Berita

PT Pertamina (Persero)

Bisnis

Pertamina Ketergantungan Impor BBM, Singapura Makin Ngelunjak

Pemerintah Mau Terbang Ke Negeri Merlion Cari Investor Kilang
SELASA, 11 FEBRUARI 2014 | 10:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

PT Pertamina (Persero) diminta mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM) dari Singapura dan mempercepat pembangunan kilang untuk ketahanan energi.

Anggota Komisi VII DPR Muhammad Idris Lutfi mengatakan, pemerintah sudah saatnya mengurangi impor BBM dari Singapura. Pasalnya, negara itu sudah mulai ikut campur urusan dalam negeri Indonesia.

“Pemerintah harus lepaskan ketergantungan impor BBM. Ini sebagai bentuk usaha untuk mencapai kemandirian energi. Akibat ketergantungan impor, sikap mereka semakin ngelunjak ke Indonesia,” katanya, kemarin.


Menurut dia, Pertamina bisa mengimpor dari negara penghasil BBM lain atau mempercepat pembangunan kilang di dalam negeri. Apalagi, saat ini belum ada kilang-kilang baru.

“Kita sudah anggarkan pembangunan kilang sejak 2012, namun realisasinya tidak ada. Yang ada malah buat feasibility study aja,” tegas Idris.

Bekas Direktur Utama Pertamina Ari Soemarno mengatakan, pemerintah harus segera membangun kilang baru untuk mengurangi impor dan menjaga ketahanan energi nasional.

“Kita memang harus mengurangi impor BBM, salah satunya dengan membangun kilang baru,” katanya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Kendati begitu, dengan adanya kilang baru akan meningkatkan impor minyak mentah.

“Tapi ini lebih banyak sumbernya di Timur Tengah dan aman untuk ketahanan energi, sehingga kita tidak diatur-diatur oleh mereka,” katanya.

Ari mengakui, negara penghasil BBM sangat terbatas. Bahkan, negara penghasil minyak pun belum tentu mempunyai kilang untuk mengolah minyak mentah menjadi BBM.

Dia mengatakan, keinginan Saudi dan Kuwait yang ingin membangun kilang di dalam negeri perlu diapresiasi karena akan memberikan jaminan pasokan ke dalam negeri.

“Anehnya Kementerian Keuangan tidak mau menyetujui permintaan keringanan pajak mereka,” ujarnya.

Pemerintah akan melawat ke Singapura untuk mencari investor yang tertarik membangun kilang di Indonesia.

“Kami dari ESDM, Kementerian Keuangan, BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) dalam waktu dekat akan ke Singapura, kita akan mengadakan market consultation terkait kilang minyak,” ujar Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo, kemarin.

Susilo mengatakan, market consultation bertujuan untuk menawarkan kepada para investor khususnya perusahaan minyak, untuk membangun 1 kilang minyak kapasitas 1x300.000 barel per hari di Indonesia.

“Kita tawarkan investor siapa yang mau bangun kilang di Indonesia, insentif dari pemerintah misalnya tanah, jadi mereka tidak perlu repot-repot cari lahan lagi, sudah kita sediakan,” ungkap Susilo.

Ketika ditanya, kenapa harus di Singapura?

“Ya karena di sana banyak sekali kantor-kantor perwakilan perusahaan minyak di dunia,” cetus Susilo.

Vice President Coorporate Communication Pertamina Ali Mundakir sebelumnya mengatakan, untuk mengurangi impor pemerintah perlu membangun tiga kilang baru dengan kapasitas 300.000 barel per hari pada 2018.

“Pembangunan kilang mendesak dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan BBM nasional,” katanya.

Ali mengatakan, pentingnya pembangunan kilang baru untuk menopang ketahanan energi nasional untuk menghindari impor BBM yang semakin lama semakin besar. Dengan pembangunan kilang baru akan mengurangi ketergantungan impor BBM.

Dia juga mengatakan, alasan Pertamina lebih memilih impor dibanding memproduksinya sendiri karena biayanya lebih murah. ***

Populer

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

KPK Dikabarkan Kembali Gelar OTT di Sumut

Kamis, 02 Juli 2026 | 20:50

KPK Gelar OTT di Kabupaten Kuantan Singingi Riau

Senin, 29 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

OJK Minta Masyarakat Waspada Scam Berkedok Sensus Ekonomi 2026

Selasa, 07 Juli 2026 | 10:12

Harga Minyak Dunia Stabil, Pasar Pantau Kebijakan OPEC+ dan Arab Saudi

Selasa, 07 Juli 2026 | 10:03

PSI Sulit Jadikan Jateng Kandang Gajah Jika Hanya Andalkan Jokowi

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:57

Prabowo Bersiap Gelar Pertemuan Bilateral dengan Modi di Istana Pagi Ini

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:54

IHSG Menguat, Rupiah Bergerak ke Rp17.985 per Dolar AS

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:48

BBNI Tuntaskan Buyback 2026, Saham Dialihkan Penuh untuk Program Pegawai (ESOP)

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:45

PPP Menangkan Lima Gugatan Sengketa Internal, Legalitas Kepengurusan Semakin Kuat

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:38

GREAT Insitute: Perubahan Pradigma Pembangunan Indonesia Diakui Dunia

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:32

Harga Emas Antam Anjlok Rp15 Ribu, Termurah Rp1,37 Juta

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:32

Keputusan RI Hadiri Pemakaman Ayatollah Khamenei Sangat Tepat

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:22

Selengkapnya