Berita

Prof Ahmad Erani Yustika

Wawancara

WAWANCARA

Prof Ahmad Erani Yustika: Saya Tidak Mendengar Pak Prabowo Ngomong Kata ‘Kampret’ Saat Debat

SABTU, 21 JUNI 2014 | 09:28 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Moderator debat capres tahap kedua, Prof Ahmad Erani Yustika mengaku tak mendengar capres Prabowo Subianto mengucapkan kata ‘kampret’ saat debat capres tahap kedua, di Jakarta.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) itu merasa yakin, Prabowo tidak mengu­cap­kan kalimat seronok itu. Sebab, posisi duduknya dengan kedua capres relatif dekat.

“Nggak ada itu. Saya tidak mendengar Pak Prabowo ngo­mong kata ‘kampret’ saat debat itu,” ujar Ahmad Erani Yustika ke­pada Rakyat Merdeka, yang dihubungi, Kamis (19/6).


Seperti diketahui, sebuah video yang beredar di YouTube me­ngungkap keluarnya kata tidak seronok dari Prabowo di forum debat capres tahap kedua. Pra­bowo menyebut kata ‘kampret’ ketika ditanyai soal evaluasi Tim Pemantauan dan Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) oleh rival­nya, Joko Widodo (Jokowi).

Suara Prabowo bisa didengar dari video yang diunggah akun Airin Livia yang berjudul “Prabo­wo Tidak Menguasai TPID Debat Capres Jokowi Vs Prabowo 15 Juni 2014.” Pada video yang di­tonton lebih dari 30 ribu kali itu, ucapan Prabowo terdengar pada detik ke-39.’’

Ahmad Erani Yustika selanjut­nya mengatakan, dirinya tak mau mengikuti polemik seputar kata yang tidak pantas dikeluarkan oleh seorang calon pemimpin bang­sa. Dalam forum debat itu di­rinya hanya menjalankan tugas, mengi­kuti aturan, dan melakukan upaya terbaik untuk kepentingan publik.

“Lebih baik, kita bahas konten­nya. Saya berharap, ada perbai­kan format debat di sesi selan­jutnya,”  papar Ahmad Erani.

Berikut kutipan selengkapnya:

Apa yang harus dievaluasi dan diperbaiki KPU pada de­bat capres selanjutnya?
Saya mengusulkan, pada debat selanjutnya moderator diberi kesempatan untuk memperdalam jawaban capres. Format debat se­perti yang saya lakukan, tak memberi ruang untuk para capres menjelaskan lebih dalam dan teknis tentang gagasan mereka.
 
Selain itu?
Soal waktu juga perlu diperbai­ki. Format debat dengan waktu yang singkat tidak memberi ke­sempatan bagi capres untuk men­jelaskan lebih dalam. Padahal, ada puluhan isu yang bisa men­jadi pertanyaan.
 
Sejumlah pengguna sosial media menilai, debat yang Anda bawakan terlalu datar dan garing, ini bagaimana?
Saya terima kritik itu. Saya tidak bisa banyak bergerak, ka­rena KPU memberi banyak batasan. Intinya, banyak hal yang membedakan format debat capres dengan debat dalam forum lain.
 
Apa saja batasannya?

Antara lain moderator tidak boleh menyelipkan humor, dan tidak mengomentari pendapat para capres. Hal itu membuat debat terlihat kaku.
 
Kenapa Anda menerima tawaran itu?
Saya terima itu atas satu pertimbangan, kepentingan pu­blik. Sejauh ini, semua karier sa­ya, saya dedikasikan untuk ke­pentingan publik. Saya terima se­mua batasan itu, sekaligus kritik publik yang dialamatkan kepada saya.
 
Apa Anda merasa canggung saat memimpin debat itu?
Bagi saya, bicara di hadapan ratusan atau ribuan orang, bukan hal baru. Saya sama sekali tidak merasa canggung atau tertekan saat memimpin forum itu.

Kalau ada pihak yang menilai forum itu tak berjalan seperti yang mereka harapkan, kan sudah saya sam­paikan. Saya dibatasi oleh format yang dibuat KPU. ***

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

UPDATE

Pemulihan Pasien Pasca-Stroke Lewat Teknologi Robotik, Siapa Takut?

Sabtu, 07 Februari 2026 | 20:03

10 Film Hollywood Dirilis Sepanjang 2026, Ada Spider-Man hingga Avengers: Doomsday

Sabtu, 07 Februari 2026 | 19:43

Huntara Bener Meriah Ditargetkan Siap Huni Jelang Ramadan

Sabtu, 07 Februari 2026 | 19:21

Perbaikan Program MBG untuk Indonesia Emas Menggema di Yogyakarta

Sabtu, 07 Februari 2026 | 19:00

BNI Lanjutkan Aksi Bersih Pantai dengan Dukungan Sarana TPS3R Sekar Tanjung di Bali

Sabtu, 07 Februari 2026 | 18:54

Masuk Angin Vs GERD, Obat Herbal Tak Selalu Aman

Sabtu, 07 Februari 2026 | 18:09

Prabowo Curhat Tiap Mau Berantas Korupsi Ada Kerusuhan dan Adu Domba

Sabtu, 07 Februari 2026 | 17:51

PDIP Ajak Teladani Perjuangan Fatmawati Soekarno

Sabtu, 07 Februari 2026 | 17:15

BNI Gelar Aksi Bersih Pantai Mertasari

Sabtu, 07 Februari 2026 | 16:48

Kawal Ketat Pergub Penggunaan Air Tanah di Gedung Jakarta

Sabtu, 07 Februari 2026 | 16:27

Selengkapnya