Pernyataan Din Syamsuddin bahwa Muhammadiyah tidak pada posisi memberikan restu kepada salah satu pasangan capres atau cawapres dinilai sangat tidak bermanfaat. Bahkan pernyataan itu bisa jadi merugikan Muhammadiyah secara kelembagaan. Apalagi di dalam salah satu pernyataannya, Din sepertinya sangat tendensius dengan salah seorang cawapres dari PAN.
"Saya khawatir, sikap tendensius seperti itu membuat masyarakat bisa salah tafsir. Sebab, pernyataan yang sangat personal itu seakan-akan merepresentasikan Muhammadiyah secara keseluruhan. Padahal di bawah, warga Muhammadiyah banyak yang menolak pernyataan itu. Mereka juga tidak paham maksud dan tujuannya," ujar Lesti Kasiati, Ketua Bidang Kader PP IPM.
Berkenaan dengan pencalonan Hatta Rajasa sebagai cawapres, Muhammadiyah diyakini akan mendukungnya. Pasalnya, selama ini Hatta Rajasa adalah sosok politisi birokrat yang paling rajin menghadiri acara-acara formal dan informal Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Din Syamsuddin sendiri mengetahui hal itu dan dipastikan tidak akan menyangkalnya.
Sejauh ini, semua orang tahu bahwa tidak ada persoalan antara Din Syamsuddin dengan Hatta Rajasa. Di banyak tempat, keduanya sering bertemu. Bahkan tidak jarang sama-sama memberikan sambutan dalam suatu acara yang sama.
"Soal ke Muhammadiyah, saya haqqul yakin bahwa Hatta Rajasa adalah ketua umum parpol yang paling banyak mengenal ketua-ketua PWM se-Indonesia. Selama ini, kalau kunjungan ke daerah, Hatta Rajasa tidak akan pernah lupa untuk bersilaturrahim dengan warga Muhammadiyah baik melalui acara formal maupun informal," kata dia lagi.
Din Syamsuddin diminta untuk tidak terlalu banyak memberikan pernyataan politik ke publik. Dengan membuat pernyataan seperti itu, Din Syamsuddin sendiri telah menggiring Muhammadiyah pada pusaran politik praktis. Dan itu bertentangan dengan pendapatnya sendiri yang mengatakan bahwa Muhammadiyah tidak bekerja pada wilayah politik kekuasaan. [dem]