Berita

Jusuf Kalla

Wawancara

WAWANCARA

Jusuf Kalla: Masyarakat Tidak Percaya Survei Yang Sering Jagokan Seorang Tokoh

MINGGU, 23 FEBRUARI 2014 | 09:32 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Bekas Wakil Presiden Jusuf Kalla tidak mempermasalahkan elektabilitasnya sebagai capres berada di urutan kedelapan berdasarkan survei INES.

“Ah biasa itu, survei yang satu dan yang lainnya pasti berbeda, ha...ha...ha,” ujar Jusuf Kalla kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Seperti diketahui, survei INES (Indonesia Network Election Survey) yang digelar 1-14 Februari 2014, Prabowo Subianto bertengger di urutan teratas dengan perolehan suara 40,8 persen.


Disusul Megawati Soekarnoputri 19,5 persen,  Aburizal Bakrie 11,3 persen, Dahlan Iskan 6,9 persen, Wiranto 6,3 persen,  Joko Widodo 5,6 persen, Hatta Rajasa 2,4 persen,  Jusuf Kalla 2,2 persen, Surya Paloh 1,7 persen, dan 10. Pramono Edhie Wibowo 1,3 persen.

JK sapaan akrab Jusuf Kalla selanjutnya mengatakan, masyarakat sudah sangat cerdas dalam berdemokrasi, termasuk memilah dan memilih informasi yang ada.

“Begitu juga sangat cerdas menilai hasil survei yang hasilnya selalu menjadokan seorang tokoh,’’ ujar bekas Ketua Umum Partai Golkar itu.

Berikut kutipan selengkapnya:

Di survei lainnya, elektabilitas Anda bagus tapi di survei INES jeblok, apa tidak curiga?
Namanya juga survei, pasti hasilnya berbeda-beda, itu sudah biasa.

Anda tidak merasa aneh?
Tidak, survei itu kan gambaran sementara saja.

Bukankah bisa mempengaruhi pilihan masyarakat?
Kalau sekarang tentu itu hanya suasana hati kekinian saja. Memang nanti ada pengaruhnya atas rilis survei itu, tapi tidak besar kok.

Masak sih?
Ya, memang survei bisa dijadikan acuan bagi masyarakat untuk melihat popularitas calon. Tapi tidak semua masyarakat bisa terpengaruh akan hasil sebuah survei.

Sering kali sebuah survei menjagokan salah satu calon saja, ini bagaimana?
Saya rasa sekarang semakin banyak masyarakat yang tidak percaya kepada survei yang sering menjagokan seorang tokoh. Yang kayak begitu dianggap biasa saja.

Dari hasil survei, banyak capres bemunculan, padahal pileg belum dilaksanakan,  ini bagaimana?
Sebenarnya nggak masalah. Memang hasil pileg yang menentukan parpol mana saja yang berhak mengajukan pasangan capres-cawapres atau parpol itu harus berkoalisi.

Ada usulan agar LIPI saja melakukan survei capres, tanggapan Anda?
Ha...ha...ha,  tidak usah terlalu begitu. Saya rasa tidak apa banyak lembaga survei, Indonesia kan negara demokrasi, sehingga nggak perlu dibatasi.

Anda nggak khawatir ini disalahgunakan?
Nggak tahu soal itu. Kalau menurut saya beri saja kebebasan soal survei itu.

Sebab, orang di Indonesia kan diberikan kebebasan untuk mengembangkan ilmunya. Salah satunya ilmu survei ini, ha...ha...ha.

Apa memang trendnya sekarang ini menyewa lembaga survei?
Saya tidak tahu, tapi mungkin saja, macam-macam usahanya, ha...ha...ha.

Apa Anda memiliki pengalaman dengan lembaga survei?
Saya tidak katakan dari mananya. Tapi saya mengamati ada juga lembaga survei yang memihak, tergantung siapa yang pesan.

Survei itu kan sebagai indikator-indikatior saja untuk melihat tingkat keterpilihan dan bukan menjadi suatu kepastian yang mutlak.

Apa survei bisa menyesatkan masyarakat?
Saya rasa tidak. Saya perhatikan, kalau ada survei yang di luar nala, mereka tertawa saja. Mereka hanya membaca hasil survei itu. Tapi tidak mengambil menjadi keputusan.

Kalau polanya mempengaruhi masyarakat lewat survei, bagaimana?
Orang juga lama-lama akan hilang percayaannya, kalau ada yang masih mainkan survei awal-awal dia percaya, berikutnya belum tentu.

Tapi saya yakin masih ada lembaga survei yang memiliki kredibilitas dan kapabilitas, yakni dengan memasukkan seluruh tokoh yang ada dan mensurveinya dengan baik dan jujur.

Kalau saat Anda berpasangan dengan SBY, bagaimana?
Waktu itu ada juga surveinya. Tapi ketika itu kalau tak salah hanya ada dua atau tiga lembaga survei saja. Tapi dari hasil-hasilnya cukup baik, selisihnya sedikit saja.

Apa dengan berbohong melalui survei demokrasi  akan sehat?

Dalam demokrasi kalau sebuah survei itu obyektif tentu demokrasi akan sehat.

Kalau surveinya tidak obyektif tentu demokrasinya tidak sehat. Semua tergantung obyektifitas. ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

ANTAM Pertahankan Posisi di Tiga Indeks ESG KEHATI Periode Juni–November 2026

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:22

Dari Korupsi BGN ke RUU HAM: Meninjau Korban yang Terlupakan

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:02

KSAU Resmikan Skadron Udara 18 di Lanud Halim, Perkuat Dukungan Penerbangan Kenegaraan

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:01

Pimpinan DPR Siap Temui Mahasiswa yang Demo di Parlemen Hari Ini

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:57

PGN Gelar Program Bedah Dapur GasKita 2026 demi Manjakan Pelanggan

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:45

KPK Dalami Peran Mertua Menpora Dito Ariotedjo dalam Skema Kuota Haji 50:50

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:42

BPJPH dan ESQ Siapkan SDM Tangguh Hadapi Wajib Halal 2026

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:37

Sugiono Sampaikan Salam Prabowo untuk Putin, Minta Maaf Absen di KTT ASEAN-Rusia

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:35

Harga Minyak Dunia Stabil saat Selat Hormuz Kembali Dibuka

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:27

93 Sekolah Rakyat Permanen Hampir Rampung, Mensos Imbau Pemda Perkuat Kolaborasi

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:09

Selengkapnya