Berita

ilustrasi

Tangkap Dulu Boediono, Lalu Yudhoyono…

SELASA, 03 DESEMBER 2013 | 10:29 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Bailout Bank Century pada 2008 senilai Rp 6,7 triliun adalah rekayasa politik alasan “berdampak sistemik” yang digunakan adalah kebohongan yang nyata dan terkutuk.

Begitu disampaikan kelompok mantan aktivis mahasiswa angkatan 1977/1978 yang kemarin berkunjung ke MPR RI untuk menyampaikan aspirasi mengenai megaskandal danatalangan Bank Century itu.

Menurut mereka, otak perekayasa bailout Bank Century itu adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang menggunakan kekuasaannya sebagai Presiden RI dengan menerbitkan Perppu 4/2008.


"Sedang Boediono menyelewengkan kewenangannya ketika itu sebagai Gubernur Bank Indonesia untuk mengubah-ubah persyaratan Capital Adequacy Ratio (CAR) Bank Century hingga ke titik paling tidak masuk akal, hanya demi (seolah-olah) sahihnya Bank Century digelontori uang rakyat hingga Rp 6,7 triliun," Sukmadji Indro Tjahjono, motor Gerakan Aktivis 77/78 dalam keterangan yang diterima redaksi.

Indro dan kawan-kawannya meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak melakukan langkah konyol dan bertele-tele, serta segera menangkap dan menetapkan Wapres RI Boediono sebagai tersangka.

"Sehingga dengan demikian penegakkan hukum bisa segera melangkah ke Sdr. Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai orang paling bertanggungjawab atas pembobolan uang rakyat Rp 6,7 triliun itu," ujarnya lagi.

Langkah KPK yang bertele-tele dalam menangani skandal rekayasa bailout Bank Century, menurut hemat Indro, hanya menimbulkan kegaduhan politik dan menghabiskan energi rakyat Indonesia yang sedang dirundung derita panjang di hampir semua bidang kehidupan.

"Kami rakyat Indonesia sudah bosan dan muak menyaksikan para petinggi negeri ini, memamerkan keculasan dan kebohongannya tanpa rasa malu sedikitpun untuk melepaskan tanggungjawabnya atas skandal mega korupsi Bank Century," demikian Gerakan Aktivis 77/78. [dem]

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

KPK Panggil 13 Saksi Kasus Mantan Wamen Imipas Silmy Karim

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:22

Gugatan PT KSS, Ahli Nilai Keputusan Kemenhub Timbulkan Konsekuensi Hukum

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:21

Mengenal Taufik Hidayat, Lelaki Paling Kejam Abad Ini

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:12

Laporan HAM PBB Sebut Israel Sengaja Targetkan Anak-Anak Palestina

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:01

Jakarta 499 Tahun: Birokrasi Modern Belum Cukup Tanpa Perspektif HAM.

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:00

BKKBN: 8,1 Juta Keluarga di Indonesia Berisiko Stunting

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:41

Kisah Mantri Perempuan BRI Tempuh Pegunungan Toraja untuk Layani Nasabah di Wilayah 3T

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:29

Konbes–Munas NU Ploso Diwarnai Aksi Intimidasi dan Motif Kepentingan Pribadi

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:28

Prabowo Dianugerahi Lencana Emas Adi Bakti Tani-Nelayan Maha Utama

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:24

KPK Panggil Mulyono di Kasus Suap Bupati Muara Enim Edison

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:18

Selengkapnya