Berita

ilustrasi/net

Politik

Kinerja BPN Disorot, Perlu Kementerian Khusus Pertanahan

RABU, 18 DESEMBER 2013 | 16:34 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Kinerja Badan Pertanahan Nasional (BPN) kembali disorot. Di bawah kepemimpinan Hendarman Supandji, kinerja BPN dalam menyelesaikan kasus sengketa tanah jauh dari sempurna.

"Masih banyak kasus konflik pertanahan yang belum selesai seperti yang dijanjikan. Ini bukti kiinerja BPN sebagai pengguna uang Negara masih jauh dari sempurna,"ujar Ketua Pendiri Indonesia Audit Watch (IAW) Junisab Akbar, kepada Rakyat Merdeka Online (Rabu, 18/12).

BPN menargetkan selama tahun 2013 ini akan menyelesaikan 82 kasus prioritas konflik dan sengketa pertanahan. Namun, tidak seluruh kasus yang ditargetkan tersebut bisa dipenuhi BPN. Dikatakan Junisab, BPN belum  bisa menuntaskan kasus pertanahan adalah bukti bahwa BPN tidak bisa dengan gagah berani menegakkan kewenangannya, sekalipun penuntasan sengketa tanah diperintahkan Komisi II DPR.


"Itu membuktikan bahwa instrumen BPN jauh dari ideal untuk bisa menuntaskan konflik pertanahan,"

Hal itu terjadi karena posisi BPN sebagai lembaga Negara non Departemen. Untuk itu, Junisab menyarankan agar pemerintahan berikutnya menjadikan lembaga BPN sejajar dengan Kementerian.

"Untuk urusan sebagian kecil wilayah tertinggal saja diberi posisi Kementerian, tetapi untuk seluruh tanah tempat kita berpijak malah digolongkan di bawah Kementerian? Hina banget soal pertanahan di jaman SBY ini?" kata Junisab.

BPN lanjut mantan anggota DPR RI ini, jangan malu-malu menggunakan kewenangannya secara maksimal dalam menuntaskan konflik pertanahan. Selama hal ini tidak dilakukan, maka kasus sengketa tanah yang terjadi tidak akan bisa diselesaikan.

"Mumpung pak Hendarman Supandji yang merupakan mantan Jaksa Agung memimpin BPN, tunjukkan taringmu demi keadilan. Dalam urusan tanah BPN harus berperan aktif. Jangan sampai karena mereka tidak menjalankan kewenangannya lantas konflik tanah semakin merajalela. Bisa-bisa nanti kena pasal penyimpangan kewenangan," papar Junisab.[dem]

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Pertamina Mandalika Racing Series 2026 Songsong Pembalap Muda Menuju Pentas Dunia

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:56

Catatan Hari Pelaut Sedunia 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:34

284 Petembak Siap Bertarung dalam Kejurnas Menembak ISSF 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:17

Lembaga Peradilan Khusus Pemilu Perlu Dibentuk Demi Wujudkan Keadilan

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:50

Pembangunan Hotel Prima Katulampa Harus Dihentikan, Ini Sebabnya

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:30

Mahasiswa dan Dalang

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:10

Kejati Sultra Geledah Rumah Bos Tambang hingga Rujab Wabup Kolaka

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:48

PDIP yang Overthinking, Bukan Pemerintah yang Panik

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:32

Kemensos Mulai Operasikan Dua SR Permanen di Pasuruan Bulan Depan

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:16

PDIP Desak Wapres Gibran Klarifikasi Soal "Uang Sogok" ke Mahasiswa UBK

Selasa, 23 Juni 2026 | 22:45

Selengkapnya