Berita

ilustrasi/net

9 Juli: Pertarungan Pilpres Putaran Kedua

JUMAT, 23 MEI 2014 | 11:03 WIB | OLEH: EMPIE ISMAIL MASSARDI

PADA tulisan sebelumnya, 18 Mei di Rakyat Merdeka Online, penulis  menyatakan bahwa, "Pilpres dua putaran"  merupakan "Pemenuhan Ketentuan Langit". Dan memang, ternyata Pilpres yang akan digelar KPU pada tanggal 9 Juli nanti,  sesungguhnya merupakan Pilpres putaran kedua!

Kok bisa? Bisa, karena Pilpres putaran pertama  telah terjadi pada tanggal 19 Mei  yang baru lalu. Pilpres putaran pertama terjadi karena terprovokasi  oleh PDIP dengan disandingkannya JK sebagai cawapres Jokowi. Pemilihan "paksa" JK sebagai cawapres  adalah reaksi atas terciptanya "janin koalisi ARB-Pramono Edhie."  Pemasangan Jokowi-JK oleh PDIP, seolah ingin mengulang sejarah Pilpres 2004, yang juga waktu itu JK dianggap "berkhianat" terhadap Golkar.

Jadi pada tanggal 19 Mei itu, ketika deklarasi Jokowi-JK dan  deklarasi Prabowo-Hatta, sesungguhnya  sedang  terjadi pertarungan "prematur" 3 poros koalisi yaitu, PDIP, Gerindra , dan "janin koalisi ARB-Pramono Edhie." Dan dengan pendeklarasian  Jokowi-JK ini, PDIP berhasil menggugurkan "janin koalisi ARB-Pramono Edhie", persis seperti maksud dipasangkannya JK dengan Jokowi.


Namun tidak seperti yang diduga, alih-alih merapat ke PDIP,  Golkar justru kemudian  berkoalisi dengan Gerindra membawa serta PBB sebagai "bonus". Dan akhirnya, pertarungan Pilpres putaran pertama ini dimenangkan oleh Gerindra dengan skor  1-0. Selamat buat Gerindra.

Sementara SBY, dengan gugurnya "janin koalisi", kemudiaan mengatakan bahwa, Demokrat tidak akan berpihak pada salah satu capres, alias netral, baik ke Jokowi  mau pun Prabowo. SBY mempersilahkan kalau ada kader-kader Demokrat  yang ingin mendukung salah satu pasangan capres-cawapres tertentu secara pribadi.

Sikap SBY yang mengambil  "Jalan Aman" ini bukanlah cerminan sikap seorang negarawan. Karena seorang negarawan, dengan segala resikonya, apa pun taruhannya, akan memilih "Jalan Bakti" demi negara dan Bangsanya. Apalagi kini, di akhir masa jabatannya sebagai Presiden, SBY  seharusnya dengan arif dan bijaksana bisa memberikan tongkat estafet kepemimpinan negeri ini kepada "sosok" yang bisa membawa  bangsa ini "bermartabat" lahir bathin.

SBY, sebagai pemimpin yang tidak selalu benar, harus memilih "Jalan Penebusan" dengan mendorong pada capres pemilik nama dengan "? huruf" sebagai penerus estafet kepemimpinannya. SBY tidak boleh membiarkan lakon "Petruk Jadi Ratu" terus digelar dan dipertontonkan. Karena lakon "Petruk Jadi Ratu" akan mengganggu keharmonisan  bumi dan langit sehingga akan terjadi banyak huru-hara yang semakin masif.

Kini saatnyalah bagi SBY, untuk menggelar lakon "Bima Suci" sebagai ganti lakon "Petruk Jadi Ratu". Karena dengan digelarnya lakon "Bima Suci" maka, bangsa ini  dipastikan bisa menggali  dan mengenali "Jati Dirinya".

Akankah SBY memenuhi "Takdir Langit" di putaran kedua pilpres 9 Juli nanti sebagai "King Maker"? Wallahu a’lam bish shawabi! [***]

Penulis adalah pengamat spiritual

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

Pergantian Panglima TNI, Kapolri, dan Jaksa Agung Jadi Ujian Kekuatan Prabowo

Senin, 03 Agustus 2026 | 18:10

UPDATE

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

RUU Perampasan Aset Diusulkan Ganti Nama, Berikut Nomenklaturnya

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:07

Purbaya Sudah Cairkan Rp20,5 Triliun ke 490 Pemda buat Gaji PPPK

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:52

Koperasi Jadi Kunci Hilirisasi Sawit dan Penguatan Daya Tawar Petani

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:50

Songs for Sumatera-Human Initiative Pulihkan Fasilitas MIN 4 Aceh Tamiang

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:38

Subsidi Pertalite Bocor, Kelompok Kaya Masih Nikmati Kucuran Negara

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:32

Pengacara Gus Yaqut Bongkar Duduk Persoalan Pembagian Kuota Haji Tambahan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:16

Usai Bertemu Purbaya, Bahlil Bakal Perketat Orang Kaya yang Pakai Pertalite

Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:58

12 Saksi Diperiksa, Sekretaris Kepala BGN Ikut Terseret Kasus MBG

Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:46

Rudy Tanoe Irit Bicara soal Korupsi Penyaluran Bansos Usai Diperiksa KPK 4,5 Jam

Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:42

Selengkapnya