Berita

net

Politik

Jokowi Pejabat Takabur

JUMAT, 18 APRIL 2014 | 22:32 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Pernyataan Joko Widodo yang mengaku akan membangun koalisi untuk menegakan sistem presidensil menunjukan capres dari PDI Perjuangan itu tidak mengerti masalah.

"Ini bukan pernyataan seorang idealis, tapi pernyatan seorang pejabat yang takabur dan "menggampangkan masalah". Jokowi berpolitik tak injak bumi," kata aktivis Petisi 28 Haris Rusly Moti dalam pesan elektroniknya (Jumat, 18/4).

Sebelumnya, Jokowi menegaskan akan membangun koalisi untuk menegakan sistem presidensil. Jokowi bahkan mengatakan kerjasama dengan parpol lain tak boleh dengan landasan bagi-bagi kursi wapres dan menteri.


"Bukan mustahil kok kalau tidak bagi-bagi kursi. Kita pernah punya pengalaman di Solo, terus di Jakarta ini juga nggak ada istilah bagi-bagi kursi," kata Jokowi dalam satu kesempatan.

Haris mengingatkan Jokowi 'membuka mata' bahwa sistem kita saat ini telah bergeser dari Presidensil menjadi Parlemensil. Hampir semua kebijakan strategis dibuat atau diputuskan harus melalui parlemen. Bahkan memilih Panglima TNI, Kapolri dan Dubes pun harus sepersetujuan parlemen.

"Presidensil itu sebuah sistem, ditegakan hanya bisa pakai sistem UUD 1945 (asli), bukan pakai blusukan dan jampi-jampi perdukunan. Jas Merah: pemerintah Soekarno lumpuh oleh parlemen. Gus Dur jatuh juga oleh parlemen".

Haris pun menyampaikan keraguannya terhadap Jokowi. Apalagi katanya, bukankah tak ada satupun omongan Jokowi yang selama ini terbukti terwujud. Mulai dari menggampangkan masalah di DKI, soal kemenangan Rieke di Jabar, hingga katanya PDIP akan menang tebal di Pileg 2014.

"Dan kini, Jokowi tampil mengampangkan masalah bangsa, menyamakannya dengan masalah kebersihan selokan di kota kecil di Solo?" demikian Haris.[dem]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Belajar dari Hanson, Sritex dan Duta Palma: Korporasi Terseret Korupsi Tak Harus Ikut Mati

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:05

Tiba-tiba Ramai Bicara Adab

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00

Manuver Sony Sonjaya Pengaruhi Opini Publik

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:38

Satpam Didorong Jadi Garda Terdepan Pelayanan dan Keamanan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32

Inggris Kalahkan Kroasia Lewat Drama Enam Gol

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:21

Pesan Khusus Kiai Suyuti Toha untuk Bangsa dan Negara

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:07

1945-1950: Kota Pengungsi, Kota Ketakutan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:02

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:14

Kelompok Oposisi Cari Celah Bangun Narasi Pemerintah Tidak Kompeten

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:02

Selengkapnya