Berita

Hary Tanoesoedibjo

Wawancara

WAWANCARA

Hary Tanoesoedibjo: Grafik Elektabilitas WIN-HT Terus Mengalami Peningkatan

KAMIS, 26 DESEMBER 2013 | 10:20 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pasangan capres dan cawapres Partai Hanura Wiranto dan Hary Tanoesoedibjo (WIN-HT) mengklaim elektabilitas mereka meningkat. Dia mengaku telah menyiapkan banyak kejutan baru.

Pasangan WIN-HT telah melakukan deklarasi pencalonan sejak enam bulan lalu. Berbagai upaya untuk mendongkrak popularitas dan elektabilitas kedua pasangan telah dilakukan dengan gencar seperti pemasangan iklan di televisi. Namun sayang, berdasarkan sejumlah lembaga survei, popularitas dan elektabilitas kedua tokoh tersebut jalan di tempat.

Alih-alih popularitas dan elektabilitas naik, pasangan WIN-HT panen kritik.


Belakangan ini, mereka dinilai telah mengeksploitasi ruang publik, lewat jaringan televisi yang dimiliki Hary Tanoe untuk kepentingan politik Hanura dan pencalonan WIN-HT. Bagaimana tanggapan Hary terhadap kritik tersebut? Dan apa yang akan dilakukan pasangan WIN-HT untuk mendongkrak elektabilitas?

Berikut ini wawancara Rakyat Merdeka dengan Hary Tanoe, belum lama ini.

Sejumlah lembaga survei merilis, popularitas dan elektabilitas Anda dan Wiranto tidak naik, padahal iklan pasangan WIN-HT sudah banyak muncul di televisi.  Bagaimana penilaian Anda?
Kami memiliki pandangan lain. Kami melihat dampak iklan yang kami pasang baik sekali. Di dalam proses politik itu ada indikator yang bisa dijadikan penilaian. Yaitu, disukai, diyakini, dan  dipilih.

Nah, iklan melalui televisi, media cetak dan media lain yang kami pasang hanya sekadar untuk meningkatkan pengenalan kepada masyarakat terhadap kami.

Jadi iklan tak bertujuan untuk meningkatkan keterpilihan?
Kami ingin masyarakat menyukai kami dahulu  sebelum pada akhirnya memutuskan memilih. Kalau mereka tidak suka, bagaimana mereka mau pilih. Untuk membangun rasa suka, tidak cukup melalui iklan.

Tetapi harus menawarkan program kepada rakyat yang dapat menyentuh kebutuhan mereka secara langsung. Selama ini kami melihat, grafik eletabilitas Partai Hanura dan pasangan  WIN-HT terus naik.

Dan  kami percaya, kalau Partai Hanura dan WIN-HT terus melakukan sesuatu yang bisa dirasakan langsung seluruh rakyat Indonesia, elektabilitas akan terus naik dengan sendirinya. Kalau kami hanya ngomong, ya tentu nggak akan naik-naik.

Di jaringan televisi milik Anda, ada kuis kebangsaan. Banyak yang curiga itu sarana Hanura untuk kampanye...

Orang kalau iri pasti mengkritik.

Bagaimana bila pembagian hadiah di kuis itu  dianggap money politics?

Bukan, itu bukan money politics. Kalau kuis itu bermasalah, tentu sudah lama dihentikan. Sekarang masih jalan, karena selama ini kuis itu bagus, baik-baik saja dan  tidak ada masalah.

Anda menjabat Ketua Bapilu Hanura. Apa yang Anda lakukan untuk memenangkan partai di pemilu?
Banyak. Sebagian program sedang berjalan antara lain memberikan asuransi bagi seluruh kader Partai Hanura, memasang iklan billboard di seluruh kabupaten dan kota dan memasang iklan baik di televisi dan media lain.

Selain itu,  kami juga melakukan  pertemuan dengan para tokoh agama dan organisasi kemasyarakatan serta  melakukan sosialisasi program Partai Hanura secara langsung ke masyarakat dan kampus.

Bagaimana hasil program itu sejauh ini?
Semua itu proses untuk meningkatkan elektabilitas Partai Hanura dan WIN-HT melalui tahapan 4D, yakni dikenal, disukai, diyakini dan dipilih.

Ke depan, kami akan menghadirkan banyak kejutan, itu salah satu janji saya. Kami tidak mau hanya bicara dan membuat konsep, tapi kami ingin buktikan ke masyarakat. ***

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Saham-saham AS Bergerak Variatif Pantau Perkembangan Negosiasi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:20

Mali Cabut Pengakuan Negara Buatan Polisario, Dukung Otonomi Sahara di Bawah Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 08:10

Dorong Pivot Bisnis, KADIN Sebut MBG Berkah bagi Petani dan Peternak

Sabtu, 11 April 2026 | 08:02

BI Ungkap Konsumen Tetap Pede, Ekonomi Dinilai Baik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 11 April 2026 | 07:47

Kenya Dukung Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 07:27

Harapan Damai Picu Penguatan Pasar Eropa di Akhir Pekan

Sabtu, 11 April 2026 | 07:18

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

Sabtu, 11 April 2026 | 07:04

Kepsek SMK jadi Otak Pengoplosan Gas LPG 3 Kg di Brebes

Sabtu, 11 April 2026 | 06:46

Prabowo Tetap Waras soal Demokrasi, Tidak Seperti Jokowi

Sabtu, 11 April 2026 | 06:20

Soemitronomics dan Kedaulatan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 05:59

Selengkapnya