Berita

yusril ihza mahendra/net

Politik

Yusril: Caleg Terpilih Bobrok, Apa Boleh Buat Harus Dilantik

SABTU, 31 MEI 2014 | 06:05 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

. Pakar hukum tata negara Prof. Yusril Ihza Mahendra menyebut saat ini Indonesia sebagai "Negara Apa Boleh Buat". Salah satu dalil yang membuat Yusril berkesimpulan demikian adalah hasil Pileg 9 April lalu dikaitkan dengan kebuntuan konstitusional .

Dikatakan Yusril, kecurangan di Pileg 2014 terjadi sangat masif. Tindakan sogok menyogok terjadi dimana-mana. Untuk dapat kursi, partai dan calegnya harus mengeluarkan uang ratusan miliar. Meski demikian, tak ada lembaga yang bisa menyatakan Pemilu batal karena melanggar konstitusi dan UU akibat curang dan politik uang.

"Betapapun bobroknya Pileg, DPR, DPD dan MPR harus dilantik 1 Oktober. Kalau tidak, akan terjadi kevakuman kekuasaan," kata Yusril dalam akun Twitternya, @Yusrilihza_Mhd (Jumat, 30/5).


Yusril mengatakan Pileg 2014 adalah pemilu terburuk sepanjang sejarah reformasi. Para caleg menyogok rakyatnya agar terpilih. Sebagian rakyat juga minta disogok agar memilih mereka. Tidak hanya itu, partai dan caleg saling kanibal di daerah-daerah. Suara pemilih dijualbelikan, dilakukan dengan kongkalikong bersama anggota KPUD. Yusril menduga setelah terpilih para anggota dewan ini dengan mudah akan disogok pula. Sogok-menyogok pun makin menggila.

Kalau kasus ini dibawa ke MK, kata Yusril, sampai kapanpun MK tidak sanggup menanganinya karena yang dibawa adalah kasus demi kasus. MK tidak berwenang menyatakan Pemilu batal karena melanggar konstitusi dan UU akibat curang dan politik uang. Menurut Yusril, MK kita beda dengan MK Thailand dimana mereka bisa menyatakan hasil Pemilu batal seluruhnya, sehingga pemerintah demisioner jalan terus.

"Betapapun rusaknya moral politisi kita yang mendapakan kursi legislatif walau bergelimang sogok, mereka tetap harus dilantik. Mengapa harus dilantik? Jawabannya "Apa Boleh Buat". Kalau tidak dilantik akan terjadi kevakuman kekuasaaan," sambung Yusril. [sam]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Sejarah Baru! Hattrick Perdana Messi Bawa Argentina Libas Aljazair dan Samai Rekor Klose

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:15

KPK Buka Peluang Kembangkan Penyidikan Kasus Bea Cukai yang Seret Nama Djaka Budi Utama

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:01

Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Raih Penghargaan di Ajang Piala Presiden

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:34

Pemerintah Hentikan Sementara MBG Selama Libur Sekolah

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:32

Mahfud MD Nilai Dadan Hindayana Layak Dihukum Mati Jika Terbukti Korupsi

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Kembali ke Level 78 Dolar AS

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:19

Harta Wamenko Pangan Hanif Faisol Tembus Rp8,9 Miliar, Naik Tajam Sejak 2022

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:04

Bursa Asia Dibuka Merah, Kospi Pimpin Penurunan

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:52

Bayan Resources Siap Tebar Dividen Rp 8,96 Triliun dari Laba Buku 2025

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:40

Wall Street Variatif, Dow Jones Terbang Tinggi

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:23

Selengkapnya