Berita

Politik

Publik Ingin Jokowi Didampingi Jenderal RR, Bukan JK!

RABU, 30 APRIL 2014 | 22:01 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

PDI Perjuangan telah memiliki Joko Widodo (Jokowi) sebagai bakal capres yang akan diusung pada pemilihan presiden 9 Juli mendatang. Namun, hingga kini, partai banteng belum menetapkan siapa yang akan menjadi pendamping Jokowi menjadi cawapres.

Belakangan marak diberitakan dua nama bakal cawapres yang disebut layak mendampingi Jokowi nanti adalah politisi senior Partai Golkar Jusuf Kalla dan mantan Kasad TNI Ryamizard Ryacudu.

Lembaga survei Indonesia Survey Center (ISC) baru-baru ini menggelar jajak pendapat dengan mengangkat tema cawapres yang paling diinginkan publik untuk mendampingi Jokowi.


Direktur Eksekutif ISC Andry Kurniawan menjelaskan, hasil penelitiannya menyebut bahwa perpaduan capres berlatarbelakang sipil-Jawa/militer dengan cawapres dari kalangan militer/luar Jawa atau sebaliknya masih menjadi primadona masyarakat dalam melihat calon pemimpin.

"Ini menandakan bahwa dikotomi sipil-militer masih tertanam kuat di benak pemilih," katanya melalui siaran pers kepada wartawan di Jakarta, Rabu (30/4).

Andry membeberkan, mayoritas publik menilai bahwa  sosok dari kalangan militer paling cocok mendampingi Jokowi dengan dukungan sebanyak 47,3 persen, disusul dari kalangan birokrat sebesar 23,7 persen,  pengusaha 18,2 persen, politisi dari eksternal PDIP 15,1 persen, serta politisi dari internal PDIP 9,3 persen.

"Hal ini mengindikasikan bahwa dwitunggal sipil-militer dianggap akan bisa meningkatkan elektabilitas bagi pasangan tersebut," jelasnya.

Selain itu, sebanyak 30,3 persen publik mengharapkan pemimpin mendatang harus bisa menyelesaikan isu dan tantangan dalam bidang keamanan, sebanyak 59,6 persen mengharapkan pemberantasan korupsi, dan 27,4 persen menginginkan adanya pengentasan kemiskinan.

"Tokoh militer sebagai cawapres Jokowi dianggap publik sangat diperlukan untuk menghadapi segala kemungkinan terjadinya kekacauan pasca pemilu," kata Andry.

Yang menarik, lanjutnya, publik melihat bahwa sosok militer untuk mendampingi Jokowi justru sebagai antisipasi menghadapi Prabowo Subianto. Bakal capres Partai Gerindra yang merupakan mantan Danjen Kopassus TNI-AD itu dianggap sebagai kompetitor paling potensial.

"Masyarakat melihat bahwa kontestasi Jokowi versus Prabowo  dalam Pilpres akan berlangsung sengit, karena keduanya memiliki popularitas dan elektabilitas yang setara. Dengan kata lain, pasangan cawapres Prabowo yang sudah pasti berasal dari kalangan sipil akan bisa mengalahkan Jokowi, kecuali jika cawapresnya Jokowi dari militer," demikian Andry.

Hasil penelitian ISC menempatkan nama Ryamizard Ryacudu sebagai sosok dari kalangan militer yang tepat mendampingi Jokowi dengan dukungan sebanyak 21,5 persen, disusul Jusuf Kalla dengan 19,1 persen, Mahfud MD 14,3 persen, Basuki T. Purnama 12,9 persen, Puan Maharani 10,6 persen, dan Agus Martowardojo 8,4 persen. Sementara responden yang tidak menjawab atau tidak tahu sebesar 13,2 persen.

Survei ISC dilaksanakan tanggal 12 sampai 18 April lalu di 33 provinsi terhadap 1.070 responden. Populasi sampel adalah calon pemilih dalam Pemilu 2014 yang diperoleh melalui teknik pencuplikan secara rambang berjenjang atau multistage random sampling dengan margin of error plus minus 3 persen, dan pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan pedoman kuesioner. Uji kualitas dilakukan melalui telephone-check dan spot-check sebesar 20 persen dari total sampel. Survei ISC didanai secara mandiri, dan bukan hasil resmi dari Komisi Pemilihan Umum.[dem]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Belajar dari Hanson, Sritex dan Duta Palma: Korporasi Terseret Korupsi Tak Harus Ikut Mati

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:05

Tiba-tiba Ramai Bicara Adab

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00

Manuver Sony Sonjaya Pengaruhi Opini Publik

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:38

Satpam Didorong Jadi Garda Terdepan Pelayanan dan Keamanan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32

Inggris Kalahkan Kroasia Lewat Drama Enam Gol

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:21

Pesan Khusus Kiai Suyuti Toha untuk Bangsa dan Negara

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:07

1945-1950: Kota Pengungsi, Kota Ketakutan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:02

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:14

Kelompok Oposisi Cari Celah Bangun Narasi Pemerintah Tidak Kompeten

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:02

Selengkapnya