Berita

Hasyim Muzadi

Wawancara

WAWANCARA

Hasyim Muzadi: Koalisi Parpol Islam Sulit Diwujudkan Karena Terlalu Banyak Kepentingan

SENIN, 05 MEI 2014 | 07:07 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Koalisi parpol Islam sulit direalisasikan. Sebab,  terlalu banyak kepentingan dan rendahnya moral politik sejumlah elite parpol tersebut.

“Idealnya, parpol Islam bersatu untuk mengusung pasangan capres-cawapres pada pilpres. Tapi itu sulit diwujudkana karena  terlalu banyak kepentingan,” ujar tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Hasyim Muzadi kepada Rakyat Merdeka, Jumat (2/5).

Menurut bekas Ketua Umum Pengurus Besar NU itu, kalau parpol Islam tidak bisa disatukan, diharapkan para elite parpol Islam yang terpilih menjadi wakil rakyat dan  jabatan pemerintahan nanti hendaknya menjaga amanah dan bekerja untuk rakyat.


“Diharapkan elite parpol yang mengemban amanah rakyat hendaknya menjaga perilakunya,’’ paparnya.

Berikut kutipan selengkapnya:

Kapan Anda komunikasi terakhir dengan tokoh-tokoh parpol Islam itu?
Saya sering ketemu, sudah capek, sudah kesal. Sekarang, posisi kami hanya mengimbau. Saya mengingatkan, agama Islam membela nasionalisme. Jangan menjual aset negara, jangan membuat undang-undang yang membuat orang asing menjadi raja di negeri kita.

 Kenapa Anda merasa koalisi itu sulit direalisasikan?
Saya melihat ada beberapa faktor utama. Pertama, sejumlah elit parpol Islam nyali politiknya kurang. Kedua, mereka terkendalam masalah pendanaan.

Kemudian, persoalan pragmatisme. Sebab, dalam politik kita tak hanya bicara soal pendapat. Tapi bicara juga soal pendapatan. Ini poin-poin krusial yang saya amati.

Elite parpol Islam beralasan, koalisi sulit diwujudkan karena tidak ada figur yang dapat menandingi capres yang sudah ada?

Tidak ada figur kalau calon yang diusung diambil dari partai masing-masing. Tapi diambil dari luar partai kan bisa. Banyak tokoh Islam yang pantas jadi presiden. Kita tidak kekurangan figur.

 Menurut Anda siapa yang pantas diusung jika koalisi itu bisa diwujudkan?

Banyak. Ada Mahfud MD, Jusuf Kalla, Jimly Ashhidiqie, Yusril Ihza Mahendra.

 Mereka semua pantas diusung sebagai capres. Seperti yang saya katakan, capres dan cawapresnya tidak harus diambil dari partai pengusung. Yang penting, mereka punya nyali untuk mengusung. Saya ingin mempersatukan, sudah melangkah. Tapi, kalau yang dipikir cuma soal pendapatan, ya susah.

 Bukankah mengusung pasangan capres dan cawapres itu memang butuh biaya?
Kalau ada keberanian politik, masalah dana bisa diperkecil. Dengan dukungan umat, itu tidak perlu dipersoalkan.

Bagaimana jika koalisi itu dituding tidak nasionalis?
Sekarang bukan zamannya mendekotomikan simbol parpol Islam dan parpol nasionalis. Tokoh parpol Islam juga berpikiran nasionalis. Begitu pula sebaliknya. Kalau ada koalisi parpol Islam, kemudian dianggap nggak nasionalis, nggak benar itu.

Nantinya dalam koalisi menteri juga pasti ada pembagian. Selama ini, hal itu sudah dilakukan. Kita nggak boleh berpikir mundur.

Bagaimana langkah ormas Islam?
Secara institusi NU, Muhammadiyah maupun ormas Islam lain tidak bisa mengambil keputusan politik. Tapi, warga NU dan Muhammadyah bisa dikerahkan sebagai pemilih.Kalau partai Islam mau koalisi, koordinasi di bawah lebih mudah. Makanya, saya menyatakan tidak perlu khawatir soal pendanaan. Sayangnya, mereka sulit disatukan. ***

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya