Berita

Fadli Zon

Wawancara

WAWANCARA

Fadli Zon: Prabowo Tak Masalah Jokowi Nyapres Lawannya Obama Pun Akan Kami Hadapi 

KAMIS, 20 MARET 2014 | 09:01 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kalau saja Prabowo Subianto tahu Jokowi bakal jadi capres, tentu bakal berpikir seribu kali untuk mengajak bekas walikota Solo itu jadi calon Gubernur DKI Jakarta pada 2012 lalu.

Setelah jadi orang pertama di ibukota, popularitas Jokowi kian meroket, sehingga jadi saingan terberat Prabowo dalam Pilpres 2014 seperti hasil berbagai lembaga survei.

Namun, menurut Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon, Prabowo tidak menyesal mengajak Jokowi jadi calon Gubernur DKI Jakarta pada 2012 lalu itu.
“Waktu itu kami mendukung Jokowi karena kami nilai tepat memimpin Jakarta.

“Waktu itu kami mendukung Jokowi karena kami nilai tepat memimpin Jakarta.

Ternyata kami salah. Tapi kami tidak menyesal dengan pilihan tersebut,” ujar Fadli Zon kepada Rakyat Merdeka yang dihubungi via telepon, Selasa (18/3).

Fadli Zon mengaku pihaknya tidak gentar dengan tingginya popularitas Jokowi sebagai capres.

“Tujuan  pemilu itu untuk memperoleh kekuasaan secara damai, sesuai aturan perundang-undangan. Siapa pun lawannya memang harus dihadapi. Kami tidak ada masalah dengan itu,” paparnya.

Berikut kutipan selengkapnya:

Kalau Jokowi dibiarkan di Solo, tentu tidak akan jadi pesaing Prabowo begini?
Masalahnya kan waktu itu kami menilai dia sosok yang tepat memimpin Jakarta. Makanya kami dukung. Soal kemudian dia ikut maju sebagai capres, kami tidak terlalu mempermasalahkan.

Seperti saya bilang tadi, pilpres itu kan ajang kompetisi. Persaingan tidak bisa dihindari. Mau lawannya Barack Obama pun akan kami hadapi, tidak ada masalah.

Prabowo tidak menyalahkan kader Gerindra?
Tidak kok. Untuk apa Pak Prabowo menyalahkan. Pak Prabowo juga tidak menyesali mendukung Jokowi saat itu kok.  Yang sudah berlalu, ya sudah.

Sekarang kami fokus menghadapi persaingan.
 
Kenapa banyak kader Gerindra yang  tidak setuju dengan pencapresan Jokowi?
Pada dasarnya semua kader Gerindra tidak masalah. Sebab, itu pilihan pribadi, hak dia. Kami juga tidak merasa disaingi dengan kehadiran Jokowi. Sebab,  kami tetap yakin dengan sosok Prabowo.

Masalahnya sekarang, Jokowi punya perjanjian dengan rakyat Jakarta. Maka seyogyanya  menjelaskan sendiri soal pencapresannya, sekaligus meminta maaf. Itu minimal ya. Sebab, mereka yang memberikan amanat sebagai Gubernur DKI Jakarta.
 
Untuk apa meminta maaf?
Karena sebagai pemimpin tidak pantas untuk membohongi rakyat. Saat dilantik dia kan disumpah untuk memimpin Jakarta selama lima tahun. Kalau sumpah jabatan saja tidak ditepati, bagaimana bisa jadi pemimpin yang benar.

Menjadi capres kan  tidak berarti meninggalkan Jakarta?
Menjadi capres artinya dia harus siap memimpin Indonesia, bukan hanya Jakarta.

Dia tidak bisa fokus bekerja membangun Jakarta sesuai janjinya. Bisa gawat kalau kita sampai punya presiden yang fokusnya hanya ke Jakarta. Kasihan daerah lain.
 
Bagaimana kalau Prabowo kalah?
Ya tidak apa-apa. Namannya juga kompetisi. Ada yang menang dan ada yang kalah. Perjuangan itu kan tidak hanya berhenti di 2014. Masih ada Pemilu 2019, 2024 dan seterusnya.

Kenapa Gerindra mempersoalkan perjanjian Batu Tulis?
Saya tegaskan ya, kami (Prabowo) tidak mempersoalkan pengusungan Jokowi. Mau Obama yang diusung pun kami tidak masalah, akan kami hadapi.

Masalahnya adalah karena ada pihak yang tidak menghormati perjanjian tersebut. Tidak pernah ada omongan kepada kami bahwa mereka batal melaksanakan perjanjian tersebut.

Kalau sudah ada pembicaraan secara baik-baik, Gerindra juga mungkin bisa memaklumi. Toh kami tidak takut untuk bersaing dengan siapa pun.
 
Kata PDIP perjanjian itu sudah gugur karena kalah di Pilpres 2009. Pendapat Anda?
 Poin nomor tujuh itu redaksionalnya sudah sangat jelas. Tidak bisa diinterpretasikan lain. Tolong jangan menghina intelegensi kami.  Seharusnya lebih baik dikatakan dengan jujur bahwa  tidak bisa melaksanakan perjanjian tersebut. Itu kan lebih ksatria.  ***

Populer

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Golkar Berduka, Putri Akbar Tandjung Wafat

Rabu, 11 Maret 2026 | 15:27

Mengenal Bupati Rejang Lebong M Fikri yang Baru Terjaring OTT

Selasa, 10 Maret 2026 | 06:15

Rismon Ajukan RJ Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Dokter Tifa: Perjuangan Memang Berat

Kamis, 12 Maret 2026 | 03:14

UPDATE

KKB dan Ancaman Nyata terhadap Kemanusiaan di Papua

Jumat, 20 Maret 2026 | 05:59

Telkom Turunkan 20 Ribu Personel Amankan Layanan Telekomunikasi

Jumat, 20 Maret 2026 | 05:40

Salat Id Sambil Menikmati Keindahan Gunung Sumbing dan Sindoro

Jumat, 20 Maret 2026 | 05:19

PKS Minta DPR dan Pemerintah Rombak APBN 2026

Jumat, 20 Maret 2026 | 04:55

Ketika Gerakan Rakyat Kehilangan Akar

Jumat, 20 Maret 2026 | 04:35

BGN Perketat Pengawasan Sisa Pangan dan Limbah MBG

Jumat, 20 Maret 2026 | 04:15

Tokoh Perempuan Dorong Polri Telusuri Dugaan Aliran Dana Asing

Jumat, 20 Maret 2026 | 03:59

Arsitek Penyelesaian Kasus HAM Masa Lalu di Timor Leste

Jumat, 20 Maret 2026 | 03:33

Pertemuan Prabowo-Megawati Panggilan Persatuan di Tengah Kemelut Global

Jumat, 20 Maret 2026 | 03:13

Pengamanan Selat Bali

Jumat, 20 Maret 2026 | 02:59

Selengkapnya