Berita

jusuf kalla

Mengapa Seperti Soeharto JK Tak Mau Regenerasi Kepemimpinan

RABU, 14 MEI 2014 | 18:40 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Salah satu kritik keras terhadap pemimpin Orde Baru Soeharto yang berkuasa selama lebih dari tiga dekade adalah keengganannya melakukan regenerasi kepemimpinan nasional.

Soeharto menolak mengalihkan kekuasaan dan memberikan kesempatan kepada generasi yang lebih muda dan lebih mampu menghadapi tantangan jaman yang berubah.

Anehnya satu dekade setelah Soeharto jatuh, masih ada politisi senior yang ingin mempraktikkan hal itu. Lebih aneh lagi karena politisi senior itu adalah Jusuf Kalla yang selama ini mendapat penilaian baik di kalangan aktivis.


JK sudah malang melintang menjadi tokoh nasional. Ia adalah mantan Ketua Umum Partai Golkar antara tahun 2005 hingga 2010. Sebelumnya ia pernah menjabat sebagai menteri di era pemerintahan Abdurrahman Wahid. Dia juga menjabat sebagai menteri di era pemerintahan Megawati Soekarnoputri sebelum bersama Susilo Bambang Yudhoyono mengundurkan diri untuk ikut dalam pemilihan presiden 2004.

Di tahun 2009 JK berpasangan dengan Wiranto mencoba peruntungan di arena pilpres. Namun mereka kalah dari pasangan SBY-Boediono. JK tidak lantas hilang dari panggung nasional. Ia mendapatkan jabatan sebagai Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), dan belakangan Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI).

"Sekarang dia masih mau menjadi wakil presiden di usia 72 tahun. Lantas apa bedanya ia dengan Soeharto yang rakus kekuasaan dan menolak mengalihkan kepemimpinan nasional kepada generasi yang lebih muda?" ujar Kordinator Petisi 28 Haris Rusli Moti dalam keterangan yang diterima redaksi.

"Mestinya JK meniru Megawati Soekarnoputri yang mau menjadi king maker dengan memberi kesempatan kepada Jokowi," sambungnya.

JK, menurut Haris Rusli Moti harus diingatkan lagi bahwa salah satu kesalahan besar Soeharto adalah menghambat regenerasi kepemimpinan.

Sayang kalau di usia senja, JK akan dikenang sebagai politisi yang kemaruk jabatan, katanya lagi. [dem]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Tak Pelihara Buzzer, Prabowo Layak Terus Didukung

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:14

Stasiun Cirebon Dipadati Penumpang Arus Balik Nataru

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:00

SBY Pertimbangkan Langkah Hukum, Mega Tak Suka Main Belakang

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:34

Pilkada Lewat DPRD Cermin Ketakutan terhadap Suara Rakyat

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:26

Jika Mau Kejaksaan Sangat Gampang Ciduk Silfester

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:01

Pilkada Lewat DPRD Sudah Pasti Ditolak

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:37

Resolusi 2026 Rismon Sianipar: Makzulkan Gibran Wapres Terburuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:13

Kata Golkar Soal Pertemuan Bahlil, Dasco, Zuhas dan Cak Imin

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:10

Penumpang TransJakarta Minta Pelaku Pelecehan Seksual Ditindak Tegas

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:38

Bulgaria Resmi Gunakan Euro, Tinggalkan Lev

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:21

Selengkapnya