Berita

Fadel Muhammad

Wawancara

WAWANCARA

Fadel Muhammad: Kami Ingin Cawapres ARB Berasal Dari Nasionalis...

SELASA, 15 APRIL 2014 | 09:49 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Partai Golkar tidak akan melakukan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) atau Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) untuk menyikapi hasil Pileg 2014.

“Kami belum berencana melakukan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas),  apalagi  Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub). Kami sedang menyusun strategi sesuai skenario yang sudah kami miliki,” kata Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Fadel Muhammad kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Seperti diketahui, beberapa kalangan internal Partai Golkar menginginkan Rapimnas atau Munaslub terkait hasil Pileg 2014 yang tidak mencapai target 30 persen suara. Bahkan ada yang menyatakan, pencapresan Aburizal Bakrie (ARB) perlu dievaluasi karena tiket untuk capres  tidak terpenuhi.


Fadel Muhammad mengatakan, dia  sudah berbicara dengan sejumlah elite Partai Golkar lainnya, termasuk ARB bahwa tidak ada evaluasi pencapresan ARB.

“Partai harus solid dan kuat. Untuk itu skenario harus satu, yakni sesuai hasil Rapimnas Golkar mencapreskan ARB,” ujarnya.

Berikut kutipan selengkapnya:

Partai Gokar tetap akan mencapreskan ARB?
Ya. Saya sudah baca di media massa bahwa ada orang Golkar yang mengusulkan beberapa skenario. Menurut saya, Partai Golkar tetap mengusung satu skenario yang sudah ditetapkan di Rapimnas, yakni Pak ARB  sebagai capres.

Saya sudah bicara dengan Pak ARB bahwa beliau tetap menjalankan hasil Rapimnas itu. Keputusan Rapimnas itu harus konsekuen dijalankan. Sebab, itu bukan skenario dadakan.

Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung dan beberapa kalangan di DPP Partai Golkar mewacanakan evaluasi pencapresan ARB,  apa pendapat Anda?
Mungkin Partai Golkar akan melakukan pertemuan pimpinan untuk membuat kami lebih solid.

Kapan?
Mungkin minggu depan. Itu dilakukan agar kita solid. Saya melihat ada orang yang harapkan durian jatuh. Artinya kalau Pak ARB tidak jadi capres, orang itu yang jadi. Kalau saya sih baiknya kita konsisten saja mengatur strategi pemenangan Pak ARB.

Lagi pula kita dapat suara yang cukup lumayan. Maka kita harus solid dan konsisten dengan keputusan yang sudah dibuat. Terjadi gonjang-ganjing seperti ini kan karena kita sendiri tidak solid di dalam.
 
Berkali-kali sudah ditegaskan bahwa Golkar hanya memiliki satu skenario. Kalau munculnya skenario lainnya justru tidak akan baik.

Saya berharap kader menjadi solid, karena bisa saja partai lain mencoba memecahkan soliditas Partai Golkar dengan munculnya skenario selain mencalonkan ARB sebagai capres.

Suara Partai Golkar tidak mencapai target, ini bagaimana?
Semua partai kan saat ini memang belum mendapatkan tiket pasti. Sebab, tidak ada yang mutlak mendapatkan 20 persen suara, sehingga harus berkoalisi.

Berkoalisi dengan parpol mana?
Kami berencana mau membuat strategi koalisi nasionalis plus parpol Islam.

Artinya, Golkar ingin berkoalisi dengan parpol nasionalis seperti PDI Perjuangan, Partai Demokrat dan ditambah parpol Islam seperti PPP, PKB dan PKS.

PAN tidak masuk daftar?
Tidak, mereka tidak masuk karena PAN sudah punya skenario lain.

Sejauh mana komunikasi dengan parpol tersebut?
Tentunya kami sudah melakukan komunikasi.  Proses ini akan terus berlangsung sampai  28 April 2014. Di situ nanti kami matangkan strategi koalisi nasionalis plus Islam itu.

Apa cawapres ARB itu dari parpol Islam?
Golkar inginkan cawapres Pak ARB dari nasionalis. Tokoh dari parpol Islam kami tawarkan untuk ikut dalam kabinet.

Apa ada syarat mencari cawapres?
 Kalau bisa dapat cawapresnya dari Jawa.  

Kenapa?
Itu untuk memperkuat suara Golkar di Jawa, karana kami akui suara di Jawa cukup lemah sekali. Padahal jumlah pemilih di Jawa cukup besar, maka kita harus majukan cawapres dari kalangan orang Jawa yang bisa diterima.

Kenapa Golkar tidak bisa mencapai target 30 persen?

Waktu itu Golkar mengestimasikan mampu meraih suara di Jawa Barat dan Jawa Timur. Ternyata keduanya anjlok. Di Jawa Tengah hanya dapat 13 persen, pas-pasan saja.

Kalau di Jawa Barat kan waktu itu ditargetkan dapat 26 persen, ternyata dapat di bawah 20 persen. Begitu juga di Jawa Timur kami targetkan dapat 15 persen, ternyata 6-7 persen.

Bagaimana dengan perolehan di Indonesia bagian timur?
Di kawasan Indonesia timur, seperti Sulawesi, Maluku sampai Papua dan sebagian di Kalimantan, suara Golkar tetap besar dan mendominasi. ***

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Koperasi Harus Saling Berkolaborasi Perbesar Dampak Ekonomi

Jumat, 10 April 2026 | 22:20

Presiden Harus Ganti Gus Ipul Demi Sukses Muktamar NU

Jumat, 10 April 2026 | 22:14

Demonstran: MK Harus Jaga Marwah dan Jangan Takut Tekanan

Jumat, 10 April 2026 | 22:06

Pimpinan Baru Ombudsman RI Bertekad Kawal Asta Cita dan Perkuat Pengawasan Publik

Jumat, 10 April 2026 | 22:02

Teddy Bantah Isu RI Kaos, BBM Subsidi Tak Naik Jadi Bukti

Jumat, 10 April 2026 | 21:43

Breaking News: KPK OTT Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo

Jumat, 10 April 2026 | 21:38

Reshuffle Menteri Prabowo Jangan Tebang Pilih

Jumat, 10 April 2026 | 21:16

Dihantam Gelombang Mundur, PKN: Mati Satu Tumbuh Seribu

Jumat, 10 April 2026 | 21:02

Perlu Peraturan Pemerintah Baru Demi Lindungi 64 Juta UMKM di Era Digital

Jumat, 10 April 2026 | 20:48

TNI Digeber Lewat Bimtek Ketahanan Pangan

Jumat, 10 April 2026 | 20:44

Selengkapnya