Munculnya sejumlah orang yang mengklaim “Gusdurian†lalu mendukung dan menjadi partisan capres-cawapres yang akan bertarung di pilpres 2014, seperti terjadi di Jogjakarta yang mendukung pasangan Jokowi-JK, membuat Adhie M Massardi gerah.
“Sungguh, mereka sedang berbohong dengan mengatasnamakan Gus Dur. Karena Gusdurian itu bukan organisasi partisan yang bisa digiring ke sana-ke sini demi kepentingan sesaat dan pragmatis,†tegas Adhie.
Jubir Presiden KH Abdurrahman Wahid ini menjelaskan, Gusdurian itu sebetulnya istilah bagi orang yang menghormati dan memperjuangkan gagasan serta tata nilai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang dikembangkan Gus Dur, baik ketika masih sebagai intelektual, tokoh Nahdlatul Ulama, saat menjabat sebagai Presiden RI ke-4, maupun setelah dilengserkan.
Karena gagasan dan perjuangannya melampaui batas-batas kepentingan suku, agama maupun garis politik, maka pengagum Gus Dur pun melampoi batas etnis, agama maupun aliran politik. Oleh sebab itu, secara matematika, jumlah Gusdurian lebih besar dari Nahdliyin. Sebab semua Nahdliyin pasti mengaku Gusdurian, sedangkan tidak semua Gusdurian adalah Nahdliyin. Banyak di antaranya bahkan non-Muslim.
Semula, Gus Dur mendesain PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) sebagai inkubator dan alat politik guna memperjuangkan tata nilai dan gagasan kebangsaannya. Tapi sejak beliau dihardik Muhaimin Iskandar dkk hingga terusir dari partai yang dibesarkannya, PKB yang mendukung Jokowi-JK jadi seperti parpol pada umumnya: pragmatis. Hanya mencari kekuasaan dan uang belaka!
Makanya, menurut Adhie, tugas dan tanggungjawab orang-orang yang mengaku Gusdurian adalah meneruskan apa yang diperjuangkan Gus Dur. Bukan menjadi partisan bagi capres-cawapres manapun. Kecuali yang memang memiliki komitmen kebangsaan seperti Gus Dur.
Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) ini lalu berpesan kepada kaum Gusdurian untuk menjaga nalar dan hati agar tetap terjaga. Pada zaman penuh kepalsuan seperti sekarang ini, kita tidak boleh gampang terpukau oleh janji yang dikemas dalam figur yang tampak seolah-olah lugu dan pandai berlagu.
Lihat dan teliti orang-orang di sekitar para kandidat itu. Kalau yang ada di antara capres-cawapres itu termasuk dalam golongan orang-orang yang suka menghardik orang miskin dengan kebijakan-kebijakan sesat, jauhilah, sekalipun ada tanda-tanda akan menang pilpres.
“Sehingga apabila mereka nanti benar-benar berkuasa dan menjalankan pemerintahan dengan dzolim karena khianat pada amanat, tiada keraguan bagi kita (Gusdurian) untuk melakukan perlawanan,†demikian Adhie M Massardi.
[dem]