Berita

Rangkul Khofifah, Jokowi Rekonsiliasi dengan Gusdurian

MINGGU, 04 MEI 2014 | 14:17 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Keputusan Capres dari PDI Perjuangan Joko Widodo menggandeng Ketua PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa menjadi jurubicara timnya pada pemilihan presiden mendatang dinilai sebagai langkah politik cerdas.

Peneliti Lingkar Studi Perjuangan (LSP) Gede Sandra menilai penunjukan Khofifah melunturkan anggapan bahwa Jokowi sebagai boneka dan kurang kesadaran sehingga bisa diatur-atur oleh orang lain atau bahkan dikendalikan media.

"Manuver Jokowi yang menurut hemat saya brilian ini dapat dipandang sebagai rekonsilisasi besar dengan massa Gusdurian seluruh Indonesia, baik yang ada di tubuh NU maupun di luar NU. Khofifah merupakan salah satu menteri kesayangan Gus Dur," kata Gede kepada redaksi (Minggu, 4/5).


Mengapa disebut rekonsiliasi? Gede menjelaskan Megawati Soekarnoputri pernah "berkhianat" terhadap Gus Dur pada tahun 2001, saat dirinya dan PDI Perjuangan menjadi kekuatan aktif bersama sisa-sisa kelompok Orde Baru dan kekuatan konservatif lainnya melengserkan Gus Dur dari RI 1. Padahal, apa yang dilakukan Pemerintahan Gus Dur yang progresif hanya dalam 1,5 tahun sudah cukup dekat dengan apa yang terjadi saat zaman Bung Karno, seperti kembali dilegalkannya budaya dan agama etnis Tionghoa setelah puluhan tahun dikekang Orde Baru dan digugatnya perusahaan tambang asing simbol Orde Baru, Freeport, sebagai alasan untuk dilakukan renegosiasi kontrak kerjasama oleh Gus Dur.

"Pemerintahan Gus Dur tidak kalah progresif dengan Pemerintahan Bung Karno. Karenanya Pemerintahan Jokowi nanti juga tidak boleh kurang progresif dibanding Gus Dur dan Bung Karno," tutur Gede.

Untuk itu Gede mengingatkan baiknya Jokowi menggali segala pemikiran Bung Karno dengan lebih dalam, terutama tentang sosialisme Indonesia yang menegaskan suatu tatanan masyarakat adil dan makmur tanpa penindasan dan tanpa penghisapan satu orang atas orang lain.

"Memang secara kelas sosial Jokowi mewakili golongan pengusaha, namun sebagai calon Presiden dari Partai Sukarnois, ideologi Pancasila 1 Juni 1945 tidak boleh luntur dari kesadarannya," tutup Gede.[dem]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Istri Wali Kota Madiun Dicecar KPK soal Dugaan Aset Hasil Korupsi

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:22

Giant Sea Wall Pantura Dirancang Lindungi Jutaan Warga dan Jadi Mesin Ekonomi Baru

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:17

Pengamat: Pencoretan Saham Unggulan RI dari MSCI Jadi Tekanan Psikologis Pasar

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:14

Harga Minyak Dunia Terus Merangkak Naik

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:05

Dana PIP 2026 Belum Cair? Begini Cara Mudah Cek Status Pakai NIK dan NISN

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:04

IHSG Ambles 1,59 Persen, Asing Catat Net Sell Rp49,28 Triliun Usai Pengumuman MSCI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:47

Komisi VIII DPR: Predator Seksual di Ponpes Pati harus Dihukum Seberat-beratnya!

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:43

Singapura Ingin Hidupkan Sijori Lagi Bersama RI dan Malaysia

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:35

Anak Buah Zulhas Dicecar KPK soal Pengaturan Proyek dan Fee Bupati Rejang Lebong

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:33

MUI GPT Bisa Jadi Terobosan Pelayanan Umat Berbasis AI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:32

Selengkapnya