Berita

Mellani Eka Mahayana

KUNJUNGAN KE AMERIKA (3)

Oma Jadi Pramugari, Opa Jadi Pengemudi

KAMIS, 27 FEBRUARI 2014 | 17:05 WIB | OLEH:

WARTAWAN Rakyat Merdeka, Mellani Eka Mahayana, dan empat peserta lainnya, diundang Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat sebagai International Visitor Leadership Program (IVLP) 2014. Selama tiga pekan, 27 Januari-14 Februari 2014, diajak menyelami kehidupan demokrasi di negeri Paman Sam.

Di Washington DC, pada 28 Januari, kami mengikuti acara briefing tentang Federalisme dengan Akram R. Elias Ph.D, presiden Capital Communications Group.   Sedangkan pada hari berikutnya diadakan pertemuan dengan Scott Flips, Wakil Direktur Penelitian dan Kebijakan US Commission on International Religiuos Freedom atau Komisi Kebebasan Beragama AS.

Dalam pertemuan ini dia mengungkapkan, Indonesia termasuk salah satu negara yang masuk dalam annual report mereka sebagai negara yang memerlukan pengawasan internasional. Indonesia bersama Afganistan, Azerbaijan, Kuba, India, Kazakhstan, Laos, dan Rusia dinilai telah melakukan pelanggaran keras terhadap International Religious Freedom Act atau IRFA.


Dia meminta keterangan dari kami, siapa tahu sudah ada perubahan di Indonesia ke depannya, untuk bahan laporan tahunan selanjutnya. Lalu para peserta diajak berkunjung berkeliling Capitol Hill. Masuk ke gedung ini, para pengunjung tidak boleh membawa makanan.

Setelah itu, kami berkunjung ke Kementerian Luar Negeri. Di sini kami didampingi Charles Kellet, program officer untuk Asia Pasifik Biro Pendidikan dan Kebudayaan Kementerian Luar Negeri. Selain kami, saat itu banyak juga peserta IVLP dari negara lain yang berkunjung. Tapi kegiatan kami terpisah.

Di sini kami bertemu dengan Farah Pandith, Utusan Khusus Menteri Luar Negeri AS untuk Komunitas Muslim. Dia menyapa dan memberi selamat kepada peserta setelah terpilih dalam program. Lalu, kami bertemu dengan staf Kemlu lainnya yang terkait dengan urusan Asia Pasifik. Mereka menceritakan program kerja mereka masing-masing.

Berikutnya, Detroit, Negara Bagian Michigan adalah kota kedua yang kami kunjungi. Kunjungan ini ditempuh sekitar dua jam. Dalam penerbangan ini saya menyaksikan pemandangan aneh. Bayangkan, yang menjadi pramugari dan pramugara adalah orang yang sudah bisa disebut kakek-nenek atau oma-opa. Dilihat dari penampilan fisik, usia mereka sepertinya diakhir 60-an. Ini berbeda 180 derajad kala kami terbang dari Jakarta menuju AS. Sepanjang perjalanan kami dilayani para pramugari yang cantik-cantik.

Hebatnya lagi, para opa-oma ini bekerja tidak kalah gesit ketimbang pramugari yang jauh lebih muda. Kenapa para opa-oma ini masih bisa bekerja seperti itu?
Ini sepertinya terkait dengan anti diskriminasi umur yang ada di AS. Di negeri ini, sangat sulit menemukan lowongan kerja atau kegiatan-kegiatan yang membatasi umur seseorang. Karena mereka melihat seseorang dari kemampuannya, yang diwujudkan lewat resume-nya. Bukan dari segi umurnya.

Usia pensiun rata-rata di AS umur 67 tahun. Namun tetap setelah itu, mereka masih bisa lanjut berkarya di bidang usaha informal. Jika ternyata tak ada yang mau membayar ya mereka akan melakukan kerja sosial.

Di AS sangat janggal bila orang yang sudah berumur bilang, "kami nggak kuat karena faktu umur’. Yang sering muncul kalimat, "kamu terlalu muda melakukan itu, bukan kamu terlalu tua melakukan itu."

Dalam perjalanan di Salt Lake City di Utah, supir kami juga seorang opa. Dia disapa Richard. Meski sudah berumur, dia tetap lincah mengemudikan Ford 9 Seater yang kami tumpangi. Richard juga terlihat sangat melek teknologi. Para penumpang tinggal menyebut alamat yang mereka tuju. Dengan dipandu GPS yang terletak di atas dashboard mobil, Opa Richard akan mengantar kita sampai ke tujuan. Di perjalanan, Opa Richard tak sungkan menyetel musik kesukaannya. Hari itu dia memilih mendengarkan grup rock legendaris, Queen.

Saat ditanya soal umur, Richard menjawab sambil bercanda, “Kamu mau kencan sama saya?” celotehnya. [***]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya