Berita

anas urbaningrum/rmol

Inilah yang Penting bagi Denny JA Bila di Demokrat Anas Jadi Penguasa

SABTU, 07 JUNI 2014 | 23:29 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Tuduhan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tentang survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) untuk mengukur keterpilihan Anas Urbaningrum dalam Kongres 2010 sebagai tindakan kejahatan gratifikasi jelas mengada-ada dan sangat dipaksakan.

Dalam persidangan beberapa hari lalu penuntut umum dari KPK mengatakan bahwa pemilihan ketua umum Partai Demokrat itu Anas Urbaningrum menerima gratifikasi dari LSI berupa survei gratisan. Jaksa menambakan, sebagai imbalan untuk LSI, Anas berjanji akan memberikan proyek survei calon kepala daerah dari Demokrat.

Anas telah membantah tuduhan itu, dan mengatakan bahwa pendiri LSI Denny JA membantunya secara sukarela. Juga tidak ada janji proyek survei segala.


Malam ini (Sabtu, 7/6), Denny JA kembali membuat penjelasan untuk memperkuat bantahan-bantahan atas tuduhan jaksa penuntut umum yang terkesan ngawur itu.

"Istilah gratifikasi itu dengan sendirinya tidak pas untuk situasi kerja LSI untuk pemenangan Anas di Kongres Demkrat," ujar Denny JA lewat akun @DennyJA_World.

Definisi gratifikasi itu, sambungnya, adalah pemberian sesuatu kepada seorang pejabat, untuk kerja atau imbalan di bidang yang relevan dengan jabatan si pejabat. Gratifikasi menjadi lebih berat lagi jika ada imbalan yang melibatkan uang negara.

Merujuk pada definisi ini, jelas pekerjaan LSI untuk Anas tak termasuk dalam gratifikasi. Benar bahwa saat LSI bekerja untuk Anas, ia sedang menjabat sebagai anggota DPR. Tapi LSI tidak membantu Anas sebagai anggota DPR.

"Kerja LSI untuk Anas sebagai calon ketua umum Demokrat, yang tak berhubungan dengan jabatannya di DPR. Calon ketua umum demokrat bisa siapa saja, yang tak harus pejabat negara," tambahnya.

LSI membantu Anas di bidang survei dan pemenangan, yang merupakan bidang kerja LSI sejak awal berdiri. Namun benar pula bahwa LSI itu bukan yayasan sosial, tapi sebuah PT yang mencari laba.

Jelas LSI tidak membantu dengan gratisan dan merugi. Pasti ada harapan laba dan citra dalam kerjanya, seperti halnya semua PT di dunia usaha.

"Kadang tak apa kita rugi secara keuangan, tapi mendapatkan citra dan reputasi. Itu bagian dari bisnis. Saya membantu Anas setidaknya untuk mendapatkan citra itu. Citra ikut memenangkan ketum partai politik terbesar saat itu," demikian Denny JA. [dem]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Aplikasi Digital Berbasis White Label Dukung Operasional KDKMP

Kamis, 14 Mei 2026 | 05:59

Wamenaker Fasilitasi Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial di Multistrada

Kamis, 14 Mei 2026 | 05:43

DPD Dorong Kemenko Polkam Lahirkan Peta Jalan Keamanan Papua

Kamis, 14 Mei 2026 | 05:28

Mengoptimalkan Potensi Blue Ocean Economy

Kamis, 14 Mei 2026 | 04:53

Wagub Lampung Minta Gapembi Kawal Pemenuhan Standar MBG

Kamis, 14 Mei 2026 | 04:35

Analis Geopolitik: Tiongkok Berpotensi sebagai Global Stabilizer

Kamis, 14 Mei 2026 | 04:23

Prabowo dan Tumpukan Uang

Kamis, 14 Mei 2026 | 03:58

ANTAM Tetap Fokus Jaga Fundamental Bisnis di Tengah Dinamika Global

Kamis, 14 Mei 2026 | 03:46

Sukseskan Program Nuklir, PKS Dorong Pembentukan Kembali BATAN

Kamis, 14 Mei 2026 | 03:23

Paradigma Baru Biaya Logistik

Kamis, 14 Mei 2026 | 02:59

Selengkapnya