PT Pertamina (Persero) diminta mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM) dari Singapura dan mempercepat pembangunan kilang untuk ketahanan energi.
Anggota Komisi VII DPR Muhammad Idris Lutfi mengatakan, pemerintah sudah saatnya mengurangi impor BBM dari Singapura. Pasalnya, negara itu sudah mulai ikut campur urusan dalam negeri Indonesia.
“Pemerintah harus lepaskan ketergantungan impor BBM. Ini sebagai bentuk usaha untuk mencapai kemandirian energi. Akibat ketergantungan impor, sikap mereka semakin ngelunjak ke Indonesia,†katanya, kemarin.
Menurut dia, Pertamina bisa mengimpor dari negara penghasil BBM lain atau mempercepat pembangunan kilang di dalam negeri. Apalagi, saat ini belum ada kilang-kilang baru.
“Kita sudah anggarkan pembangunan kilang sejak 2012, namun realisasinya tidak ada. Yang ada malah buat
feasibility study aja,†tegas Idris.
Bekas Direktur Utama Pertamina Ari Soemarno mengatakan, pemerintah harus segera membangun kilang baru untuk mengurangi impor dan menjaga ketahanan energi nasional.
“Kita memang harus mengurangi impor BBM, salah satunya dengan membangun kilang baru,†katanya kepada
Rakyat Merdeka, kemarin.
Kendati begitu, dengan adanya kilang baru akan meningkatkan impor minyak mentah.
“Tapi ini lebih banyak sumbernya di Timur Tengah dan aman untuk ketahanan energi, sehingga kita tidak diatur-diatur oleh mereka,†katanya.
Ari mengakui, negara penghasil BBM sangat terbatas. Bahkan, negara penghasil minyak pun belum tentu mempunyai kilang untuk mengolah minyak mentah menjadi BBM.
Dia mengatakan, keinginan Saudi dan Kuwait yang ingin membangun kilang di dalam negeri perlu diapresiasi karena akan memberikan jaminan pasokan ke dalam negeri.
“Anehnya Kementerian Keuangan tidak mau menyetujui permintaan keringanan pajak mereka,†ujarnya.
Pemerintah akan melawat ke Singapura untuk mencari investor yang tertarik membangun kilang di Indonesia.
“Kami dari ESDM, Kementerian Keuangan, BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) dalam waktu dekat akan ke Singapura, kita akan mengadakan market
consultation terkait kilang minyak,†ujar Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo, kemarin.
Susilo mengatakan,
market consultation bertujuan untuk menawarkan kepada para investor khususnya perusahaan minyak, untuk membangun 1 kilang minyak kapasitas 1x300.000 barel per hari di Indonesia.
“Kita tawarkan investor siapa yang mau bangun kilang di Indonesia, insentif dari pemerintah misalnya tanah, jadi mereka tidak perlu repot-repot cari lahan lagi, sudah kita sediakan,†ungkap Susilo.
Ketika ditanya, kenapa harus di Singapura?
“Ya karena di sana banyak sekali kantor-kantor perwakilan perusahaan minyak di dunia,†cetus Susilo.
Vice President Coorporate Communication Pertamina Ali Mundakir sebelumnya mengatakan, untuk mengurangi impor pemerintah perlu membangun tiga kilang baru dengan kapasitas 300.000 barel per hari pada 2018.
“Pembangunan kilang mendesak dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan BBM nasional,†katanya.
Ali mengatakan, pentingnya pembangunan kilang baru untuk menopang ketahanan energi nasional untuk menghindari impor BBM yang semakin lama semakin besar. Dengan pembangunan kilang baru akan mengurangi ketergantungan impor BBM.
Dia juga mengatakan, alasan Pertamina lebih memilih impor dibanding memproduksinya sendiri karena biayanya lebih murah. ***