Mantan Ketua MK Mahfud MD dikecam keras karena menerima tawaran memimpin Ketua Tim Nasional Pemenangan Prabowo-Hatta. Salah satu kecaman, bisa-bisanya Mahfud yang seorang negarawan atau bapak bangsa memberi pemihakan dalam pilpres.
"Saya sendiri serba dilematis. Tapi saya segera menyadari bahwa saya tak pernah menyebut diri sebagai negarawan atau bapak bangsa. Terlalu tinggi bagi saya cap sebagai negarawan atau bapak bangsa. Saya tetaplah hanya pelaku politik yang ingin memperjuangkan keyakinan, kebenaran, dan tegaknya hukum berdasar pilihan-pilihan politik saya tetapi dengan prinsip politik yang bersih dan berakhlak," kata Mahfud dalam pidato pengumuman menjadi Ketua Tim Pemenangan Nasional Prabowo-Hatta di kantor MMD Insiatif, Jakarta, sesaat tadi (Kamis, 22/5).
Mahfud tegaskan sampai jam 11 kemarin malam dirinya terus berkonsultasi dengan para kiai, tokoh-tokoh LSM, dan tokoh masyarakat sebelum akhirnya memutuskan bersedia memimpin tim pemenangan Prabowo-Hatta. Sebagai orang yang tak lebih dari sekedar pemain politik sesuai dengan konstitusi, pilihan tersebut diambil Mahfud sebagai bagian dari langkah memperjuangkan tegakknya kebaikan.
Mengutip Imam al-Ghazali, Mahfud katakan, bahwa memperjuangkan nilai kebaikan agama itu takkan efektif kalau tak punya kekuasaan politik. Nilai luhur agama adalah saudara kembar dari perjuangan politik. Inilah juga yang menjadi dasar perlunya politik yang berakhlak luhur.
"Berpolitik bagian dari kewajiban syar’ie karena tanpa politik kita tak bisa merealisasikan nilai kebaikan yang harus diperjuangkan melalui struktur kekuasaan," demikian Mahfud.
[dem]