Berita

Puan Maharani

Wawancara

WAWANCARA

Puan Maharani: Pemilih Pemula Masih Percaya Pemilu Bisa Ubah Nasib Bangsa

SABTU, 04 JANUARI 2014 | 10:15 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pemilih pemula masih percaya untuk memperbaiki bangsa dan negara ini melalui parpol yang dipilih dalam pemilu.

“Pemilih pemula juga masih percaya bahwa memilih pemimpin melalui Pilpres itu bisa mengubah nasib bangsa dan negara. Saya masih melihat  adanya harapan di jiwa anak muda itu,’’ kata Ketua Fraksi PDI Perjuangan Puan Maharani kepada Rakyat Merdeka, pekan lalu.

Berikut kutipan selengkapnya;


Bukannya pemuda mulai apatis terhadap politisi?
Kalau sampai yang muda saja apatis, tentu sulit kita membangun bangsa dan negara. Kan masa depan bangsa itu ada di tangan pemuda.

Politisi banyak tersangkut korupsi, ini antara lain penyebab apatis, ini bagaimana?
Memang ada politisi tersangkut kasus korupsi, tapi masih banyak politisi yang berorientasi memperbaiki bangsa dan negara ini.

Memang bukan suatu hal yang mudah untuk menyakini pemilih pemula mengenai itu. Tapi kita harus coba yakinkan. Kalau tidak pernah kita coba dan berusaha perbaiki, maka tidak ada perubahan.

Anda yakin pemilih pemula bisa diyakinkan seperti itu?
Kita harus yakin. Kita harus selalu membangunkan mimpi-mimpi bahwa pemilih pemula itu  tetap memiliki harapan bahwa bangsa dan negara ini menjadi besar dan maju.

Kalau itu terus disuarakan dan terus berjuang, saya yakin kita akan menjadi bangsa dan negara Indonesia yang hebat.

Pemilih pemula bisa meningkat dalam Pemilu 2014?
Ya. Makanya kita harapkan tidak adanya permainan dari IT, kartu suara yang dimanipulasi dan intelijen. Saya yakin ke depan masyarakat lebih cerdas dan proaktif mengawasi Pemilu 2014.

Ada parpol gunakan cyber army untuk raih simpati pemilih pemula, PDI Perjuangan bagaimana?
Ya, tidak apa-apa. Itu bagus kok. PDI Perjuangan atau parpol lainnya tentu akan melakukan semua cara yang baik untuk meningkatkan pastisipasi pemuda pemula untuk tergerak menggunakan hak suaranya dalam Pemilu 2014.

Intinya, selama itu dilakukan untuk merah putih dan NKRI dan memberikan pendidikan politik kepada masyarakat, menurut saya menggunakan cyber army atau lainnya dengan cara-cara yang benar, itu sah-sah saja kok.

Bukankah cara itu bisa dimanfaatkan untuk mencederai demokrasi?
Kalau cyber army dimanfaatkan untuk mencederai atau memanipulasi keinginan rakyat untuk memilih pemimpin, itu yang jadi kesalahan besar.

Makanya mari berkompetisi secara sehat. Silakan parpol meraih simpati masyarakat sebanyak-banyaknya, karena itu jembatan bagi rakyat untuk memajukan bangsa Indonesia.

Anda optimistis PDI Perjuangan merasih simpati pemilih pemula?
PDI Perjuangan optimistis bisa menggaet pemilih pemula dengan melakukan pendekatan-pendekatan yang benar.

Pemilih pemula itu cukup banyak, bisa meraih berapa persen?
Pemilih pemula itu  sekitar 30 juta orang. Kalau kami dapat lima persen atau lebih, tentu itu cukup bagus. Sudah menambah suara dari dari pemilih sebelumnya.

Kok hanya lima persen saja dari pemilih pemula?
Saya kan tidak bisa juga serakah dengan mengatakan bahwa kami mampu meraih 20 persen suara pemilih pemula. Kita harus memikirkan angka yang realistis.

Kenapa?
Karena pemilih pemula itu sangat dinamis. Tidak bisa kita arahkan begitu saja, maka kami membangun harapan itu supaya mimpi-mimpi pemuda kita bisa diwujudkan melalui parpol.

Caranya bagaimana?
Banyak cara. Misalnya, melakukan komunikasi langsung seperti bertemu dengan komunitas-komunitas anak muda, melakukan pendekatan dengan kebudayaan dan olahraga. Itu semua kami lakukan.

Apa dengan cara itu tergugah hati pemilih pemula?
Tentu tergugah hatinya. Kemudain bersama-sama sebagai anak bangsa mengatakan dirinya adalah merah putih tanpa lihat latarbelakang warnanya.
 
Siapa yang paling bertanggung jawab meningkatkan partisipasi pemilih pemula ?
Ini tanggung jawab seluruh bangsa Indonesia, termasuk para pemudanya. Masalah ini bukan hanya tanggung jawab parpol. ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Transformasi Besar-besaran Prabowo Bikin Banyak Orang Kaget

Minggu, 21 Juni 2026 | 14:14

Wapres AS Tiba di Swiss untuk Perundingan Damai dengan Iran

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:50

KPK Ungkap Modus Pinjam Bendera di Proyek Gedung Pemkab Lamongan

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:19

Prabowo Ucapkan Selamat Ulang Tahun ke-65 untuk Jokowi Lewat Instagram

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:05

Tidak Kena Pajak Daerah, Lapangan Golf Senayan Ottolima Layak Dievaluasi

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:04

Pemerintah Sambut Kritik Mahasiswa sebagai Penyempurna Kebijakan

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:00

Nanik S. Deyang Dituntut Audit Total BGN dan Program MBG

Minggu, 21 Juni 2026 | 12:32

Pemerintah Harus Siapkan Solusi Jangka Panjang Usai Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa

Minggu, 21 Juni 2026 | 12:24

KPK-Pemprov DKI Sebarkan Pesan Antikorupsi Lewat Halte Setiabudi Integritas

Minggu, 21 Juni 2026 | 12:22

Seskab dan Kepala BNN Diskusikan Ancaman Peredaran Narkoba Lewat Vape

Minggu, 21 Juni 2026 | 11:59

Selengkapnya