Berita

Julian Aldrin Pasha

Wawancara

WAWANCARA

Julian Aldrin Pasha: SBY Yakin Siapa Pun Presiden Yang Terpilih, Indonesia Bakal Lebih Baik

JUMAT, 04 APRIL 2014 | 10:26 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Meski sibuk menjalankan tugas kenegaraan dan berkampanye, Presiden SBY masih tetap memantau perkembangan elektabilitas para capres.  

“Dalam diskusi internal kami, Pak SBY ikut memantau apa yang menjadi perhatian masyarakat, termasuk elektabilitas para capres,’’ kata Juru Bicara Presiden, Julian Aldrin Pasha, kepada Rakyat Merdeka, Rabu (2/4).

SBY, lanjut Julian, berharap siapa pun yang menjadi presiden hasil Pilpres 2014 hendaknya bisa melanjutkan program sosial yang berguna bagi masyarakat.


Berikut kutipan selengkapnya;
 
Apa strategi SBY agar pemimpin selanjutnya memiliki kesamaan visi?

Sebagai Presiden selama 10 tahun tentu ada yang dicapai. Beliau pun berharap, ingin kondisi yang sudah baik tetap terjaga dan berjalan.

Itu bukan kepentingan pribadi Pak SBY, tapi kepentingan bangsa dan negara. Program-program sosial untuk rakyat agar diteruskan.

Siapa pun presiden mendatang, Pak SBY pasti mendukung. Beliau akan membantu bila pandangannya atau sarannya diperlukan.

Bagaimana kalau Presiden mendatang memiliki perbedaan cara pandang?
Pak SBY selalu berpikir positif. Beliau selalu melihat masa depan bangsa kita akan lebih baik. Saya kira Pak SBY percaya, siapa pun pemimpin kita selanjutnya, dia akan membawa Indonesia menjadi lebih baik.

Dalam posisi sebagai bekas presiden, Pak SBY akan menempatkan diri sebagai warga negra biasa. Namun beliau selalu siap untuk bekerja sama atau membantu pemimpin selanjutnya jika diminta.

Dalam musim kampanye ini, Presiden begitu sibuk, apa tidak terganggu kesehatannya?
Masa kampanye terbuka membuat Presiden SBY bekerja ekstra. Selain menyelesaikan tugas-tugas negara, Pak SBY melakukan serangkaian tugas sebagai ketua umum Partai Demokrat untuk berkambanye di berbagai daerah. Namun, situasi tersebut tak membebani kondisi fisik dan psikis presiden.

Kalau dari luar, orang melihat atau membayangkan Pak SBY sangat capek dan lelah. Tapi, saya pastikan, kondisi Presiden dalam keadaan baik. Beliau sudah terbiasa untuk berada dalam situasi berpikir dan bekerja berat.

Situasi begitu sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Sepengetahuan saya, waktu istirahat Pak SBY kurang dari 6 jam per hari. Beliau juga terbiasa bekerja di hari libur. Jadi, situasi kampanye tak menggangu dan mempengaruhi kesehatan beliau.

Bukannya saat kampanye, suara SBY sempat serak?
Itu cuma sekadar masuk angin dan kelelahan. Tak berselang lama, kondisi kesehatan Pak SBY kembali pulih. Tim dokter hanya meminta beliau tak memporsir kinerjanya.

Sejumlah kalangan mengkritik, SBY tidak bisa membedakan sebagai ketum dan Presiden saat kampanye, ini bagaimana?
Yang saya tahu, saat bertugas sebagai ketum Partai Demokrat, beliau selalu menempatkan diri sebagai warga negara biasa, sebagai seorang SBY. Beliau tidak melihat atau merefleksikan diri sebagai Presiden.

Publik perlu tahu, meski Pak SBY tak menempatkan diri  sebagai Presiden saat menjalankan tugas partai, tapi negara tetap berkewajiban untuk melindunginya. Posisi itu tidak bisa lepas dalam kondisi apa pun. 

Bisakah Presiden menolak fasilitas itu?
Ini bukan mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, keinginan atau bukan keinginan Pak SBY. Ini adalah amanat undang-undang yang harus dijalankan.

Ketika beliau melakukan fungsi sebagai ketum pengawalan dan pengamanan melekat harus tetap dilakukan, meski beliau tidak mau. Sebab, Paspamres member pengamanan merupakan perintah undang-undang.

Selain Paspampres, fasilitas apa saja yang terus melekat kepada Presiden?
Perlindungan atau hak kesehatan yang diberikan negara untuk Presiden juga terus melekat.

Bagaimana dengan biaya perjalanan  Presiden saat kampanye?
Mengenai biaya, Presiden sudah berkali-kali memberi penjelasan. Beliau membaca peraturan pemerintah tentang pelaksanaan atau cara berkampanye dan beliau mentaati itu.

Ketika ini bergulir di masyarakat, apakah saat SBY pergi berkampanye menggunakan fasilitas negara, beliau menyampaikan, kami mengundang BPK untuk melakukan audit. Silakan diaudit, nanti kita lihat. Lagi pula, presiden sebelum Pak SBY, juga melakukan hal sama. Tidak pernah beliau mengambil sesuatu yang bukan haknya.  ***

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

OJK Catat Penyaluran Kredit Tembus Rp 8.659 Triliun, Sektor UMKM Mulai Tunjukkan Perbaikan

Rabu, 06 Mei 2026 | 08:14

Trump Mendadak Hentikan Operasi Project Freedom di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:52

Harga Emas Rebound Saat Pasar Pantau Geopolitik dan Data Tenaga Kerja

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:23

Sektor Teknologi Eropa Bangkit dari Keterpurukan, STOXX 600 Menghijau

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:05

Kemenag Fasilitasi Kepindahan Santri Ponpes Ndolo Kusumo

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:45

Dana Wakaf Baitul Asyi untuk Jemaah Haji Aceh Diusulkan Naik

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:32

Rudy Mas’ud di Ujung Tanduk

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:09

Rakyat Antipati dengan PSI

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:38

10 Orang Jadi Korban Penyiraman Air Keras Kurir Ekspedisi

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:19

Kapal Supertanker Iran Masuk RI Bukan Dagang Biasa

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:08

Selengkapnya