Berita

foto:net

Petani Kian Tertekan di Akhir Pemerintahan SBY

SELASA, 03 JUNI 2014 | 15:41 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Menjelang akhir pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kesejahteraan petani tanaman pangan kian terpuruk. Hal ini dapat dilihat dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang menurun selama enam bulan terakhir. Pada bulan Juni, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi penurunan NTP tanaman pangan dari 98,20 menjadi 97,98, sementara nilai tukar petani secara umum sedikit meningkat dari 101,80 menjadi 101,88.

Menurut Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih, penurunan ini disebabkan oleh tingginya indeks yang dibayar oleh petani pangan daripada indeks yang diterimanya. Sebenarnya ada kenaikan indeks yang diterima petani, baik karena terjadi kenaikan harga gabah petani maupun kenaikan upah buruh tani. Namun BPS mencatat kenaikan indeks yang dibayar untuk membeli seluruh elemen konsumsi menyebabkan hasil penjualan gabah petani dan kenaikan harga upah buruh tani tidak bisa mengangkat kesejateraan mereka.  

"Tercakup didalam indeks yang harus dibayar petani adalah biaya produksi pertanian. Oleh karena itu kelangkaan pupuk yang menyebabkan kenaikan harga pupuk tentunya membuat biaya produksi pertanian meningkat," kata Henry dalam rilisnya, Selasa (3/6).


Henry melanjutkan, pupuk subsidi yang harganya berkisar Rp 70.000 per 50 kg dijual di pasaran dengan harga Rp.110000 - 170000. Kenaikan nilai yang harus dibayar tersebut ditunjukkan pula dari adanya inflasi pedesaan sebesar 0,23 persen dengan komponen terbesar rata-rata untuk bahan makanan.

"Sungguh hal yang memprihatinkan pedesaan sebagai pusat pangan justru menjadi pusat pangan mahal. Tekanan kepada petani pun cenderung akan semakin tinggi menjelang puasa Ramadhan dan Idul Fitri," terangnya.

Oleh karena itu Henry menambahkan, langkah kongkrit yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah perbaikan dan pengawasan distribusi pupuk subsidi dan juga benih, pada jangka pendek dan menjadikan subsidi langsung kepada petani dalam jangka panjang.

"Demikian juga perbaikan distribusi pangan seperti memperpendek jaringan distribusi dan perbaikan infrastruktur sehingga harga pangan yang ada di pasar-pasar pedesaan tidak mengalami kenaikan yang drastis," tandasnya. [rus]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Tak Ada Pintu Setop Perang Iran versus AS-Israel

Sabtu, 02 Mei 2026 | 04:02

Prabowo di Tengah Massa Buruh Tak Lagi Hadapi Kritik, tapi Terima Dukungan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 04:00

Pertama Kali Presiden RI Dielu-elukan Buruh

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:28

Polri Apresiasi Massa Buruh Tertib

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:20

Perpres Ojol 92 Persen Bisa Picu Kenaikan Tarif

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:01

Jumhur Hidayat Jadi Menteri LH: Politik Merangkul untuk Mengendalikan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:42

Waspada Gelombang Tinggi saat Libur Panjang Pekan Ini

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:19

Kaji Ulang Wacana Pemangkasan Jaminan Kesehatan Aceh

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:00

Perbedaan Lokasi May Day Tak Perlu Diperdebatkan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 01:32

Perpina DKI Serukan Kepemimpinan Perempuan Berdaya

Sabtu, 02 Mei 2026 | 01:06

Selengkapnya