Berita

Husni Kamil Manik

Wawancara

WAWANCARA

Husni Kamil Manik: DPT Indonesia Lebih Baik Dari Amerika Dan Australia

KAMIS, 02 JANUARI 2014 | 09:31 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Husni Kamil  mengklaim masyarakat yang puas dengan kinerja KPU jauh lebih banyak daripada yang tidak puas.

Masalah daftar pemilih tetap (DPT)  menjadi momok yang menakutkan bagi penyelenggaraan pemilu. Banyak elite khawatir pemilu akan ternodai kecurangan akibat masih amburadulnya daftar pemilih.

Tak hanya itu, sejumlah aktivis memperkirakan karut-marut DPT bisa menjadi pemicu terjadinya huru hara nasional sebagai imbas kekecewaan terhadap hasil pemilu.


Kegusaran terhadap belum sempurnanya DPT belum lama ini disampaikan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto kepada Presiden SBY, ketika keduanya bertemu di Istana Negara.

Ketua KPU Husni Kamil berjanji akan berupaya menyelesaikan masalah DPT sampai batas terakhir penetapan, yakni dua minggu sebelum pemilu.

Dia mengklaim daftar pemilih di Indonesia lebih baik dari daftar pemilih di Australia dan Amerika.

Berikut ini wawancara Rakyat Merdeka, dengan Husni Kamil selengkapnya, belum lama ini. 
 
Banyak parpol mengeluhkan masalah DPT. Prabowo pun menyampaikan masalah itu ke Presiden. Anda tahu itu?
Begini, KPU sudah menyepakati bahwa perbaikan DPT itu akan terus dilakukan sampai dua minggu sebelum pemungutan suara. Sekarang prosesnya sedang berjalan.

 Jajaran KPU di kabupaten dan kota sedang melakukan proses verifikasi bersama-sama Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil di seluruh Indonesia, menelusuri data-data yang diverifikasi. Nah setelah dikonfirmasi nanti data tersebut akan menjadi data baru.

Menurut Anda, ada berapa jumlah DPT yang bermasalah?
Kalau tidak salah itu ada sekitar  3,3 juta pemilih. Tapi perlu diketahui, ada kemungkinan beda persepsi mengenai data bermasalah. Ada yang berpandangan bahwa ketika Nomor Kartu Keluarga  tidak disertakan di dalam perbaikan itu termasuk yang bermasalah dalam DPT.

Sementara kami, tidak konsen pada Nomor Kartu Keluarga, karena di dalam Undang-Undang Nomor  8 tahun 2012 pada pasal 33 angka 2, pemilih itu cukup memiliki kejelasan nama, Nomor Induk Kependudukan, jenis kelamin, tempat tanggal lahir dan alamat yang jelas. Di situlah ada perbedaan pemahaman.

Agar tidak salah pemahaman, kenapa KPU tidak mengundang parpol untuk membahas masalah itu?
Setiap bulan kami mengumpulkan partai politik. Jika partai politik ingin berpartisipasi secara masksimal kami terbuka. Kami sih  berharap struktur parpol yang berada di bawah ikut bergerak. Karena proses membangun data dari bawah bukan dari atas. Bagi kami, semakin banyak masukan akan semakin baik DPT-nya.

Banyak yang khawatir bila masalah DPT tidak selesai akan memengaruhi hasil pemilu?

Sebenarnya tidak ada hubungannya ke sana. Di Australia ikut memberikan suara di pemilu itu adalah wajib sementara di AS adalah hak. Di dua Negara itu saja yang terdaftar sebagai pemilih tidak sampai 100 persen, paling hanya 90 persen pemilih.

Nah, jika di Indonesia sekarang ada 3,3 juta DPT bermasalah dan seandainya kita hapus DPT yang bermasalah itu, maka hanya hilang sekitar 1 5 persen. Itu artinya jumlah pemilih terdaftar sebagai pemilih mencapai 98 persen.

Jumlah itu jauh lebih bagus dari AS dan Australia. Tapi kami tetap akan berupaya agar masalah DPT selesai sampai 100 persen. Itu tekad kami.  

Ada yang memprediksi masalah DPT bisa menjadi pemicu huru-hara. Bagaimana penilaian Anda?
Saya kira bagi yang mengetahui peta pemilih bisa menilai secara objektif bagaimana kualitas DPT yang sudah disajikan sekarang. Kalau persoalannya dilihat politis, KPU tidak bisa masuk ke wilayah sana. Ranah kami adalah ranah teknis yang bisa terukur. Kalau hal yang kecil dibesar-besarkan, kan sulit juga mengelolanya.

Saya kira saat ini banyak yang lebih suka kepada KPU daripada yang tidak suka.
Prinsip kami kalau ada yang tidak suka dengan kinerja KPU, silakan kasih kami masukan  nyata, pasti akan kami jadikan bahan evaluasi.

Masalah Pemilu 2014 bukan hanya DPT namun juga ancaman melonjaknya golpot akibat imbas dari menurunnya kepercayaan terhadap parpol. Bagaimana penilaian Anda?
Kami mengikuti hasil survei yang dilakukan embaga independen. Hasilnya, kami melihat ada peningkatan grafik atas keinginan berpartisipasi masyarakat secara keseluruhan maupun kelompok usia muda yang ingin berpartisipasi juga.

Saya sangat gembira karena rata-rata masyarakat yang ingin menggunakan hak suaranya di atas 76 persen. Kemudian yang menolak itu hanya di bawah 2 digit, ini perkembangan baik.

Apa yang dilakukan KPU untuk meningkatkan partisipasi pemilih?
KPU melakukan berbagai cara, antara lain melakukan pendidikan pemilih dan sosialisasi. Cara konvensional kami lakukan melalui iklan dan  seminar. Cara lainnya kami melakukan sosialisasi melalui kesenian, baik yang  modern maupun tradisional, kegiatan olahraga populis seperti futsal, basket dan lainnya.

Selain itu, kami juga menempuh melalui teknologi modern seperti media sosial.

Saya kira agar partisipasi pemilih tinggi, kami mengharapkan peranan parpol. Karena hanya parpol yang mampu menjawab pertanyaan cara calon pemilih, misalnya siapa caleg yang pantas dipilih. Hal ini hanya bisa dijawab parpol karena KPU tidak berada di ranah itu. ***

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Saham-saham AS Bergerak Variatif Pantau Perkembangan Negosiasi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:20

Mali Cabut Pengakuan Negara Buatan Polisario, Dukung Otonomi Sahara di Bawah Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 08:10

Dorong Pivot Bisnis, KADIN Sebut MBG Berkah bagi Petani dan Peternak

Sabtu, 11 April 2026 | 08:02

BI Ungkap Konsumen Tetap Pede, Ekonomi Dinilai Baik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 11 April 2026 | 07:47

Kenya Dukung Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 07:27

Harapan Damai Picu Penguatan Pasar Eropa di Akhir Pekan

Sabtu, 11 April 2026 | 07:18

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

Sabtu, 11 April 2026 | 07:04

Kepsek SMK jadi Otak Pengoplosan Gas LPG 3 Kg di Brebes

Sabtu, 11 April 2026 | 06:46

Prabowo Tetap Waras soal Demokrasi, Tidak Seperti Jokowi

Sabtu, 11 April 2026 | 06:20

Soemitronomics dan Kedaulatan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 05:59

Selengkapnya