Berita

helena costa/net

12 Pas!

Helena Costa yang Menumbangkan Dominasi Laki-laki di Lapangan Bola

SENIN, 26 MEI 2014 | 13:14 WIB | OLEH: HAIFA INAYAH

SEPAKBOLA selalu identik dengan maskulinitas. Permainan yang sering disebut-sebut paling favorit di dunia itu tidak hanya membutuhkan kekuatan otot untuk bisa berlari selama lebih dari 90 menit, namun juga menuntut banyak hal dari seorang pesepakbola: kekuatan fisik, postur tubuh yang sempurna hingga intelektualitas dalam menentukan taktik demi merobek gawang lawan.

Tuntutan tinggi ini membuat sepakbola identik dengan kaum adam. Padahal faktanya, wanita selalu punya tempat di Sepak bola. Sebut saja Nelly Viennot, wasit wanita asal Perancis yang berhasil menarik perhatian publik setelah dia menjadi asisten wasit di Liga Champions. Selain itu ada juga Eva Carneiro, ketua tim dokter klub elit asal Inggris, Chelsea dan Karren Brady, yang juga merupakan eksekutif direktur di klub Westham United.

Pelan tapi pasti, wanita mengambil peran yang makin signifikan di sepakbola. Kini publik dikejutkan dengan penunjukkan Helena Costa, pelatih sepakbola berusia 36 tahun asal Portugal yang ditunjuk untuk melatih klub divisi dua asal Perancis, Clermont Foot 63. Inilah pertama kalinya seorang pelatih wanita ditunjuk untuk melatih di salah satu klub senior yang berlaga di satu dari lima liga terelit Eropa: Liga Spanyol, Liga Jerman, Liga Inggris, Liga Italia dan Liga Perancis.


"Penunjukan ini membawa Clermont Foot 63 ke era baru. Kami akan bergantung pada 17 pemain dan beberapa pemain muda yang lolos seleksi klub" ujar situs resmi Clermont Foot 63 yang mengumumkan penunjukkan Costa.

Helena Costa bukan pemain baru di jagat sepakbola. Lahir di Portugal, yang juga menghasilkan pelatih pria kenamaan seperti Jose Maurinho, Costa menyelesaikan pendidikan S2nya di bidang menejemen olahraga dan meraih sertifikat pelatihnya dari FIFA dengan nilai A. Pengalaman melatih Costa kemudian dimulai. Di antara tahun 1997 hingga 2010 Costa melatih tim junior Benfica dan memimpin klub itu dalam memenangkan Liga regional di Lisbon. Costa kemudian beralih menjadi pelatih tim wanita dengan melatih di Tim nasional wanita Qatar dan terakhir, menukangi tim nasional wanita di negeri para Mullah, Iran.

Menerima peran baru sebagai pelatih klub pria yang bermain di liga utama Eropa, Costa bukan tidak melihat tantangan besar di depannya.

"Saya tahu, pilihan ini adalah langkah yang besar" sebut Costa ketika dikenalkan ke publik sebagai pelatih baru oleh Clermont Foot 63.

"Saya tahu karena saya telah berkarir lama di dunia pria, jadi hari ini adalah hari yang penting untuk membuktikan bahwa setiap peluang itu terbuka, dan saya mengerti publik terkejut, tapi kan sekarang sudah tahun 2014. Hal seperti ini harusnya normal-normal saja" sambung Costa.

Tak hanya publik, para punggawa Clermont Foot 63-pun dibuat terkejut dengan keputusan klub menunjuk Helena sebagai pelatih. Adalah striker Clermont, Remy Dugimont yang tak kuasa menyembunyikan rasa kagetnya ketika mengetahui pelatih baru yang akan menggantikan pelatih sebelumnya, Regis Brouard dari kaum hawa.

"Ketika kami diberitahu bahwa pelatih baru kami adalah seorang wanita, kami semua terkejut. Namanya muncul tiba-tiba dan kini kami harus mengenalnya. Ini mengejutkan tapi juga merupakan pengalaman yang unik," kata Remy.

Hal yang sama diamini oleh rekan setimnya, Anthony Lippini.

"Saya sering mengobrol dengan kawan-kawan soal wanita yang masuk ke lingkungan yang sangat macho, seperti tentara. Dan kini hal itu terjadi dalam sepakbola. Saya jadi tak sabar menunggu musim baru dimulai".

Penujukkan Costa seolah menjadi angin segar bagi peran wanita di sepakbola Eropa. Seperti yang dtelah diketahui, benua biru itu telah lama berkonflik dengan isu-isu klasik yang seharusnya hanya ada di zaman kegelapan. Sebut saja kasus rasisme yang menimpa pemain Barcelona, Dani Alves hingga kasus sexist yang dilakukan oleh dua orang penyiar skysports, Richard Keys dan Andry Gray. Keduanya dengan ceroboh meledek seorang hakim garis wanita, Sian Massey hingga membuat keduanya dipecat.

"Percayakah anda? seorang hakim garis perempuan. Perempuan bahkan tak mengerti aturan offside," komentar Gray di dekat mikrofon yang dikiranya telah mati. "Tentu saja mereka tidak mengerti," timpal Keys.   

Ya, isu-isu klasik seperti ini masih saja tumbuh di Eropa dan tampaknya, sepakbola selalu menjadi alat yang paling ampuh untuk berkampanye meruntuhkan stigma-stigma tersebut.[***] 

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Tak Pelihara Buzzer, Prabowo Layak Terus Didukung

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:14

Stasiun Cirebon Dipadati Penumpang Arus Balik Nataru

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:00

SBY Pertimbangkan Langkah Hukum, Mega Tak Suka Main Belakang

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:34

Pilkada Lewat DPRD Cermin Ketakutan terhadap Suara Rakyat

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:26

Jika Mau Kejaksaan Sangat Gampang Ciduk Silfester

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:01

Pilkada Lewat DPRD Sudah Pasti Ditolak

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:37

Resolusi 2026 Rismon Sianipar: Makzulkan Gibran Wapres Terburuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:13

Kata Golkar Soal Pertemuan Bahlil, Dasco, Zuhas dan Cak Imin

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:10

Penumpang TransJakarta Minta Pelaku Pelecehan Seksual Ditindak Tegas

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:38

Bulgaria Resmi Gunakan Euro, Tinggalkan Lev

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:21

Selengkapnya