Berita

Mahfud MD

Wawancara

Mahfud MD: PKB Akan Lebih Bermartabat Bila Mengajukan Calon Presiden

RABU, 16 APRIL 2014 | 09:07 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dalam posisi sulit saat ini. Satu sisi ada desakan agar memimpin koalisi dari parpol Islam. Tapi ada juga desakan agar berkoalisi dengan parpol yang masuk tiga besar.

”Realitas politik saat ini, PKB dihadapkan pada pilihan sulit. Ini tidak mudah. Tapi DPP pasti me­ngolah itu berdasarkan pertim­bang­an obyektif,’’ kata bakal ca­pres dari PKB, Mahfud MD ke­pada Rakyat Merdeka, kemarin.

Menurut bekas Ketua Mah­ka­mah Konstitusi (MK) itu, opsi PKB ada empat. Pertama, ber­koalisi dengan PDI Perjuangan. Kedua, berkoalisi dengan Partai Golkar. Ketiga, berkoalisi dengan Par­tai Gerindra. Keempat, PKB bisa mengambil opsi mem­pra­karsai membentuk poros baru.
 

 
”Keputusannya ada di DPP PKB. Kita tunggu saja, opsi mana yang diambil,”  ujarnya.

Berikut kutipan selengkapnya:


Opsi mana yang paling ideal?
Kalau menurut saya, PKB akan lebih bermartabat bila meng­aju­kan calon presiden. Tapi sekali lagi, keputusan soal itu ada di DPP PKB. Saya yakin, DPP se­dang ber­pikir keras untuk mene­tap­kan pilihan itu. Nanti, ke­pu­tusannya di­­ambil dalam forum Mu­kernas (Musyawarah Kerja Na­sional).  

Kapan keputusan itu harus diambil?
Saat ini, semua partai berlomba dengan waktu. Siapa berkoalisi de­ngan partai apa, akan meng­kris­tal dalam satu minggu ke de­pan. Saya yakin, PKB tidak akan ke­hilangan momentum dan tidak sia-siakan peluang emas yang ada.

PKB punya tiga bakal calon presiden, ini bakal menim­bul­kan pergolakan, bagaimana An­da menyikapi itu?
Pasti ada perbedaan. Jadi, biar­kan  saja. Yang penting, PKB ja­ng­­an sampai kehilangan mo­men­tum. PKB harus mengambil posisi setinggi-tingginya, se­hing­ga lebih mudah menentukan po­sisi. Saya percaya, PKB bisa ra­sio­nal.

Bagaimana jika Anda ter­buang?
Tidak apa-apa. Asalkan ada mekanismenya yang jelas. Dari awal saya selalu tekankan, siapa pun berhak menjadi capres atau cawapres dari PKB. Partai bisa me­lakukan penilaian bersama ten­tang siapa saja yang mem­pu­nyai peluang paling terbuka un­tuk diajukan.

Yang terpenting untuk saya, saat ini martabat PKB sudah kem­bali. PKB tidak boleh dibeli orang yang ingin menjadi pre­siden atau wapres. Kita tidak ingin PKB dirusak.

Sudah ada parpol lain men­de­kati Anda?

Sudah banyak sekali yang men­dekati saya. Semua partai su­dah melakukan komunikasi.  Lalu saya arahkan untuk ber­hu­bung­an dengan DPP PKB. Ka­re­na yang menentukan langkah partai selanjutnya di DPP.

Apa saja dibicarakan dalam komunikasi tersebut?

Kami bicarakan kemungkinan koalisi. Ada yang menawarkan PKB yang memimpin koalisi. Ada juga yang mengajak PKB untuk bergabung dalam koalisi. Macam-macam bentuknya. Tapi ha­silnya harus menunggu kepu­tus­an dari internal PKB.

Dalam berkoalisi, apa syarat yang akan diajukan PKB?
Apa yang dikoalisikan serta ko­de etiknya harus jelas sejak awal. Jika ada perbedaan, bagai­ma­na menyelesaikannya. Kalau membelot apa sanksi dan resiko politiknya. Semua harus disusun dari sekarang. Poin-poinnya ha­rus detail.

Dalam koalisi sebelumnya, saya menilai PKB sudah me­main­kan peran  dengan baik. Se­bagai anggota koalisi, PKB tidak pernah melawan kebijakan pe­me­gang kekuasaan. Itu etiknya. Se­ka­rang peroalan itu harus dite­gaskan di depan.

Kalau PKB berkoalisi de­ngan PDIP dan Partai Nasdem, apa bisa mengamankan kebi­jak­an pemerintah jika diper­caya rakyat?
Menurut saya, koalisi mayo­ri­tas sederhana juga cukup. Posisi itu cukup kuat, kalau mitra koa­lisinya solid. Dengan koalisi di atas 1/3 kursi parlemen, pe­me­rin­tah tidak bisa dijatuhkan. Sebab, syarat untuk menjatuhkan pre­si­den diperlukan syarat 2/3 suara parlemen.

O ya, perolehan PKB melejit dalam pileg lalu, apa tang­gap­an Anda?
Alhamdulillah hasilnya bagus. Ini kerja semua pihak. Semua lini di  PKB sangat kompak untuk menyatukan kembali tulang-tu­lang yang berserakan akibat per­pecahan yang pernah terjadi.

Saya hampir tidak pernah ber­henti mendatangi masyarakat yang menjadi lumbung suara NU. Saya yakinkan kepada mereka bah­wa rumah politik warga NU yang resmi dan harus dibangun adalah PKB.

Peran Anda besar dong?
Tidak hanya peran dari saya. Tapi ada tokoh-tokoh yang ber­sama-sama menggerakkan PKB. Di antaranya, Ketua Umum PKB yang jeli memainkan peranan pen­tingnya sebagai pimpinan partai. Selain itu ada nama-nama besar seperti Said Aqil Siradj, Jusuf Kalla, Rhoma Irama dan Rusdi Kirana yang benar-benar be­kerja keras.

Tapi tidak perlu di­hitung secara kuantitatif tentang siapa yang paling berperan. Po­kok­nya suara PKB naik, kita sa­ngat ber­syukur. ***

Populer

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Golkar Berduka, Putri Akbar Tandjung Wafat

Rabu, 11 Maret 2026 | 15:27

Mengenal Bupati Rejang Lebong M Fikri yang Baru Terjaring OTT

Selasa, 10 Maret 2026 | 06:15

Rismon Ajukan RJ Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Dokter Tifa: Perjuangan Memang Berat

Kamis, 12 Maret 2026 | 03:14

UPDATE

KKB dan Ancaman Nyata terhadap Kemanusiaan di Papua

Jumat, 20 Maret 2026 | 05:59

Telkom Turunkan 20 Ribu Personel Amankan Layanan Telekomunikasi

Jumat, 20 Maret 2026 | 05:40

Salat Id Sambil Menikmati Keindahan Gunung Sumbing dan Sindoro

Jumat, 20 Maret 2026 | 05:19

PKS Minta DPR dan Pemerintah Rombak APBN 2026

Jumat, 20 Maret 2026 | 04:55

Ketika Gerakan Rakyat Kehilangan Akar

Jumat, 20 Maret 2026 | 04:35

BGN Perketat Pengawasan Sisa Pangan dan Limbah MBG

Jumat, 20 Maret 2026 | 04:15

Tokoh Perempuan Dorong Polri Telusuri Dugaan Aliran Dana Asing

Jumat, 20 Maret 2026 | 03:59

Arsitek Penyelesaian Kasus HAM Masa Lalu di Timor Leste

Jumat, 20 Maret 2026 | 03:33

Pertemuan Prabowo-Megawati Panggilan Persatuan di Tengah Kemelut Global

Jumat, 20 Maret 2026 | 03:13

Pengamanan Selat Bali

Jumat, 20 Maret 2026 | 02:59

Selengkapnya