Politik seharusnya adalah jalan suci untuk mensejahterakan rakyat. Begitu kata filsuf Yunani Sokrates yang hidup antara 469 hingga 399 Sebelum Masehi, suatu kali.
Mengutip pernyataan Sokrates itu, Sekjen Jaringan Aktivis ProDemokrasi atau ProDem, Firman Tendry, mengingatkan bahwa pemimpin politik haruslah orang-orang baik yang mendedikasikan cita-citanya dalam praksis atau tindakan politik yang benar dan terukur demi kepentingan rakyat banyak dan bukan demi kepentingan pribadi dan kelompok.
"Pemimpin yang baik pun bukan yang sekadar bisa membangun mimpi dan harapan," ujar aktivis 1998 itu dalam perbincangan dengan redaksi Jumat siang (16/5).
Firman Tendry juga mengatakan, politik sebagai jalan baik untuk mensejahterakan rakyat bisa dilalui Joko Widodo dengan mulus bila capres PDIP itu dipasangkan dengan ekonom yang memiliki kemampuan dan kemauan kuat mensejahterakan rakyat.
"Keputusan PDIP untuk memasangkan Jokowi dengan ekonom yang memahami jiwa Trisakti sudah benar dan harus didukung. Menurut hemat saya, Rizal Ramli adalah ekonom yang bisa diandalkan untuk membantu Jokowi melaksanakan amanat rakyat," ujar Firman Tendry lagi.
"Jangan sampai Jokowi didampaingi tokoh bermasalah yang memiliki
vested interest atau kepentingan sempit," sambungnya.
Ia mengingatkan, Rizal Ramli memilik
track record yang baik dan memiliki keberanian untuk membabat habis semua praktik yang menjauhkan rakyat dari kesejahteraan baik ketika ia memimpin Badan Urusan Logistik (Bulog), sebagai Menko Ekuin ataupun sebagai Menteri Keuangan di era Abdurrahman Wahid. Karena rekam jejak itu pula hingga kini Rizal Ramli dipercaya sebagai salah seorang anggota Panel Ahli PBB.
"Rekam jejak Rizal Ramli itu masih dapat ditelusuri. Selama masa itu ia membuat banyak terobosan yang tidak terbayangkan oleh pemerintahan sebelumnya. Saya sarankan kawan-kawan PDIP untuk sama-sama mencermati rekam jejak Rizal Ramli," masih kata dia.
Pada bagian lain, dia juga mengatakan bahwa duet Jokowi-Rizal Ramli adalah reprsentasi duet tokoh sipil yang kuat.
"Demokrasi adalah tegaknya supremasi sipil. Dan kalau kita perhatikan di Asia ini hampir tidak ada lagi militer yang berpolitik, baik sebagai presiden maupun wakil presiden," demikian Firman Tendry.
[dem]