," kata dia kepada Rakyat Merdeka Online, sesaat lalu, Jumat (4/7).
Jelas Hendri, kampanye yang paling tepat dilakukan saat ini oleh pasangan capres dan cawapres serta para pendukung adalah, turun langsung dan jumpai masyarakat.
"Nggak penting lagi muncul di Tv. Jumpai masyarakat langsung. Tim mungkin bisa ajak pemilih lewat SMS atau BBM," terangnya.
Namun, lanjut Hendri, karena Jokowi memiliki tekanan yang paling hebat ketimbang Prabowo. Bisa saja momen ini dimanfaatkan pasangan Prabowo-Hatta, hingga keluar sebagai juara.
"Ibarat main sepak bola, ini sudah masa
injury time. Bisa saja tercipta gol-gol cantik, atau terjadi error hingga kebobolan," ujar Hendri.
Sebelumnya Hendri Satrio mengatakan, Jokowi semakin tertekan pada detik-detik pencoblosan 9 Juli. Pasalnya, capres nomor urut 2 itu di awal-awal memiliki popularistas dan elektabilitas tinggi. "Di awal-awal Jokowi jadi unggulan dan digadang-gadang. Sementara Prabowo hanya menjadi kuda hitam. Ini pasti jadi tekanan bagi Jokowi," kata Hendri.
Menurut Hendri, melihat kondisi saat ini, Jokowi pasti merasa tertekan. Dari berbagai rilis lembaga survei, elektabilitas Jokowi-JK dengan Prabowo-Hatta sudah semakin mendekati. Bahkan lembaga survei seperti Lembaga Survei Nasional (LSN), Indonesia Research Centre (IRC) dan Indonesia Network Election Survey (INES) menempatkan pasangan nomor urut 1, Prabowo-Hatta sudah unggul dari Jokowi-JK.
[rus]