Setelah sekian lama, sebagian besar warga Amerika Serikat akhirnya sepakat menyebut Perang Irak merupakan hal yang sia-sia. Hal itu diketahui melalui jajak pendapat terbaru yang dilakukan NBC News, Wall Street Journal, dan Annenberg.
Dari jajak pendapat itu diketahui, 71 persen warga AS mengatakan, Perang Irak sia-sia. Hasil jajak pendapat juga menunjukkan, keraguan rakyat AS mengenai perang dalam waktu lama di Negeri 1001 Malam itu.
Sebelumnya, dalam jajak pendapat mengenai hal sama, yang dilakukan Januari 2013 NBC News dan Wall Street Journal mengungkapkan, 59 persen warga AS menyebut perang itu tidak pantas. Hanya 35 persen warga yang mengatakan sebaliknya.
Setengah dari responden juga mengatakan, AS juga tidak bertanggung jawab dalam membantu pemerintah Irak menghentikan kekerasan sektarian di negara tersebut. Sementara 43 persen menyebut AS harus ikut campur tangan.
Saat ini, warga AS bahkan lebih pesimis lagi mengenai kondisi keamanan di Irak. Seperti diketahui, saat ini kelompok-kelompok pemberontak sedang mengobarkan perang terhadap pemerintahan Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki.
Sebuah jajak pendapat
NBCNews dan
Wall Street Journal awal bulan ini menunjukkan, hanya 27 persen responden mengatakan perang di Afghanistan tidak sia-sia. Berbanding jauh dengan responden yang tidak setuju sebanyak 65 persen.
Hal negatif mengenai Perang Irak menyaingi Perang Vietnam. Tiga jajak pendapat yang dilakukan Gallup medio 1999-2000 menyatakan, 7 dari 10 warga AS menyebut perang pada tahun 1970-an itu adalah kesalahan.
Di antara kelompok yang menyebut Perang Irak tidak sia-sia, justru lebih banyak yang ragu. Hanya 22 persen pria, 23 persen orang dewasa muda, dan 21 persen warga paruh baya yang menyebut perang di Irak tidak sia-sia.
Dukungan terhadap perang Irak makin menurun di semua kategori, kecuali di kalangan Partai Republik dan konservatif. Namun, sekarang Partai Republik terpecah. Sekitar 46 persen menyebut tidak sia-sia, sedangkan 44 persen menyebutnya sia-sia.
Ketika melakukan perang di Irak, elite dari kelompok kulit putih dan orang-orang dengan pendapatan atau pendidikan tinggi, memiliki kemungkinan lebih besar mengatakan AS bertanggung jawab untuk membantu menghentikan kekerasan di Irak. Jajak pendapat dilakukan terhadap 1.383 reponden, mulai dari tanggal 16 sampai 22 Juni.
Margin of error kurang lebih 3,27 persen. ***