Berita

foto: net

Rumah Kaca

Tuan Presiden, Saya Menangis Menulis Artikel Ini

SELASA, 10 DESEMBER 2013 | 10:47 WIB

Maling-maling kecil dihakimi, Maling-maling besar dilindungi...Dimanakah adanya keadilan bila masih memandang golongan, yang kuat selalu berkuasa yang lemah pasti merana.

Demikian secuplik lirik lagu karya band Marjinal berjudul Hukum Rimba. Lirik lagu itu relevan jika melihat situasi keadilan sosial akhir-akhir ini. Perilaku korup dan menyimpang semakin masif dan sering kali para aktornya dalah pejabat tinggi negara. Mereka elite-elite politik yang tidak punya urat malu, tampil percaya diri di depan kamera televisi dan senang tebar senyum di ruang pengadilan.  

Para koruptor tetap bisa tersenyum lebar karena mayoritas hukuman yang mereka terima di bawah ancaman hukuman maksimal. Bahkan, perlakuan istimewa layaknya golongan elite yang bebas masih bisa mereka terima di dalam penjara berbekal modal besar yang mereka miliki.


Sedangkan maling-maling kecil, sebagian besar dari mereka kita temukan mati di jalan dihakimi massa karena pencopetan, pencurian ternak atau pencurian bahan kebutuhan pokok karena tidak punya uang yang cukup untuk mengisi perutnya yang kosong. Tak jarang hukuman pengadilan untuk para maling kecil lebih berat dari mereka yang mencuri uang rakyat miliaran.

Kondisi ini menyinggung nurani seorang warga , Abdul Muis Syam. Ia mengungkapkan kesedihannya atas kondisi sosial yang timpang itu lewat tulisan. Abdul berkaca pada kasus Ngadimun (45), warga Dusun Kadisono, Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Bantul, yang mati dipukuli massa hanya karena mencuri ayam.

Curahan hatinya sudah terbit di blog Media Warga, Kompasiana, kemarin, bertepatan dengan hari anti korupsi (9 Desember), berjudul "Tuan Presiden, Saya Menangis Menulis Artikel Ini".

WAHAI Tuan Presiden, dan para pejabat negara beserta para elit parpol yang saat ini disorot terindikasi sebagai “perampok” uang rakyat.

Tahukah kalian, bahwa rakyatmu kini sedang kelaparan, haus, karena terhimpit ekonomi mereka pun tak mampu lagi berpikir jernih, hingga banyak yang terpaksa mencuri demi mempertahankan hidup?

Akibat dari kelaparan dan kehausan, mereka menjadi bodoh dan sulit menahan diri. Lalu mereka pun saling memangsa dan membunuh satu sama lain.

Saya sangat sedih mengetahui peristiwa yang menimpa Ngadimun (45), warga Dusun Kadisono, Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Bantul. Gara-gara ayam, nyawanya melayang,

Dia dikeroyok warga hingga babak belur setelah ketahuan mencuri ayam di Pedukuhan III Gelaran, Desa Bugel, Kecamatan Panjatan, Jumat (6/12/2013) dinihari.

Meski Ngadimun berusaha kabur dan bersembunyi di areal persawahan, namun warga tetap mengepungnya di persawahan, hingga Ngadimun akhirnya keluar dari persembunyiannya dan angkat tangan  lalu menyerahkan diri.

Namun sungguh biadab, warga itu lebih menghargai nyawa ayam daripada nyawa seorang manusia. Ngadimun yang sudah menyerah langsung dikeroyok babak belur oleh warga dengan cara main hakim sendiri hingga nafas Ngadimun pun terputus seketika, terkapar bagai seekor tikus di sawah. Memilukan..!!!

Wahai Tuan Presiden, dan para pejabat negara beserta para elit parpol, saya menangis menulis artikel ini. Sebab ini adalah bukti, bahwa rakyat yang telah bersembunyi DALAM GELAP karena mencuri ayam masih dapat tertangkap, lalu mati dibunuh. Tetapi koruptor yang bersembunyi DALAM TERANG-BENDERANG, di atas meja pula, hingga kini masih juga belum tertangkap. Bahkan masih bebas menikmati hasil jerih payahnya sebagai koruptor perampas hak-hak rakyat.

Selamat hari Anti-Korupsi sedunia, 9 Desember 2013. ***

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Ruang Digital Kondusif Faktor Penting Jaga Stabilitas Ekonomi dan Politik

Rabu, 05 Agustus 2026 | 04:03

Dibungkam Maung Bandung 2-1, STY Sebut Pemain Persija Belum Maksimal

Rabu, 05 Agustus 2026 | 03:43

Kuliah Koperasi untuk Feri Amsari

Rabu, 05 Agustus 2026 | 03:18

Gagasan Anti-Penjajahan Soemitro jadi Modal Bangsa Hadapi Dinamika Global

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:55

BRI Gelar Kick-Off BRIncubator 2026 Songsong Akselerasi UMKM Naik Kelas

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:33

Ziarahi Makam Bung Karno, Muzani Tegaskan Indonesia Rumah Bersama

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:12

Penentu Tingkat Kesuksesan suatu Negara

Rabu, 05 Agustus 2026 | 01:43

Ikan Gabus Baik untuk Ibu Pascamelahirkan, Begini Penjelasannya

Rabu, 05 Agustus 2026 | 01:17

Indonesia-Thailand Makin Mantap Jaga Kawasan Selat Malaka

Rabu, 05 Agustus 2026 | 00:58

Utang Pinjol Warga RI Naik 25,88 Persen, Tembus Rp105 Triliun Hingga Juni 2026

Rabu, 05 Agustus 2026 | 00:30

Selengkapnya