. Piala dunia selalu menjadi upacara empat tahunan yang berlangsung bak magnet. Untuk sekitar satu bulan, perhatian masyarakat dunia akan terpusat hanya pada negara tuan rumah yang menyuguhkan berbagai pertandingan sepakbola antar negara peserta yang sarat gengsi dan pertaruhan.
Ketika bicara tentang penyelenggaraan piala dunia, negara penyelenggara atau yang biasa disebut tuan rumah selalu menjadi bagian penting dalam pembahasan. Bagaimana tidak, negara yang ditunjuk FIFA itu akan menjadi kiblat sepakbola dunia untuk sementara hingga gelaran itu usai. Tidak hanya harus mempersiapkan infrastruktur secara maksimal, negara tersebut juga harus punya budget besar untuk memastikan gelaran piala dunia mampu memuaskan semua pihak.
Begitu tingginya gengsi yang akan didapatkan jika menjadi tuan rumah piala dunia membuat banyak negara mengajukan diri ke FIFA. Setelah usai digelar di Brazil, empat tahun kemudian negara beruang merah, Rusia sudah ditetapkan sebagai tuan rumah dan di tahun 2022, negara kaya minyak, Qatar akan mendapatkan giliran itu.
Sayangnya penunjukan Qatar sebagai tuan rumah kerap kali dilanda isu negatif. Setidaknya ada tiga hal yang membuat Qatar rasanya belum cocok menjadi tuan rumah pesta sepak bola terakbar di jagat raya itu.
Pertama, Qatar dikabarkan telah melanggar hak-hak pekerja dengan beban pekerjaan yang tidak manusiawi. Seperti diketahui, sebelum ditemukan potensi minyak yang sangat besar di wilayahnya, Qatar merupakan negara padang pasir yang tandus dan menyengat. Setelah kini bertransformasi menjadi negara kaya dan ditunjuk sebagai tuan rumah piala dunia, Qatar berusaha mengejar ketertinggalannya dengan mengebut pembangunan infrastruktur. Gedung-gedung pencakar langit dibangun, mall-mall dan hotel mulai berdiri, dan dengan ambisiusnya, Qatar bahkan menciptakan pulau buatannya sendiri.
Namun nampaknya Qatar mengabaikan nasib para pekerja kasar yang berjasa membangun gedung-gedung itu. Qatar mendadak menjadi neraka bagi para buruh bangunan yang kebanyakan datang dari India, Bangladesh dan Pakistan. Mereka dipaksa bekerja untuk membangun berbagai fasilitas piala dunia di bawah suhu gurun yang sangat panas dan tanpa perlindungan yang memadai. Hasilnya, 700-an pekerja dikirim kembali ke negara asalnya tanpa nyawa.
Setelah mendapat protes dari berbagai kalangan, Qatar akhirnya berjanji akan memberlakukan hukum perburuhan yang adil dan tidak akan melarang pekerja yang ingin pulang ke negara asalnya. Sebelumnya, Qatar menganut sistem perburuhan "Kafala", atau Kafala labour system yang mengatur kehidupan sang pekerja sejak berangkat hingga pulang ke negaranya.
Setelah berhasil di gaet oleh agen di negara asal, pekerja yang akan berangkat ke Qatar diwajibkan menandatangani klausul perjanjian hutang yang menyebutkan bahwa dirinya akan membayar ongkos berangkat ke Qatar dan akomodasi dari gajinya. Berbekal klausul ini, pekerja tak akan bisa pulang ke negaranya jika hutang itu belum dibayar. Lebih jauh lagi, mereka tidak punya jaminan kesehatan maupun keselamatan apapun dari agen yang mempekerjakan mereka.
Belum usai masalah pekerja ini, Qatar terbelit masalah baru. Media terkenal Inggris,
The Sunday Times menyatakan bahwa mereka menemukan puluhan dokumen terkait penyuapan yang dilakukan oleh Qatar terhadap FIFA agar negaranya diloloskan menjadi tuan rumah piala dunia 2022. Adalah Bin Hammam, yang merupakan anggota komite eksekutif FIFA selama 16 tahun terakhir yang disebut-sebut melakukan banyak transaksi mencurigakan kepada beberapa petinggi FIFA terkait voting tuan rumah piala dunia 2022. Hasil akhirnya, Qatar memenangkan voting 14 suara dari 22 total suara dan mengalahkan Amerika Serikat dalam putaran voting terakhir.
Atas laporan ini, panitia piala dunia Qatar 2022 menyatakan dalam keterangan resminya bahwa bin Hammam bersih. Pria yang dipecat dari jabatan presiden di Asian Football Confederation karena kasus korupsi itu disebut bersih dan tidak bermain mata dengan komite yang melakukan voting.
"Dia selalu memiliki standar yang tinggi dalam hal etika dan integritas. Karena itu kami akan mengambil langkah yang diperlukan untuk membela integritasnya dan tim pengacara kami juga tengah menyelidiki hal ini"
Terakhir, terkait letak geografis Qatar yang berlokasi di gurun tandus dengan suhu 40-45 derajat. Kondisi ini tentu saja tidak cocok dengan piala dunia yang dijadwalkan berlangsung setiap musim panas yaitu Juni-Juli. Untuk mengatasi masalah ini, Qatar mengumbar janji bahwa seluruh venue stadion piala dunia yang akan digunakan nantinya akan indoor dan memiliki pendingin ruangan. Tapi dengan ukuran raksasa yang dimiliki masing-masing stadion, pemborosan yang dilakukan Qatar akan makin menjadi-jadi.
"Ya, memilih Qatar sebagai tuan rumah piala dunia adalah kesalahan, tapi semua orang kan melakukan kesalahan," aku presiden FIFA Sepp Blatter santai.
[ysa]