Berita

Hayono Isman

Wawancara

WAWANCARA

Hayono Isman: Jika Mengusung Cawapres, Peluang Menang Demokrat Justru Lebih Besar

SENIN, 05 MEI 2014 | 09:50 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Bila dinilai elektabilitasnya tidak dapat menandingi Jokowi, Prabowo Subianto, dan Aburizal Bakrie, tentu Demokrat tidak mengusung capres.

 Partai yang dikomandoi SBY itu hanya berupaya mengusulkan cawapres. Bila langkah itu yang diambil, maka tokohnya bisa dari luar peserta konvensi.

Demikian disampaikan peserta konvensi capres Partai Demokrat Hayono Isman kepada Rakyat Merdeka, kemarin.


“Mengajukan capres harus seusai realita yang ada. Kalau  elektabilitasnya tidak mencapai angka baik, kami tak akan mengusung capres. Buat apa, tidak ada gunanya,” ujarnya.

Menurut politisi Partai Demokrat itu, pihaknya masih menunggu hasil pileg dan hasil konvensi untuk melakukan penjajakan pembentuk poros baru.

“Saat ini survei elektabilitas Jokowi turun. Elektabilitas Prabowo dan Aburizal Bakri tidak naik. Masih ada kemungkinan membentuk poros keempat. Terlebih, kepercayaan publik terhadap SBY masih sanggat tinggi,” papar bekas Menpora itu.

Berikut kutipan selengkapnya:
 
Melihat situasi yang berkembang, apa pembentukan poros baru bisa direalisasikan?
Pembentukan poros baru bergantung pada hasil survei elektabilitas  konvensi capres Partai Demokrat. Hasil itu akan menjadi pedoman Majelis Tinggi  untuk menentukan pengajuan capres, membentuk poros baru atau tidak.

Peran SBY bagaimana?
Saat ini, survei kepercayaan publik terhadap Presiden SBY masih tinggi, di atas 60 persen. Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap capres yang akan diusung Demokrat. Jika ada capres yang memiliki elektabilitas tinggi, pembentukan poros baru bisa direalisasikan.

 Saya yakin, jika elektabilitas capres Demokrat dikawinkan dengan tingginya kepercayaan publik terhadap SBY, calon yang diusung oleh poros bentukan Demokrat bisa masuk putaran kedua. Setelah putaran kedua, kemungkinan menang akan lebih besar.

 Jika tidak mengajukan capres, pemenang konvensi akan didorong sebagai cawapres?
Pemenang konvensi adalah capres. Kami tidak melakukan konvensi untuk mengusung cawapres. Soal cawapres, keputusannya ada di Majelis Tinggi Partai Demokrat. Kalau Demokrat memutuskan mengusung cawapres, calonnya bisa dari luar peserta konvensi.

 Dari 3 poros yang ada, cawapres Demokrat akan dikawinkan kemana?
Untuk mengusung capres, Demokrat tak memiliki kendala. Kami bisa membangun koalisi dengan PAN, PKB, PPP dan sejumlah partai lain. Kalau mengusung cawapres, peluangnya jauh lebih besar. Kami bisa bergabung dengan Golkar, Gerindra maupun PDI Perjuangan.
 
Apa syarat yang diajukan jika Demokrat mengusung cawapres?

Dalam menawarkan cawapres, Demokrat mensyaratkan dua poin besar. Pertama, soal demokrasi. Demokrat tidak akan mendukung capres yang berpotensi membawa kemunduran demokrasi. Kedua, Demokrat tidak akan mendukung capres yang berpotensi merusak pembangunan ekonomi yang sudah diraih Presiden SBY.

 Kalau tidak ada capres yang mau menerima syarat itu, apakah Demokrat siap menjadi oposisi?
Ya. Kalau tidak ada capres yang sepakat dengan dua poin itu, lebih baik kami mendukung dari luar pemerintahan. Bahasa umumnya oposisi atau penyeimbang di parlemen.
 
Bisakah Demokrat merealisasikan itu?
Sebagai partai, kami harus siap berada di luar pemerintahan. Kalau tidak sejalan dengan program presiden kan repot. Kami tidak akan merasa nyaman, karena tidak ada kesepahaman dalam memandang demokrasi dan ekonomi Indonesia di masa depan. ***

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya