Berita

Muhaimin The Trouble Maker, Iskandar Pun Mulai Ditinggal Kiai 'Lurus' NU

RABU, 04 JUNI 2014 | 17:42 WIB | OLEH: EMPIE ISMAIL MASSARDI

SAAT pemilihan untuk anggota legislatif, memang sudah hampir dua bulan berlalu. Semua orang melupakannya, apalagi kini sudah masuk tahapan pilpres. Namun, tidak demikian yang dirasakan oleh sebagian besar warga NU yang dimotori oleh para Kiai "Lurus". Ada luka kecewa yang masih lekat membekas di hati kaum nahdliyin. Kecewa itu ditorehkan oleh Cak Imin dan PKB saat  proses kampanye pileg yang baru lalu  itu.

Pada saat itu, Cak Imin berjanji di hadapan Kiai NU dan warganya, akan menjadikan Mahfud MD atau Rhoma Irama menjadi capres dari PKB. Maka, dengan semangat tinggi, kedua capres ini pun mulai bergerilya berupaya mengumpulkan suara kaum nahdliyin yang dulu terserak.

9 April pun tiba. Hari dimana segenap doa dan harapan kaum nahdliyin untuk bisa  memiliki presiden yang mewakili  mereka  akan tumpah-ruah. Harapan akan lahirnya  pemimpin yang bisa melakukan  perbaikan atas keadaan sosial ekonomi yang selama ini mereka rasa terabaikan!


9 Mei, hari penetapan suara oleh KPU pun tiba. PKB memperoleh 9.04% suara, naik hampir 100% dari hasil pemilu 2009. Warga NU dan para Kiai pun mengumandangkan takbir dan rasa syukur yang tak terkira. Harapan,  tinggal selangkah lagi menjadi kenyataan. Warga NU menunggu janji Cak Imin diwujudkan. Menjadikan orang NU sebaga Presiden!

Tetapi, Cak Imin mengatakan, suara PKB tidak mungkin bisa mengusung capresnya  sendiri. Warga NU pun mengangguk lugu, mengiyakan. Cak Imin kemudian berjanji akan menawarkan Rhoma Irama atau Mahfud MD  menjadi cawapres partai pemenang. Dan, ketika PKB berkoalisi dengan PDIP, kaum nahdliyin pun kembali merajut harap. Harapan yang hanya satu , Mahfud MD, sebagai nahdliyin  sejati, bisa menjadi cawapres.  Namun, harapan hanya tinggalah harapan. Ketika koalisi PDIP memasangkan Jusuf Kalla, sang "opportunis", sebagai pasangan Jokowi pada deklarasi 19 Mei lalu, kandaslah semua harapan!

Seolah tak punya salah, dengan retorika ala Sengkuni, Cak Imin mengatakan kalau  Rhoma Irama dan Mahfud MD pun sudah diajukan sebagai cawapres Jokowi. Tapi, yang dipilih memang Jusuf Kalla. Yang menyedihkan, menurut Mahfud MD, Cak Imin ternyata tidak pernah menawarkan secara resmi nama mereka. Bahkan,  salah seorang elit Gerindra mengatakan, mereka pasti akan mempertimbangkan dengan seksama jika saja nama Mahfud MD ditawarkan secara resmi sebagai cawapres mewakili warga NU.

Atas kenyataan itu, para kiai pun meradang. Namun, bukanlah Cak Imin kalau tidak punya cara untuk melunakkan hati para kiai. Cak Imin, pada 25 Mei lalu di Surabaya, sebagai pengobat luka, kembali menebarkan  janji,"Saya menjamin Menteri Agama dari kalangan NU kalau Jokowi-JK menang!"

Kali ini, sepertinya "Langit" ingin melindungi kaum nahdliyin dari "kebohongan". Jokowi membantah dengan keras  perrnyataan Cak Imin, "Koalisi ini adalah kerja sama tanpa syarat," ujar Jokowi saat meresmikan Pasar Gondangdia, Jakarta Pusat, 28 Mei."Kita tidak ada bicara masalah menteri sampai sekarang. Tidak ada!" tegasnya.

Para Kiai "Lurus" NU kini tersadar dan mulai merenung tentang "moralitas" Cak Imin. Bagaimana mungkin, orang yang telah "mengusir" Gus Dur, keluarga dan kerabatnya dari PKB, yang menjadi guru, paman, sekaligus  bapaknya, bisa menjadi tumpuan harapan kaum nahdliyin? Bagaimana mungkin, orang yang sudah melakukan "kedurhakaan",  bisa dipikulkan amanah di atas pundaknya? Bagaimana mungkin, orang yang terus melakukan "kebohongan" atas warganya, bisa dijadikan pemimpin?

Para Kiai "Lurus" NU pun kemudian satu persatu mulai pergi meninggalkan PKB. Cak Imin kini sendiri dalam sepi, tak lagi berani mengumbar  janji, karena pasti tak terpenuhi!

Wallahu a’lam bish-shawabi !

Penulis Pengamat Spiritual


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

UPDATE

Persib Naik Peringkat Usai Tahan Imbang Dewa United

Senin, 12 Oktober 2026 | 02:20

Menata Kembali Pendidikan Kita

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:58

Koperasi di Bima Sukses Produksi Garam Merah Putih

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:35

Golkar Perkenalkan Sistem Dapil Nasional, Begini Penjelasannya

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:15

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Paradoks Kebijakan Pertahanan Negara

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:48

Baintelkam Polri Alami Perombakan di Era Suyudi

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:20

Taruna Merah Putih Gelar Taman Talks Kupas Masa Depan Kerja di Era AI

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:45

Polemik Revitalisasi Taman Coatesville, Warga Protes Bangunan 480 Meter Persegi

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:33

Pangandaran Run 2026 Rajut Kebersamaan TNI dan Rakyat

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:18

Manggala Agni Turun Tangan Padamkan Karhutla yang Mendekati Permukiman

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:07

Selengkapnya