Berita

Politik

Dituduh Jadi Pendukung Capres Pelanggar HAM, Ini Kata Ratna Sarumpet

MINGGU, 15 JUNI 2014 | 18:15 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Aktivis HAM Ratna Sarumpet tak gentar disebut sebagai pendukung capres pelanggar HAM.

Tuduhan menjadi pendukung capres pelanggar HAM dialamatkan berbagai pihak kepada Ratna Sarumpet karena menyebut keberadaan Dewan Kehormatan Perwira yang memberhentikan Prabowo Subianto dari dinas kemiliteran pada 1998 lalu melanggar aturan baku TNI.

"Tidak masalah. Bersikap menuntut keberanian mengambil resiko, dan itu saya ambil," kata dia kepada redaksi sesaat lalu (Minggu, 15/6).
 

 
"Siapa yang buat UU Pilpres? Kenapa tidak ada aturan menolak calon yang diduga melanggar HAM? Kenapa lembaga-lembaga HAM resmi seperti Komnas HAM dan LSM-LSM HAM lainnya dari awal tidak berantam dengan KPU mempersoalkan pencalonan Prabowo sebagai capres?" keluh Ratna.

Menurut Ratna Sarumpet yang telah memutuskan akan golput dalam pemilihan presiden mendatang, apa yang terjadi saat ini merupakan salah satu buah sangat menyedihkan dari Amandemen UUD 1945. 

Pilpres Liberal yang bertentangan dengan Pancasila membuat Rakyat Indonesia terbelah menjadi dua dan dengan gampang menghakimi seseorang sebagai hitam, sementara dirinya putih. Penyakit demikian menghinggapi aktivis, intelektual, seniman, maupun agamawan. Mereka menjadi gamang, bahkan sebagian ikut mengambil manfaat dan jadi hitam atau putih.

Ratna yang juga dikenal sebagai Ketua Mejelis Kedaulatan Republik Indonesia (MKRI) dan anggota Badan Persiapan Sidang Istimewa 2014 menyesalkan mata para aktivis HAM yang cenderung hanya melotot pada sosok Prabowo, dan tidak menyadari kalau purnawirawan-purnawirawan TNI yang diduga melakukan pelanggaran HAM berat 1998 atau yang diduga bertanggung-jawab atas kematian Munir, sebenarnya sedang bersembunyi di balik dua kubu capres.

Saat ini, katanya, para purnawirawan TNI yang diduga pelanggar HAM yang ada di dua kubu capres itu sedang kepanasan dan diantara mereka saling buka-bukaan. Dan mestinya, lanjut Ratna Sarumpet, kondisi ini harus jadi momentum atau peluang besar bagi para aktivis HAM terutama yang senior dan pelaku sejarah, untuk mendorong kembali pengungkapan kasus-kasus pelanggaran HAM 1998, pembantaian Aceh, Kerusuhan Poso, Kerusuhan Maluku dan kematian Munir.

"Tapi semua bungkam, (mungkin) takut dicap sebagai pendukung Prabowo si 'Pelanggar HAM'," demikian Ratna.[dem]   

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

UPDATE

Mengapa 2026 adalah Momentum Transformasi, Bukan Resesi?

Senin, 13 April 2026 | 00:01

Armada Pertamina Terus Distribusikan Energi di Tengah Tantangan Global

Minggu, 12 April 2026 | 23:40

KSAL Sidak Kesiapan Tempur Markas Petarung Marinir

Minggu, 12 April 2026 | 23:11

OTT: Prestasi Penegakan Hukum atau Alarm Kegagalan Sistem

Minggu, 12 April 2026 | 22:46

Modus Baru Pemerasan Bupati Tulungagung: Dikunci Sejak Awal

Minggu, 12 April 2026 | 22:22

Ketum Perbakin Jakarta: Brimob X-Treme 2026 Ajang Pembibitan Atlet Nasional

Minggu, 12 April 2026 | 22:11

Isu Kudeta Prabowo Dinilai Bagian Konsolidasi Politik

Minggu, 12 April 2026 | 21:47

KPK Duga Adik Bupati Tulungagung Tahu Praktik Pemerasan

Minggu, 12 April 2026 | 21:28

Brimob X-Treme 2026: Dari Depok untuk Panggung Menembak Dunia

Minggu, 12 April 2026 | 21:08

Polisi London Tangkap 523 Demonstran Pro-Palestina

Minggu, 12 April 2026 | 20:06

Selengkapnya