Berita

MKRI: Budaya Politik dan Sistem Tatanegara Indonesia Rusak Fatal

SELASA, 14 JANUARI 2014 | 08:49 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Sejatinya di dalam negara demokrasi kepatuhan penyelenggara negara pada konstitusi dan kepatuhan melindungi kedaulatan negara, bangsa dan rakyat menjadi tanggung jawab partai politik. Namun sayangnya, di Indonesia partai politik telah mengkhianati hal itu saat mengamandemen secara serampangan UUD 1945 pada kurun 1999 hingga 2001.

Amandemen yang serampangan itu telah membuat budaya politik dan sistem ketatanegaraan Indonesia rusak fatal dan membuat demokrasi Indonesia berubah jadi demokrasi kriminal dan transaksional. Juga dapat dikatakan menjadi penyebab dari kehancuran seluruh aspek kehidupan bangsa baik ekonomi, politik, sosial dan budaya.

Demikian antara lain disampaikan Ketua Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia (MKRI) Ratna Sarumpaet dalam keterangan yang diterima redaksi Selasa pagi (14/1).


"Tanpa lembaga tertinggi negara, negara kehilangan satu-satunya lembaga kontrol sehingga membuat lembaga-lembaga tinggi negara, seperti Kepresidenan, DPR, BPK, MK, dan MA berubah menjadi kerajaan-kerajaan, berjalan sesuai tafsir sendiri-sendiri," ujarnya.

Ratna Sarumpaet juga menyoroti peranan Badan Anggaran di DPR RI yang mengubah lembaga perwakilan rakyat itu menjadi tempat berbagai pihak yang mengatasnamakan kepentingan kelompok menjarah anggaran belanja negara.

"Pemerintah atas nama negara memproyekkan kekayaan bangsa dan memiskinkan rakyat; MK menjadi mesin suap kasus-kasus pilkada; lembaga kepresidenan berubah menjadi lembaga 'super power' tanpa satu lembaga pun berhak memberinya sanksi dan itu menular ke gubernur, walikota, bupati bahkan camat," sambung Ratna.
  Mendegradasi MPR dari posisi sebagai lembaga tertinggi negara membuat rakyat kehilangan wadah demokrasi sebagai muara yang mempersatukan kepentingan yang beragam menjadi kepentingan bersama.

  Sementara menghilangkan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) dan mempercayakan pembangunan nasional pada visi misi presiden dan wapres telah membawa Indonesia ke dalam kehancuran serius.

"Visi Ekonomi rezim SBY-Boediono dengan kiblat ekonomi makro, membiarkan perekonomian kita bergantung pada investasi asing dan liberalisasi impor, membuat modal asing masuk hingga sendi-sendi ekonomi politik bangsa dan kendali ekonomi Indonesia pindah ke tangan asing," demikian Ratna. [dem]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Tak Pelihara Buzzer, Prabowo Layak Terus Didukung

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:14

Stasiun Cirebon Dipadati Penumpang Arus Balik Nataru

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:00

SBY Pertimbangkan Langkah Hukum, Mega Tak Suka Main Belakang

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:34

Pilkada Lewat DPRD Cermin Ketakutan terhadap Suara Rakyat

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:26

Jika Mau Kejaksaan Sangat Gampang Ciduk Silfester

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:01

Pilkada Lewat DPRD Sudah Pasti Ditolak

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:37

Resolusi 2026 Rismon Sianipar: Makzulkan Gibran Wapres Terburuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:13

Kata Golkar Soal Pertemuan Bahlil, Dasco, Zuhas dan Cak Imin

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:10

Penumpang TransJakarta Minta Pelaku Pelecehan Seksual Ditindak Tegas

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:38

Bulgaria Resmi Gunakan Euro, Tinggalkan Lev

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:21

Selengkapnya