Berita

Gita Indonesia Sorot Perang Siber RI-Australia

JUMAT, 06 DESEMBER 2013 | 09:39 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Paska terungkapnya penyadapan yang dilakukan Pemerintah Australia terhadap sejumlah petinggi RI telah memacing perang siber di antara peretas kedua negara. Para peretas Indonesia beramai-ramai menyerang situs-situs Australia, lalu dibalasan para peretas Australia dengan menyerang balik sejumlah situs Indonesia.

"Di era globalisasi ini, perang siber memang tak bisa dihindari. Indonesia juga merupakan pasar sekaligus pemain yang sangat potensial di dunia IT," ujar pengelola Kompasiana, Pepih Nugraha, dalam diskusi bertajuk "Memperjuangkan Indonesia di Dunia Maya" di Yogyakarta, kemarin.

Diskusi yang diselenggarakan Komunitas Gita Indonesia bersama Indonesia Cyber Defence Institute (ICDI) Yogyakarta ini menghadirkan narasumber lai yakni Immanuel More, pengamat politik Akar Rumput Strategic Consulting – (ARSC), dan Aat Sadewa, peneliti senior Indonesia Cyber Defence Institute (ICDI).


Pepih yang juga redaktur harian Kompas mengatakan saat ini perang non-konvensional seperti halnya perang siber harus menjadi salah satu kekuatan Indonesia.

"Apalagi anak-anak muda Indonesia cukup berbakat untuk menguasai sektor IT," katanya.

Imanuel More menilai kebangkitan partisipasi para peretas dalam isu-isu public tidak terhindarkan di era demokrasi. Menurutnya, keberadaan sosial media sebagai salah satu aspek keterlibatan publik menjadi signifikan ketika institusi-institusi demokrasi tidak bekerja baik dalam membela kepentingan nasional.

"Pada tingkat domestik, kebangkitan mereka terlihat ketika menyerang dan mengkritisi para pemimpin lokal atau nasional yang tidak becus dan tidak populer. Sementara, pada tingkat internasional, keterlibatan mereka muncul ketika melihat negara melemah saat membela kepentingan dan kebanggaan kita sebagai suatu Negara-bangsa," jelas More.

Bagi Aat Sadewa, negara sudah semestinya memperhatikan para pelaku perang siber di Indonesia. Pelaku siber juga sebaliknya untuk bisa menahan diri untuk tidak menyerang Negara lain.

"Sudah saatnya Negara mulai merangkul dan memfasilitasi kelompok-kelompok peretas dan pelaku perang siber untuk menyatukan kekuatan, agar mereka tidak bertindak sporadis dan partikularistik, serta agar energi mereka dialihkan justru untuk memperkuat sistem pertahanan IT Indonesia sendiri, bukan menyerang Negara lain," katanya.

Gita Indonesia adalah jaringan strategis masyarakat sipil organik yang bertujuan untuk mengadvokasi kepentingan nasional dari berbagai aspek khususnya di era globalisasi. Koordinator Gita Indonesia, Reza Pahlevi menyatakan, Gita Indonesia memulai gerakannya dari Yogyakarta mengingat Yogya adalah basis kekuatan kaum republiken. Gita Indonesia, katanya, juga merupakan bentuk dukungan komunitas-komunitas sipil organik terhadap sosok capres Gita Wirjawan yang dinilai membawa harapan baru bagi Indonesia.

"Gita Indonesia melihat bahwa Indonesia butuh pemimpin muda yang paham bagaimana memperjuangkan kepentingan nasional di era globalisasi. Kita butuh pemimpin yang mampu membawa kegemilangan Indonesia di era baru yang mampu melepaskan diri dari berbagai keterpurukan dan kompleksitas masa lalu khas politik kita," ujarnya.[dem]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

Sekjen MPR akan Evaluasi Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 18:17

UMKM Binaan Pertamina Catat Potensi Bisnis Rp10,6 Miliar di Inabuyer 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 18:12

40 Ormas Tolak Berkas Kasus Ade Armando Cs Dilimpahkan ke Polda Metro

Senin, 11 Mei 2026 | 18:10

Bos PSI Jatim Bagus Panuntun "Puasa Bicara" Setelah 10 Jam Digarap KPK

Senin, 11 Mei 2026 | 18:09

MPR Minta Maaf soal Juri Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar Bikin Gaduh

Senin, 11 Mei 2026 | 17:43

PTC Bukukan Laba Rp152,9 Miliar di Tengah Fluktuasi Industri

Senin, 11 Mei 2026 | 17:43

Warga Sitaro Minta Proses Hukum Bupati Chyntia Kalangin Berjalan Adil

Senin, 11 Mei 2026 | 17:42

Bus Terguling di Tol Sergai, Empat Penumpang Tewas

Senin, 11 Mei 2026 | 17:33

Keberanian Siswi Koreksi Juri LCC Patut Diapresiasi

Senin, 11 Mei 2026 | 17:17

Bank Mandiri Pertegas Komitmen Akselerasi UMKM Naik Kelas di Ajang Inabuyer 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 17:14

Selengkapnya