Berita

joko widodo dan jusuf kalla/net

Politik

Elektabilitas Jokowi-JK Anjlok bukan karena Kampanye Hitam, Tapi Rakyat Sudah Cerdas

RABU, 02 JULI 2014 | 12:23 WIB | LAPORAN:

Naiknya popularitas dan elektabilitas calon presiden nomor urut 1, Prabowo Subianto jelang Pemilihan Presiden pada 9 Juli 2014 saat ini telah membuat panik tim pro Jokowi.

Tim Prabowo yakin pada Pilpres nanti, masyarakat dengan cerdas bisa membandingkan kedua capres yang ujung-ujungnya akan memilih Prabowo sebagai presiden mendatang.

Demikian dikatakan anggota Tim Sukses Prabowo-Hatta, Fahri Hamzah kepada wartawan di DPR, Jakarta, Rabu (2/7).


"Saya ingin memberikan penjelasan bahwa kekhawatiran dan ketakutan pihak Jokowi saat ini bisa dipahami karena  popularitas dan elektabilitas Prabowo sudah melewati  Jokowi. Hal ini menurut saya disebabkan beberapa hal yang sebenarnya bisa dijelaskan dengan sangat logis yang sejalan dengan pemikiran masyarakat Indonesia yang semakin rasional dalam memilih," ujar Fahri.

Menurut dia, kesalahan tim Pro Jokowi yang pertama adalah karena estimasi yang terlalu tinggi (overestimate) terhadap kemampuan Jokowi dan menganggap rakyat akan serta merta memilih calon yang selama empat tahun (red 2 tahun sebagai walikota Solo dan 2 tahun sebagai gubernur DKI) telah dicover media dari satu sisi saja tanpa ada diskusi dan perdebatan serta tanpa pembanding dengan luar biasa.

Dalam empat tahun di-cover oleh media, kata dia lagi,  terjadi peristiwa yang membuat keyakinan mereka meningkat sampai ada yang berani mengatakan tak perlu Pilpres, Jokowi pasti menang.Bahkan salah satu tim suksesnya ada yang berani sesumbar kalau Jokowi kalah potong lehernya.

"Itu kesalahan karena politik itu selalu ada dinamika dan tidak stagnan," tekannya.

Rakyat yang dinamis, jelasnya, dan yang telah mengalami proses demokrasi selama 16 tahun pasca reformasi, telah sangat banyak belajar dan tidak bisa lagi dibohongi dengan argumentasi sepihak tanpa dasar yang kerap mereka lakukan demi menjual calonnya.

Mereka berusaha meyakinkan rakyat secara sepihak yang pada awalnya mungkin terlihat berhasil, namun pada akhirnya rakyat sadar bahwa ada kesalahahpahaman. Rakyat memiliki pemahaman sendiri dalam menentukan calon pemimpinnya.

"Dan saya melihat tim Pro Jokowi saat ini panik luar biasa  karena pada akhirnya selama proses Pemilu ini, publik kemudian memiliki kesempatan membandingkan secara aple to aple antara Prabowo dan Jokowi seperti dalam bersikap, berbicara, melakukan hubungan masyarakat, berbicara ke dunia, penyampaian visi misi dan sebagainya. Kesempatan membandingkan dua sosok calom pemimpin ini juga mempengaruhi pilihan masyarakat," katanya.

Dia mengatakan, elit partai kemudian langsung sadar, kalangan menengah juga sadar karena mereka bersifat pragmatis dan hanya akan memilih pemimpin yang bisa meyakinkan. Sementara, masyarakat bawah mengalami proses pendewasaan yang luar biasa,.

Kesempatan membandingkan membuat masyarakat yang tadinya belum memilih atau swing voters akan menjatuhkan pilihannya pada Prabowo dan tidak sedikit juga yang tadinya hendak memilih Jokowi menjadi batal memilihnya.

"Ini semua bukan karena black campaign karena tim kami tidak pernah melakukan hal itu. Apa yang terjadi pada Jokowi saat ini di mana dia ditelanjangi adalah proses politik itu sendiri sehingga masyarakat pun tahu dan menyadari bahwa Jokowi tidak mantab, tidak jujur, inkonsisten, tidak amanah, tidak menepati janji, munafik dan sebagainya,” papar Juru Debat Tim Kampanye Prabowo-Hatta ini lagi.[wid]


Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Tak Pelihara Buzzer, Prabowo Layak Terus Didukung

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:14

Stasiun Cirebon Dipadati Penumpang Arus Balik Nataru

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:00

SBY Pertimbangkan Langkah Hukum, Mega Tak Suka Main Belakang

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:34

Pilkada Lewat DPRD Cermin Ketakutan terhadap Suara Rakyat

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:26

Jika Mau Kejaksaan Sangat Gampang Ciduk Silfester

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:01

Pilkada Lewat DPRD Sudah Pasti Ditolak

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:37

Resolusi 2026 Rismon Sianipar: Makzulkan Gibran Wapres Terburuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:13

Kata Golkar Soal Pertemuan Bahlil, Dasco, Zuhas dan Cak Imin

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:10

Penumpang TransJakarta Minta Pelaku Pelecehan Seksual Ditindak Tegas

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:38

Bulgaria Resmi Gunakan Euro, Tinggalkan Lev

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:21

Selengkapnya